Kumparan Logo

Cerita PKL di Gondangdia Tetap Jualan saat Hujan Abu Vulkanik Anak Krakatau

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas pedagang kaki lima di sekitar Stasiun Gondangdia, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas pedagang kaki lima di sekitar Stasiun Gondangdia, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Belasan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, tetap membuka lapak dan melayani pembeli seperti biasa pada Selasa (8/9), kendati abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau sempat menyelimuti sejumlah wilayah Jakarta dua hari terakhir.

Aktivitas jual beli di kawasan tersebut tetap ramai. Namun para pedagang dan pembeli sebagian besar terlihat mengenakan masker sebagai bentuk kewaspadaan.

Salah satu pedagang yang tetap bertahan berjualan saat hujan abu vulkanik melanda adalah Agus, penjual cilok yang sudah menetap di sekitar Stasiun Gondangdia sejak 2020.

Agus mengetahui pemberitaan soal erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang sampai ke Jakarta, namun hal itu tidak membuatnya menghentikan aktivitas jualan.

“[Waktu ada abu vulkanik] masih [jualan]. Semuanya masih aktif, jualan semua, tapi masker harus pakai,” katanya kepada kumparan di Stasiun Gondangdia, Selasa (8/9).

Aktivitas pedagang kaki lima di sekitar Stasiun Gondangdia, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Untuk melindungi dagangannya, Agus memasang payung dengan posisi rendah tepat di atas panci cilok miliknya. Sehingga makanan tetap terjaga meski penutup panci dalam kondisi terbuka. Cara sederhana itu cukup ampuh menjaga kepercayaan pembeli.

“Ini saya pendekin payungnya. Aman, gak ada [pembeli yang khawatir]” ucapnya.

Meski demikian, kekhawatiran tetap menyelinap di benak Agus. Ia mengaku cemas jika erupsi susulan terjadi dan abu vulkanik kembali turun di sekitar lokasinya berjualan. Sebab hal itu dapat berdampak pada kualitas dagangan sekaligus perekonomiannya.

“Takutnya debunya masuk ke dalam [makanan] ada komplain pembeli. Kita ntar akhirnya ke belakangnya jadi sepi,” tuturnya.

Selama dua hari terakhir berjualan, Agus mengaku tidak melihat abu vulkanik turun secara langsung, meski ia sempat mendapati debu menempel di bagian atas payungnya. “Di atas payung, ada debu,” katanya.

Tak jauh dari lapak Agus, Maman juga tetap setia menjajakan siomay di depan masjid dekat Stasiun Gondangdia. Ia memilih terus berjualan meski abu vulkanik sempat menyelimuti Jakarta. Ia mengantisipasi dengan mengenakan masker selama beraktivitas dan menyiapkan masker cadangan di gerobaknya.

“[Pembeli] biasa aja. Gak ada apa-apa. Ini (masker) disiapin, kemaren jualan pake masker,” kata Maman.

Petugas Dinas Lingkungan Hidup melakukan penyemperotan dalam penanganan dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (8/9/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Menurutnya, penggunaan payung di atas gerobak bukan hal baru yang dilakukan khusus karena abu vulkanik, melainkan kebiasaan sehari-hari untuk melindungi dagangan dari debu maupun dedaunan yang jatuh.

Ia menyebut kondisi abu vulkanik tidak membuat pembeli siomaynya khawatir, termasuk saat berjualan pada Senin (7/9).

“Pembeli gak takut biasa aja. Gak ada pengaruh, kemarin (Senin) gak ada debu,” ucapnya.

Maman menambahkan, hingga kini belum ada imbauan dari pihak masjid tempatnya berjualan untuk menghentikan aktivitas dagang. Ia juga tak terlalu mengkhawatirkan kemungkinan erupsi susulan. Karena baginya, penggunaan masker sudah menjadi bentuk antisipasi yang cukup.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada Jumat (5/9) hingga Sabtu (6/9) sempat melontarkan material vulkanik ke udara, yang kemudian terbawa angin ke sejumlah daerah seperti Lampung, Jakarta, Tangerang, Bekasi, hingga Bogor dan Sukabumi.

BMKG mencatat, berdasarkan citra satelit, sebaran abu vulkanik sudah tidak lagi masuk ke wilayah Jakarta per Senin (7/9) pukul 21.00 WIB.