Kumparan Logo

Cerita Sardji Sarwan, Sulap Minyak Jelantah Jadi Biodiesel B80

kumparanBISNISverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengolahan biodiesel di Bank Sampah Ramah Lingkungan binaan Pertamina EP di Kel. Kampung Enam, Tarakan, Kalimantan Utara. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengolahan biodiesel di Bank Sampah Ramah Lingkungan binaan Pertamina EP di Kel. Kampung Enam, Tarakan, Kalimantan Utara. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Minyak jelantah yang acapkali dibuang sebagai limbah, bisa disulap menjadi produk bernilai guna di tangan Sardji Sarwan. Yakni diolah menjadi bahan bakar biodiesel B20, B50 dan B80.

Sardji Sarwan adalah seorang pensiunan karyawan BUMN yang sejak 2003 bergiat di bidang pengelolaan sampah. Kala itu, ia mengolah sampah secara mandiri untuk digunakan sebagai kompos.

Sekitar lima tahun berselang, Sardji kemudian membuat depo pengelolaan sampah bersama organisasinya, KSM Ramah Lingkungan yang beralamatkan di Gang Sumeru, Gunung Santape RT 2 Kelurahan Kampung Enam, Tarakan Timur.

Biodiesel yang diolah di Bank Sampah Ramah Lingkungan binaan Pertamina EP di Kel. Kampung Enam, Tarakan, Kalimantan Utara. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Di tahun 2016, Sardji kemudian mulai mengembangkan pengolahan minyak jelantah. Sebab, banyak masyarakat yang membuang dengan sembarangan, padahal menurutnya minyak jelantah itu masih bernilai ekonomis.

“Saya ingin budaya masyarakat berubah mengolah sampah. Sumber limbah yang mereka hasilkan tapi dibuang ini yang kemudian membawa saya studi banding ke Bogor (pengolahan minyak jelantah),” ujar Sardji ketika ditemui di Tarakan, Kalimantan Utara, Rabu (20/11).

Dari studi bandingnya ke Bogor itu, ia mendapati harga mesin untuk mengolah minyak jelantah berkisar Rp 200 juta, belum termasuk biaya instal. Tapi kemudian ia memilih untuk menciptakan inovasi alat pengolahan minyak jelantah sendiri.

“Bikin habis Rp 60 juta, itu empat alat untuk pengolahan biomassa, biogas, bioetanol dan biodiesel yang didesain sendiri,” terang lelaki berusia 68 tahun itu.

Tempat Produksi Kelompok Bank Sampah Ramah Lingkungan Binaan Pertamina EP di Kel. Kampung Enam, Tarakan, Kalimantan Utara. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Sardji dan kawan-kawan lantas menguji coba untuk membuat bahan bakar B20. Tak berselang lama, B50 juga bisa dihasilkan. Hingga saat ini, pihaknya telah bisa memproduksi B80.

Prosesnya, Sardji melibatkan masyarakat kelurahan sekitar untuk menukarkan minyak jelantah dari limbah rumah tangga. “Sistemnya, 5 liter minyak jelantah itu, ditukarkan ke kita jadi 1 liter minyak bersih (baru),” ucapnya.

Minyak jelantah yang menjadi bahan baku tersebut, kemudian diproses dengan campuran bioetanol dengan soda api. Sekali produksi, kapasitas mesin biodiesel itu bisa menghasilkan 200 Liter. “Sehari bisa dua kali proses kalau ada bahan bakunya,” kata dia.

Biodiesel yang dihasilkan itu, kemudian dijual sebagai bahan bakar mesin pencacah, penghidup genset hingga dibawa ke tapal batas oleh PT Pertamina (Persero).

“Kita jual Rp 11 ribu per liter, B50. Bisa lebih murah, kalau di luar bisa Rp 11.800-an. Sedangkan yang B80 masih buat sendiri belum dijual,” ucap dia.

Biodesel yang diolah kelompok Bank Sampah Ramah Lingkungan binaan Pertamina EP di Kel. Kampung Enam, Tarakan, Kalimantan Utara. Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan

Hingga saat ini, ia mengaku pengembangan B80 untuk proses komersial masih belum dilakukan. Pasalnya, selain butuh uji coba namun juga ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi. “Operasional, safety, dan juga izinnya kan,” katanya.

Ia menekankan, orientasi pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel itu bukan saja soal meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. Namun, juga mengedukasi soal pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Laba masih kecil tapi yang jelas kami sudah sanggup membayar personel Rp 2 juta, mulai kerja jam 8-12 siang sekarang ada sekitar 9 orang,” ujarnya.

KSM yang dipelopori Sardji kini melayani sekitar 13 RT yang berada di Kampung Enam.