Kumparan Logo

Cerita Pengusaha Furniture Banting Setir Produksi Peti Mati di Tengah Pandemi

kumparanBISNISverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suherman (45) dan Ari Rusmawan (32) menyiapkan peti mati yang akan disumbangkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Rabu (8/4). Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Suherman (45) dan Ari Rusmawan (32) menyiapkan peti mati yang akan disumbangkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Rabu (8/4). Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Penjualan peti mati meningkat saat pandemi COVID-19. Situasi ini dimanfaatkan pengusaha furniture untuk memfokuskan pada permintaan peti mati.

Frans Henrik yang merupakan salah satu pengusaha furniture di Tangerang Selatan menceritakan awal mula memulai produksi peti mati. Semula ia hanya memproduksi peti jenazah dan barang-barang furniture biasa.

Henrik yang telah berpengalaman selama 30 tahun menjadi pengusaha furniture kesal pada saat saudara iparnya kehabisan peti mati untuk COVID-19. Hal ini membuatnya berpikir untuk memulai memproduksi peti mati COVID-19.

“Membuat peti murah. Nah pada saat Pak Amin dan besan meninggal beliau tidak mendapat peti yang layak, akhirnya dari situ kami mulai memproduksi peti mati,” katanya kepada kumparan, Kamis (18/2).

Saat ini pandemi pesanan peti mati makin menjadi, dalam sehari ia mampu memproduksi 150-200 peti per hari. Untuk mampu memproduksi peti mati sebanyak itu, pihaknya menggunakan mesin serta sistem dua shift pegawai setiap hari.

Petugas yang mengenakan APD membawa peti berisi jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Srengseng Sawah, Jakarta, Senin (25/1). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

“Jumlah itu berbanding dibanding sebelum pandemi, 150-200 peti per bulan,” tambahnya.

Bahkan ia mengakui ada sebagian pegawainya yang terlalu capek bekerja hingga tipes.

“Tim kami lembur, ada yang sampai tipes kecapean karena permintaan tinggi sekali,” imbuhnya.

Ia mematok harga peti mati dari Rp 850 ribu hingga Rp 10 juta per peti dengan ukuran standar atau panjang 190 centimeter (cm) x 60 cm x 40 cm. Ada 200 pegawai yang saat ini tengah bekerja di pabriknya.

Frans tak menutup kemungkinan jika ke depan permintaan tinggi akan membuat sistem sistem shift 3 kali per hari. Menurut catatannya, permintaan paling tinggi pada bulan Oktober hingga Januari 2021.

“Dari sebelumnya 75 unit per hari, jadi 200 peti per hari,” ungkapnya.