Cerita Para Kolektor Vinyl-Kaset Pita, Rela Rogoh Kocek Mahal Demi Musik Vintage
18 Mei 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 9 menit
Cerita Para Kolektor Vinyl-Kaset Pita, Rela Rogoh Kocek Mahal Demi Musik Vintage
Vinyl dan kaset pita banyak diburu, semakin langka semakin dicari meski harganya selangit. Seperti cerita para kolektor dari berbagai generasi.kumparanBISNIS

ADVERTISEMENT
Keberadaan musik fisik berupa piringan hitam atau vinyl sampai kaset pita ternyata masih memiliki tempat di hati para penggemarnya. Hingga saat ini, dua jenis musik fisik tersebut juga masih memiliki harga mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah.
ADVERTISEMENT
Meski saat ini vinyl dan kaset pita menjadi tren di kalangan anak muda kelahiran 2000-an atau Generasi Z, nyatanya musik fisik tersebut juga masih mendapat tempat di hati Generasi X sampai Generasi Milenial utamanya bagi mereka yang ingin nostalgia dengan era kejayaan musik fisik.
Aga (45) seorang karyawan swasta di Jakarta yang kini memiliki 2 ribuan keping vinyl membagikan ceritanya. Terkait hobinya tersebut, dia mengungkap sudah mulai mengoleksi vinyl sejak era 1990-an yang diawali lewat vinyl ‘lungsuran’ dari pamannya.
Saat dia mulai bekerja di era 2000-an, dia mulai suka blusukan mencari dan membeli vinyl di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat. Menurut ceritanya, saat itu vinyl hanya bisa didapati di sana. Harga vinyl ketimbang kaset cakram (CD) pun disebut lebih murah di era itu bahkan bisa dibeli dengan harga Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribuan per keping vinyl.
ADVERTISEMENT
“Jadi saya kalau habis gajian tuh ke Jalan Surabaya, dengan uang Rp 100 ribu tuh bisa dapat banyak pelatnya,” kata Aga kepada kumparan, Selasa (13/5).
Menurut Aga, suara vinyl dapat membuatnya merasa ‘enjoy’ saat menikmati musik. Meski suara dari vinyl menurutnya tidak sesempurna CD, ketidaksempurnaan tersebutlah yang membuatnya jatuh cinta dengan vinyl.
Dengan faktor inflasi yang ada, untuk saat ini Aga membeberkan kocek yang Ia rogoh untuk membeli vinyl dalam sebulannya bisa mencapai jutaan rupiah.
“Bisa ngabisin Rp 3-5 juta lah buat beli pelat (kepingan vinyl), ini karena sekarang sebagai pekerja kantoran, ada gaji bulanan. Tapi dulu tuh waktu saya masih kerja freelance jauh di bawah Rp 3 juta,” cerita Aga.
Meski kini dia berani merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk mendapatkan vinyl, Aga bercerita Ia memiliki masa di mana keuangannya masih terbatas tapi keinginan untuk membeli vinyl tetap ada. Dalam kondisi tersebut, Aga biasanya blusukan ke Blok M dan mencari vinyl dengan harga ratusan ribu rupiah.
ADVERTISEMENT
Saat ini, koleksi Aga berasal dari vinyl baru maupun vinyl used atau bekas. Ketika mencari vinyl, dia juga mengaku sering menggunakan dua metode yakni mencari vinyl dengan belanja online atau blusukan langsung ke toko vinyl. Meski begitu, blusukan ke toko vinyl punya kesan tersendiri.
“Kalau beli langsung kan kita enggak tahu kita bakal dapet apa, gitu. Jadi keseruannya tuh ada di situ, hari ini gue dapet (vinyl) apa nih ya? Kadang ke Blok M kadang ke Pasar Santa,” ujarnya.
Harga Vinyl Baru Mengalami Kenaikan
Terkait harga vinyl baru, Aga mengungkap memang ada kenaikan harga dari sebelum pandemi dan setelah pandemi. Sebelum pandemi, Ia masih bisa mendapat harga vinyl baru yang merupakan harga resmi dari label di kisaran Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu namun kini harganya semakin naik.
ADVERTISEMENT
Naiknya harga vinyl baru menurutnya juga disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Ia menceritakan beberapa faktor tersebut meliputi harga bahan baku vinyl yang naik sampai kelangkaan pabrik pencetak vinyl itu sendiri.
“Sebelum pandemi tuh dengan uang Rp 2 juta bisa dapat 3 atau bahkan 4. Kalau sekarang dengan duit segitu paling cuma dapet 2 pelat,” ujarnya.
