Cerita Erick Thohir Berburu Mesin PCR dari Swiss yang Bisa Kebut Tes Corona

Panjangnya masa pandemi akibat virus corona membuat setiap negara di dunia berupaya untuk terus bertahan menghadapi situasi ini. Salah satunya yakni dengan berupaya memenuhi kebutuhan baik itu bahan pokok maupun alat kesehatan yang dibutuhkan tim medis di negaranya dalam percepatan penanganan COVID-19.
Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menyampaikan soal betapa sulitnya tiap negara untuk mengupayakan ketersediaan alat medis, terutama alat pelindung diri (APD) dan alat tes yang di mana hampir seluruh dunia membutuhkannya dalam menghadapi pandemi corona.
Ia menyebut ada bentuk 'peperangan' antar negara untuk memastikan alat kesehatan itu dapat tersedia bagi paramedis.
"Kita tahu saat ini di dunia hampir semuanya negara bertempur dalam tanda kutip mencari alat-alat ini, mencari obat dan sebagainya, bahan baku obat dan sebagainya, dan alat PCR adalah salah satu yang dicari banyak pihak dan banyak negara karena bisa dijadikan alat uji tes apakah orang tersebut positif atau tidak," ujar Arya dalam keterangan persnya di kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (8/4).
Usaha mendapatkan alat kesehatan dan alat tes itu, menurut Arya berawal dari perintah Presiden Joko Widodo yang langsung menugaskan beberapa kementerian untuk mencari kebutuhan logistik terkait penanganan corona. Kementerian BUMN di bawah perintah Erick Thohir, kata Arya, pun mulai bergerilya mencari kebutuhan alat tersebut ke beberapa negara sahabat.
"Sekitar sebulan lalu atas inisiatif Pak Erick Thohir setelah ada petunjuk dari Pak Jokowi mencarikan alat yang memang menjadi sebuah kebutuhan bagi kita semua dan kebutuhan bagi proses yang untuk mengetahui bagaimana corona ini akan terjadi di Indonesia dan yang sangat penting adalah bagaimana apakah seseorang tersebut dia positif atau negatif terkena corona," ucap Arya.
Kedatangan alat rapid test asal China menjadi hasil awal dari pemerintah dalam memenuhi kebutuhan alat kesehatan di tengah pandemi corona ini. Meski pada awalnya dinyatakan memiliki kualitas baik, lambat laun alat rapid test tersebut makin berkurang jumlahnya.
Hal itu pun menurut Arya berdampak pada melambatnya sejumlah tes pada pasien corona di sejumlah laboratorium. Berangkat dari kelangkaan itu, Kementerian BUMN, berhasil bernegosiasi dengan perusahaan asal Swiss untuk menyediakan alat swab corona.
"Setelah sebulan lalu di-planning, Pak Erick Thohir meminta semua perangkat yang ada di bawahnya yaitu BUMN-BUMN dan sekitar 3 minggu lalu kita berhasil bernegosiasi dengan salah satu lab di Eropa yaitu Swiss, yaitu Roche, dan kita berhasil untuk bernegosiasi dan berhasil untuk beli alat," beber Arya.
Alat detektor PCR asal Swiss itu yang berhasil didatangkan itu terdiri dari 2 unit Magnapure 96, kemudian 2 unit Lightcycle 480, dan 13 unit Lightcycle 96.
Alat itu diklaim Arya dapat melakukan test hingga 300 ribu spesimen hanya dalam jangka waktu satu bulan. Arya pun berharap dengan datangnya alat itu dapat meringankan kerja paramedis di Indonesia khususnya dalam upaya pengetesan dan pemeriksaan terkait corona.
"Kita akan bisa dalam sebulan kita akan mencapai hampir 300 ribu, 300 ribu orang yang sudah dites sehingga ini bisa mengejar, mengejar orang yang bisa dites dengan alat PCR kepastian bahwa orang tersebut terkena corona atau tidak," kata Arya.
"Dengan alat ini kita harapkan Indonesia akan semakin bisa mendata berapa banyak orang yang akan terkena corona sehingga antisipasi kita untuk menghadapi corona akan semakin baik," tutupnya.
