CEO QatarEnergy Bantah Pernyataan Menkeu AS soal Selat Hormuz 'akan Dilupakan'

Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad Al-Kaabi, membantah pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent yang menyebut Selat Hormuz akan 'dilupakan' dalam dua tahun ke depan.
Menurut Al-Kaabi, Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas, tetapi juga menjadi salah satu jalur utama perdagangan global secara keseluruhan.
“Saya rasa anggapannya salah. Mungkin itu adalah pandangan dia, tetapi menurut saya ini benar-benar salah,” kata Al-Kaabi dalam Qatar Economic Forum di New York, Minggu (20/9).
Sebelumnya, Bessent mengatakan Selat Hormuz akan semakin tidak penting karena sejumlah negara mulai membangun jalur pipa dan infrastruktur alternatif untuk menghindari selat tersebut.
“Dalam dua tahun, Selat Hormuz akan menjadi seperti perairan biasa, tidak bernilai,” kata Bessent pada 1 September 2026 di sela-sela pertemuan negara-negara G20.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi sangat penting bagi perdagangan energi dunia karena banyak pengiriman minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah melewati selat tersebut.
Qatar Tak Berencana Bangun Pipa Pengganti
Al-Kaabi mengatakan posisi Qatar berbeda dengan sejumlah negara lain yang mulai mencari jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Menurut dia, Qatar saat ini tidak memiliki rencana untuk membangun jaringan pipa baru yang memungkinkan pengiriman energi tanpa melewati selat tersebut.
“Kami sudah memutuskan untuk tidak membangun jaringan pipa, dan saya pikir keputusan Qatar didasarkan pada pertimbangan komersial dan teknis. Kami hanya akan menggunakan selat tersebut,” ujar Al-Kaabi.
Dia menilai perdagangan yang melewati Selat Hormuz tidak akan menjadi sesuatu yang usang atau kehilangan relevansinya.
“Jika Anda melihat perdagangan yang berlangsung melalui Selat Hormuz, hal itu tidak mungkin menjadi usang. Jika hal ini kembali dibicarakan, saya bisa mengulanginya kepada siapa pun bahwa saya tidak berpikir selat ini akan pernah menjadi tidak relevan,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika kawasan Timur Tengah tengah menghadapi gangguan perdagangan akibat perang Iran. Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama yang terdampak karena konflik tersebut menghambat lalu lintas perdagangan dan energi.
Berbeda dengan Qatar, sejumlah negara di kawasan mulai mempercepat pembangunan infrastruktur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Arab Saudi, misalnya, mempercepat investasi di pelabuhan-pelabuhan Laut Merah. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) tengah menjalankan strategi bernilai miliaran dolar yang dikenal sebagai “Zero Hormuz”, untuk mengembangkan jalur pengiriman yang dapat menghindari selat tersebut.
Namun, Menteri Perdagangan dan Industri Qatar Sheikh Faisal Al-Thani menilai pentingnya jalur laut dalam perdagangan global membuat Selat Hormuz tetap relevan.
“Faktanya, 90% dari seluruh pengiriman barang dilakukan melalui laut. Ini adalah persoalan diversifikasi,” kata Faisal.