Selain vinyl baru, dia juga mengungkap ada beberapa vinyl bekas atau used yang sudah tidak memiliki master tape khususnya vinyl musisi lokal. Untuk vinyl seperti itu, harganya sudah cukup tinggi saat ini bahkan hingga mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu vinyl yang saat ini sudah tidak memiliki master tape dan harganya mahal adalah vinyl Badai Pasti Berlalu yang memuat karya Chrisye, Berlian Hutauruk sampai Eros Djarot.
ADVERTISEMENT
“Ada yang mau ngegetok harga sampai Rp 35 juta bahkan saya pernah lihat ada yang mau jual Rp 60 juta. Mereka punya hak untuk menaikkan harga karena memang langka. Kalau emang orangnya belagu gitu ya. Lo mau apa? Emang lo enggak ada pilihan lain gitu,” lanjutnya.
Dengan adanya beberapa vinyl yang tak lagi memiliki master tape, dia menyadari persoalan penyimpanan master tape vinyl menjadi masalah yang perlu disoroti di Indonesia.
“Berapa ratus atau berapa ribu album yang mungkin tidak akan pernah bisa di re-press lagi karena master tape-nya tidak ada. Master tape-nya sudah hilang dan saya enggak ngeliat ada solusinya sih buat itu. Itu susah banget sih. Sedih bange,” tutur Aga.
ADVERTISEMENT
Vinyl Bisa Jadi Investasi
Selain Aga, kumparan juga sempat ngobrol dengan Rio Andrianto (30) yang saat ini merupakan kolektor dan konten kreator vinyl lewat akun TikToknya @rio.andrianto.
Terkait vinyl, Rio mengungkap mulai jatuh cinta kepada vinyl di tahun 2019. Ketika itu, hal yang membuatnya jatuh cinta dengan vinyl adalah album Liztomania dari Fourtwnty. Menurutnya vinyl lebih menarik ketimbang CD karena medianya yang besar dan dapat dijadikan pajangan.
“Dengar musik pakai album fisik spesifik vinyl bisa kasih kita full experience ketika dengar musik, bukan sekadar telinga yang dengar suara, tapi mata bisa melihat secara visual cover dan piringannya, lalu bisa sentuh piringannya, harus keluarin dari cover-nya, taruh di turntable, taruh jarumnya, baru bisa denger lagu,” ceritanya.
ADVERTISEMENT
Saat ini, selain sebagai barang koleksi, Rio juga melihat vinyl sebagai salah satu barang koleksi yang bisa dijadikan alat investasi. Hal ini karena tak sedikit harga vinyl bekas yang justru lebih mahal di pasar barang bekas ketimbang di vinyl di pasar retail.
“Contohnya album Hindia yang harga barunya Rp 600 ribuan, di second market sekarang bisa Rp 5 jutaan, satu lagi album yang baru dari Bernadya harga second sudah Rp 1 juta hingga Rp 2 juta dari harga baru juga Rp 600 ribuan,” kata Rio.
Koleksi vinyl Rio sekarang didominasi vinyl-vinyl baru namun masih ada beberapa vinyl lama yang merupakan vinyl dengan lagu kesukaan. Total Ia memiliki sekitar 40 keping vinyl.
ADVERTISEMENT
Terkait gaya belanja vinyl, Rio mengaku tidak setiap bulan membeli vinyl. Meski demikian, dia punya alokasi budget ratusan ribu per bulannya untuk membeli vinyl.
“Tapi memang ada alokasi budget khusus untuk beli vinyl sekitar Rp 600 ribu per bulan, ya meskipun kadang juga overbudget kalo lagi ada banyak rilisan album bagus,” ujarnya.
Dalam mengoleksi vinyl, Rio juga mengungkap pengeluaran lain yang diperlukan selain untuk membeli kepingan vinyl. Keperluan tersebut adalah membeli beberapa alat pendukung seperti turntable sampai speaker.
“Buat dapetin peralatan ini mudah, bisa beli online atau datang langsung ke tokonya. Saya prefer beli baru secara online, karena waktu itu belum banyak pengetahuan jadi mengurangi risiko kalo beli barang second, dan beli online karena lebih simple dan cepat aja,” cerita Rio.
ADVERTISEMENT
Mewujudkan Keinginan Lama
Cerita lain juga datang dari Ryan (28) yang saat ini merupakan karyawan swasta di Jakarta. Ia mulai mengoleksi vinyl sejak 2023, salah satu alasannya karena sebenarnya Ia sudah memiliki keinginan untuk ‘main’ vinyl sejak cukup lama sejak masih menjadi mahasiswa.
