Kumparan Logo

CEO Bukalapak: Platform Digital yang Punya Power Jangan Eksploitasi Mitra!

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 1 menit

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rachmat Kaimuddin, CEO Bukalapak. Foto: Bukalapak
zoom-in-whitePerbesar
Rachmat Kaimuddin, CEO Bukalapak. Foto: Bukalapak

CEO PT Bukalapak, Rachmat Kaimuddin, mengharapkan industri digital terus diperbaiki seiring berjalannya waktu. Dia tidak menginginkan industri digital di Indonesia menjadi tidak sehat dengan adanya eksploitasi kepada ekosistem atau mitra.

"Ini kita sangat pengen industrinya sehat. Jangan sampai ada pelaku punya power lebih karena punya data, punya modal lebih juga, atau dia punya bisnis mobile yang mahal dia jadinya menggunakan powernya untuk eksploitasi kepada ekosistem atau mitranya dan sebagainya," kata Rachmat saat webinar yang digelar KPPU, Selasa (6/7).

Rachmat menginginkan semua pihak di ekosistem digital ini bisa berkembang semuanya. Untuk itu, ia mengharapkan adanya petunjuk atau peraturan yang menjelaskan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh platform digital.

Dengan adanya aturan main tersebut, pergerakan yang diambil bisa tepat dan tidak salah arah. Apalagi, ia menganggap secara umum industri digital di Indonesia juga cukup hebat.

Logo baru Bukalapak. Foto: Bukalapak

"Yang perlu dijaga adanya aturan main yang baik, yang adil, dan jelas, karena kita juga memang ini industri yang baru," ujar Rachmat.

Rachmat tidak menampik platform digital bisa disebut sebagai ruang publik yang bisa diakses siapa saja. Ia merasa kondisi tersebut harus ada yang mengawasi agar transaksinya juga bisa berjalan baik.

Rachmat menuturkan kapasitas di pasar digital juga bisa terus ditambah seiring perkembangan dan adanya investasi. Ia mengharapkan ada perlindungan juga dalam proses tersebut.

“Jadi udah dibangun platformnya tiba-tiba enggak ada perlindungannya sama sekali jadinya bisa membuat investasi kita di perusahaan teknologi bisa berkurang,” tutur Rachmat.