Cerita Penumpang yang Tingginya 210 Cm, Kesulitan Masuk Pintu LRT Jabodebek
·waktu baca 2 menit

Pintu LRT Jabodebek menuai keluhan dari para penumpang karena dinilai terlalu pendek, terutama bagi orang yang tingginya di atas 180 cm. PT KAI (Persero) memiliki alasan mengapa pintu tersebut dibuat pendek.
kumparan menemukan salah satu penumpang LRT Jabodebek yang tingginya mencapai 210 cm. Penumpang bernama Tito tersebut mencoba naik LRT Jabodebek di hari peresmian, Senin (28/8).
Tito mengakui kesulitan untuk masuk dan keluar LRT Jabodebek karena tinggi badannya. Namun, dia menilai pintu moda transportasi tersebut memang terlalu pendek untuk masyarakat umum.
"Kalau ini sih kayaknya iya (terlalu pendek), tapi kalau saya sendiri sih maklum karena saya sendiri berlebih, ini kayaknya kelewat pendek, (LRT) yang di Kelapa Gading jauh lebih tinggi dari ini," ujarnya.
Manager Publik Relation Divisi LRT Jabodebek, Kuswardoyo, mengakui pintu yang pendek ini disesuaikan dengan ukuran LRT yang kecil, bahkan jauh lebih kecil jika dibandingkan KRL commuter line.
Dia menjelaskan pintu kereta yang dianggap terlalu pendek sudah didesain sebaik mungkin oleh produsen PT INKA dan sudah disesuaikan dengan lebar dan panjang kereta tersebut.
"Pintu kereta yang dianggap terlalu pendek sudah didesain sebaik mungkin oleh produsennya PT INKA dan sudah disesuaikan dengan lebar dan panjang kereta tersebut," jelasnya saat dihubungi kumparan, Senin (4/9).
Meski begitu, Kuswardoyo tidak bisa menjelaskan apakah ukuran pintu ini bisa disesuaikan atau tidak, karena hal tersebut adalah tanggung jawab PT INKA (Persero) sebagai produsen kereta LRT Jabodebek.
Ditemui terpisah, Wakil Menteri BUMN II Rosan Roeslani memastikan tujuan utama pemerintah dan KAI adalah keselamatan dan kenyamanan penumpang yang akan terus ditingkatkan dan dievaluasi.
"Ini kan LRT ini adalah suatu hal yang baru yang kita mulai perkenalkan kepada masyarakat secara keseluruhan, kita juga terus evaluasi terus menerus dan juga menampung masukan dari masyarakat," tuturnya.
