Kumparan Logo

Cerita Pedagang: Elektronik Impor Lebih Banyak Diburu Dibanding Lokal

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Barang elektronik di pasar Glodok. (Foto: Elsa Toruan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Barang elektronik di pasar Glodok. (Foto: Elsa Toruan/kumparan)

Produk elektronik impor masih menjadi primadona yang banyak diburu oleh para pembeli. Salah satunya produk Air Conditioner (AC) di kawasan toko elektronik Glodok, Jakarta Barat.

Adapun merek AC yang menjadi andalan menurut pedagang ialah AC Daikin yang berasal dari Thailand.

“Yang paling banyak dicari kalau AC itu Daikin dari Thailand, itu harganya mulai Rp 3.240.000 bisa kejual 3 sampai 4 unit. Kalau yang impor ada Mitsubitshi dari China tapi lebih laku Daikin, kalau lokal jarang juga paling ada Panasonic tapi jarang,” ujar salah seorang pedagang, Yuli kepada kumparan di lokasi, Jumat (7/9).

Menurut Yuli, kelebihan AC impor seperti Daikin lebih tahan lama dan kualitas dinginnya yang baik.

“Ya emang agak mahal dikit sih, tapi lebih adem,” katanya.

Tak hanya AC, produk impor lain seperti kulkas dan dispenser di tokonya juga lebih cepat laku terjual.

“Kulkas paling laris ukuran 300 liter yang Hitachi, kalau dispenser ada Midea yang dari China. Sehari paling 1 atau 2, ya tetap AC sih yang paling tinggi,” imbuhnya.

Penjualan AC dan Dispenser di kawasan Glodok (Foto: Dok. Nurul Nur Azizah)
zoom-in-whitePerbesar
Penjualan AC dan Dispenser di kawasan Glodok (Foto: Dok. Nurul Nur Azizah)

Menurut Yuli, pembeli yang tertarik pada produk elektronik impor kebanyakan berasal dari kalangan rumah tangga atau kantor di Jakarta.

“Ya orang Jakarta sini sih, mereka bisa telepon langsung ke sini,” kata Yuli.

Pedagang lain, Topan juga membenarkan jika penjualan produk impor elektronik masih jadi pilihan pelanggan.

“Kebetulan saya juga yang megang online, nah itu juga kebanyakan emang yang dicari Daikin, ya kualitasnya sih, kalau kulkas Hitachi itu bisa tahan 12 jam meski mati lampu, itu sih keunggulannya,” tutur Topan.

Topan mengaku, penjualan lewat online dalam sehari bisa mencapai 5 sampai 6 unit.

“Tapi kita ada penambahan harga sekitar Rp 200.000 kalau online untuk pengiriman dan lain-lain, tapi lumayan sih,” lanjutnya.

Terkait penetapan tarif pajak barang impor yang bakal pemerintah terapkan baik Yuli atau pun Topan mengaku mengikuti apa langkah pemerintah.

“Belum tau sih kalau itu, tapi ikut aja, yang penting jangan sampai terlalu membebani pedagang, saya tunggu cara apa aja ya nanti buat menghadapi ke depan,” pungkas Yuli.