Cerita Penenun di Sumut Tekun Jaga Kualitas Produksi hingga Bisa Ekspor
·waktu baca 5 menit

Di tengah krisis tenaga kerja dan semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik menekuni kerajinan tradisional, para penenun yang tersebar di wilayah Sumatera Utara (Sumut) tetap mampu menjaga kualitas produksi dan menembus pasar internasional atau ekspor.
Nurwahida, penenun asal Kabupaten Deli Serdang, Sumut, mulai beralih ke tenun songket Melayu sejak 2014 setelah mempelajari sejarah Deli Serdang dan karakter masyarakatnya yang identik dengan budaya Melayu. Wanita yang akrab disapa Ihwa itu menuturkan, masih ada sejumlah tantangan dalam berdagang kain tenun, terutama terkait keterbatasan SDM dan proses produksi yang sangat teknis dan memakan waktu.
“Karena kalau tenun ini prosesnya banyak, itu tuh (contohnya) 3.200 benang itu harus dimasukkan satu-satu, jadi rumit pengerjaannya. Barangkali itu juga bisa jadi minat (orang) untuk kesitunya nggak ada,” kata Ihwa kepada wartawan di sela acara Pembinaan Wastra Warna Alam BCA di Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara, Kamis (6/11).
Menurut Ihwa, tantangan lain juga terletak di proses produksi, karena butuh waktu yang lama. Setiap kain, misalnya, membutuhkan proses panjang dari awal penggulungan benang hingga tahap menenun yang melibatkan ribuan helai benang. Meski demikian, ia menyebut akses pendanaan relatif terbuka.
“Insyaallah (permodalan) nggak sulit. Bahkan banyak yang menawar ya, beberapa mereka datang sendiri (untuk memodalkan),” ujar Ihwa.
Ihwa membeberkan untuk produk berbahan sutra, tenun bisa mencapai Rp 6 juta hingga Rp 8 juta, sementara kain berbahan katun dijual mulai sekitar Rp 350 ribu. Adapun tenun dengan pewarna alami dibanderol mulai Rp 1,9 juta, sementara pewarna sintetis masih memiliki rentang harga lebih terjangkau.
Ihwa menyampaikan pembeli terbesar tenun Melayu sejauh ini datang dari komunitas Melayu, sementara pasar luar negeri seperti Malaysia sudah mulai melirik motif Melayu. Kelompoknya juga pernah mengirimkan produk ke Kuching, Sarawak, serta mengikuti pameran di Jepang, meski belum dalam skala besar.
“Kita ekspor belum pernah yang besar, tapi kita pernah ekspor sendiri. Kita sampai ke Kuching, Sarawak, Malaysia, kita pernah (ikut) event di Jepang,” sebut Ihwa.
Ihwa menyebut omzet kelompoknya bisa mencapai Rp 25 juta hingga Rp 50 juta per bulan, dengan melibatkan sekitar 23 orang penenun. “Kita ada 23 (penenun) karena pembuatannya kan lama, satu kain bisa selesai seminggu,” tutur Ihwa.
Menurut Ihwa, pasar tenun Batak dan Melayu memiliki segmennya masing-masing. Di Medan, motif Batak disebut lebih diminati, sedangkan di Jakarta konsumen cenderung memilih motif Melayu dengan warna-warna lembut. Ia menjelaskan perbedaan mencolok keduanya terletak pada teknik dan kompleksitas.
“Kalau motif Batak itu angkatannya kan hanya 4 (proses) Kalau Melayu dia 51, lebih rumit. Jadi beda cara membuatnya,” ucapnya.
Penenun lain, Eka Malia dari Kabupaten Batu Bara, Sumut, membenarkan bahwa keterbatasan SDM masih menjadi tantangan dalam upaya memperluas pasar, termasuk ke mancanegara. Menurutnya, banyak masyarakat khususnya generasi muda yang masih menganggap proses menenun rumit sehingga kurang tertarik terjun ke profesi tersebut.
“(Generasi muda) tentu malas buat (tenun) ini. Mengerjakan kain tenun itu butuh waktu dan ketelitian, kesadaran, itu mungkin belum mereka miliki. Masih belajar, mudah-mudahan nanti bisa hadir di dirinya ya,” tutur Eka dalam kesempatan yang sama.
Eka menyatakan produknya sudah menembus pasar Malaysia dan Singapura, meski masih dalam bentuk pengiriman berskala kecil atau pesanan pribadi. Ia melihat pasar internasional mulai menunjukkan ketertarikan pada wastra berkelanjutan dan yakin potensi pasarnya kuat.
“Walaupun (ekspor) belum skala besar, Masih hand carry oleh-oleh atau kirim-kirim dua helai, lima helai, sampai tujuh helai. Jadi potensial sekali,” ungkap Eka.
Pengiriman rutin dilakukan setiap enam bulan karena proses produksi yang memakan waktu dan biaya logistik yang cukup tinggi. Menurut Eka, aktivitas menenun telah memberdayakan sekitar 23 perempuan di wilayahnya dan memberi kontribusi signifikan untuk ekonomi rumah tangga.
“Itu sangat berpengaruh kepada perekonomian ibu-ibu di sana (Batu Bara),” kata Eka.
Ia menuturkan proses pembuatan kain dilakukan sepenuhnya oleh tangan atau handmade, dimulai dari benang hingga menjadi motif utuh. Di tempatnya, harga tenun berkisar mulai sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 6 juta untuk kain berukuran 2 meter.
“Saya sudah melihat juga beberapa customer, calon customer itu, mereka suka sama kain-kain yang sustainable gitu kan, mendukung keberlanjutan. Itu sih salah satu yang kita targetkan sekarang,” sebut Eka.
Ihwa dan Eka merupakan salah kedua dari 32 penenun yang mengikuti program oleh PT Bank Central Asia (Tbk), yaitu pembinaan pembuatan wastra berbahan pewarna alami. Program yang berfokus pada teknik pewarnaan alami kain songket tersebut kali ini dilaksanakan Medan, Sumatra Utara.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan program yang telah memasuki tahun ketiga ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi para perajin, tetapi juga mendorong pelestarian budaya serta praktik ramah lingkungan melalui penggunaan pewarna alami.
“Kami juga ingin memberdayakan warisan peradaban budaya Indonesia agar tidak punah. Tadi bisa lihat ada (penenun) yang masih berumur 20, 22 tahun, jadi generasi muda itu harus memiliki pride sebagai bagian Indonesia,” kata Hera, dikutip Kamis (6/11).
Berlangsung pada 4-6 November 2025, kegiatan ini melibatkan peserta yang didampingi para ahli dari Perkumpulan Warna Alam Indonesia (Warlami), organisasi yang berfokus pada pengembangan teknik pewarnaan alami.
“Kita akan monitoring terus (pembinaannya), karena periode (pelaksanaan) kita itu kan tidak jangka pendek, tapi tahunan. Jadi nanti kita lihat hasilnya seperti apa, akan kita evaluasi dan perbaiki apa yang harus kita tambah,” jelas Hera.
Hera berharap program ini akan memberikan pelatihan sesuai kebutuhan pasar dan memberi dampak ekonomi dengan membuka peluang penjualan di berbagai acara korporasi mereka.
