Kumparan Logo

Cerita Pramugari Garuda yang Dirumahkan, Beralih Jualan Masker hingga Buah

kumparanBISNISverified-green

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seragam baru pramugari Garuda Indonesia rancangan Anne Avantie. Foto: Garuda Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Seragam baru pramugari Garuda Indonesia rancangan Anne Avantie. Foto: Garuda Indonesia

Sekar, perempuan berusia 26 tahun itu bercerita kepada kumparan bahwa dirinya jadi salah satu pramugari yang dirumahkan sejak akhir Maret 2020. Keputusan itu diambil manajemen Garuda Indonesia lantaran maskapai terkena dampak merebaknya virus corona.

Sekar yang seharusnya genap 2 tahun bekerja di maskapai itu pada bulan April, diputus kontraknya bersama setidaknya 100 rekannya yang lain. Status sebagai karyawan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) membuatnya tak mampu berbuat banyak menolak kebijakan tersebut.

Ia mengaku hingga saat ini masih belum sepenuhnya bangkit dari nasib nahas yang menimpa dirinya itu. Akan tetapi, dirumahkan tanpa pesangon mau tidak mau membuatnya mencoba alternatif lain agar kebutuhan hidupnya tetap terpenuhi.

Sekar mengatakan, dua minggu setelah dirumahkan ia mulai berjualan masker kain secara online. Ia mafhum, mencari pekerjaan lain di tengah pandemi bukanlah hal mudah.

Sejumlah masker dijemur sebelum dibagikannya secara gratis di sekitar lingkungan tersebut , di tengah penyebaran wabah penyakit virus corona, di Tangerang. Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

Usaha yang niat awalnya itu hanya untuk membantu teman-temannya yang butuh masker, kini justru cukup mampu menambal kebutuhan hariannya.

"Waktu itu masker mahalnya selangit dan susah didapat, kemudian bantuin teman-teman buat dapat masker dengan harga murah. Lama-lama, membeludak yang minta, karena ada kesempatan sekalian buat ngebantu kelanjutan hidup yang ternyata semua uang di tabungan sudah menipis banget dan lumayan untung sehari bisa buat makan hari itu," ujar Sekar kepada kumparan, Rabu (6/5).

Ia kemudian menceritakan, jadwal terbang bersama Garuda Indonesia itu sebetulnya sudah mulai dikurangi sejak akhir tahun 2019, jauh sebelum virus corona merebak. Hal itu juga yang menjadi salah satu penyebab keuangannya mulai menipis, hingga semakin buruk setelah berstatus pengangguran.

Sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan bakal kehilangan pekerjaan yang ia sukai itu. Atas keyakinan itu, Sekar tidak pernah berpikir untuk memiliki keahlian atau usaha lain.

"Karena lebih dari 2 tahun dihitung dari waktu training di sana, aku enggak pernah kerja sampingan apapun lagi. cuma fokus ke pramugari karena ngerasa ini nih kerja terakhir sampai tua," ujar Sekar.

Pesawat Garuda Indonesia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kini situasinya justru berbeda, ia bahkan mencoba berbagai usaha lainnya. Selain berjualan masker, Sekar juga mulai berbisnis buah bersama teman pramugari lain yang juga dirumahkan.

Sekar mengaku banyak rekan-rekannya yang terkena kebijakan serupa mengalami nasib yang hampir sama. Sebagian masih menganggur, memutuskan untuk pulang, atau memilih untuk mencoba berjualan seperti dia.

"Jualan buah kebetulan aku juga sama teman dekatku sesama pramugari. Beberapa pramugari yang sama-sama diangkat dan dipecat balik ke kampung mereka, ada yang balik ke rumah orang tua. Ada yang jual makanan bikinan teman-teman, dia bantu jualin," ujarnya.

Terkait adanya pengakhiran kontrak bagi karyawan berstatus PKWT ini, dibenarkan oleh Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra. Tanpa merinci berapa banyak karyawan yang terkena, Irfan mengatakan saat ini manajemen terus mengevaluasi dampak COVID-19 itu.

"Iya, PKWT kita tidak perpanjang. Kita terus evaluasi situasi, pesawat banyak yang grounded tapi kita masih mencoba bertahan," ujar Irfan kepada kumparan, Rabu (6/5).