Namun keinginan tersebut baru bisa dicapai ketika Ryan memiliki pemasukan sebagai seorang pekerja.
“Pelan-pelan belinya kalau emang yang mau aja, ya itulah baru terealisasi gitu pas ada rezekinya. Intinya pas bukan kebutuhan primer ya jadi kayak kalau ada duit lebih aja,” kata Ryan.
Untuk mendapat peralatan awal di luar kepingan vinyl seperti turntable, Ryan mengungkap Ia memanfaatkan jejaring media sosial salah satunya komunitas di Facebook. Ia pun memilih turntable dan amplifier bekas yang bisa Ia dapat dengan harga yang lebih terjangkau.
ADVERTISEMENT
“Di grup jual beli audio gitu dan harganya agak lumayan lebih terjangkau sih. Kalau di forum gitu bisa ditawar kan, terus kayak ada seninya, seni nyari barang itu seru juga,” ujarnya.
“Speaker gue tuh dapet murah sekitar Rp 400 ribuan, padahal harganya normalnya tuh bisa di atas Rp 1 juta karena kebetulan ada yang jual butuh uang. Amplifier juga sama dapat murah di bawah Rp 1 juta Sekitar Rp 800 ribuan an. Terus turntable di sekitar Rp 3 jutaan deh. Itu termasuk murah juga,” lanjutnya.
Sejak 2023, kini Ryan sudah memiliki sekitar 10 keping vinyl. Ia tak mengalokasikan budget khusus untuk membeli vinyl setiap bulannya. Ryan mengaku hanya membeli vinyl yang Ia suka. Maka dari itu, agar tidak boros Ia juga melakukan kurasi dengan membuat list vinyl yang Ia inginkan.
ADVERTISEMENT
“Yang paling mahal tuh Rp 700 ribuan, yang paling murah Rp 450 ribuan. Jadi kita beneran kurasi banget biar enggak boros juga ya. Jadi Kayak ngeles aja vinyl-vinyl, album-album apa yang wajib gue beli,” cerita Ryan.
Ikut Saran Ibu, Terjebak di Kaset Pita
Beralih dari vinyl ke kaset pita, kumparan juga sempat menemui Azhar (25) yang merupakan seorang kolektor kaset pita. Saat ditemui di basement Blok M, Jakarta Selatan yang merupakan salah satu ‘surga’ vinyl dan kaset pita di Jakarta, Azhar juga berbagi cerita mengenai awal mulanya menyukai kaset pita.
Awalnya, sebagai Generasi Z yang sudah akrab dengan musik di platform digital, Azhar mengalami kebuntuan dengan eksplorasinya untuk musik digital di mana platform biasanya hanya memberi rekomendasi musik berdasarkan algoritma yang sudah tersusun. Atas saran dari Ibunya, akhirnya Azhar memberanikan diri untuk mencoba kaset pita sejak 2023.
ADVERTISEMENT
“Dikasih tau lah sama nyokap cobain deh main kaset segala macam, akhirnya main kesini (Blok M) nyobain gitu,” cerita Azhar.
Dengan permulaannya mencoba kaset pita, Azhar mendapati rasa seru dari pengalamannya blusukan dan berinteraksi dengan beberapa pedagang langganannya di Blok M. Salah satu toko yang menjadi tempat Azhar berlabuh untuk mengeksplorasi musik fisik di sana adalah Andi Twins Musik milik Andi yang sudah hampir 25 tahun berjualan kaset pita.
Meski demikian pengeluarannya untuk belanja kaset pita tidak menentu. Meski begitu kisarannya masih ada di ratusan ribu rupiah per bulan.
“Tergantung kasetnya sih soalnya. Mungkin bisa dari kayak Rp 300 ribu sampai Rp 700 ribuan. Karena kan kita nyari sudah tau dulu judulnya, mau beli apa aja, sudah ada wishlist-nya, jadi tergantung barangnya ada apa enggak,” ujarnya.
Jika pemain vinyl membutuhkan turntable, Azhar hanya membutuhkan walkman kecil untuk mengeksplorasi kaset pita. Untuk walkman yang Ia miliki sekarang, Ia mengungkap harganya juga masih cukup terjangkau di Rp 250 ribuan.
ADVERTISEMENT
Selain hobi koleksi kaset pita, terkadang Azhar juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk menjual kaset pita jika Ia sudah bosan dengan kaset tersebut.
