Cerita Sri Mulyani Bangun Toleransi di Lingkungan Kemenkeu

Isu keberagaman dan toleransi masih menjadi sebuah tantangan bagi masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, ras dan budaya. Isu-isu tersebut juga muncul di level pemerintahan tak terkecuali di lingkungan Kementerian Keuangan.
Sebagai pimpinan utama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dirinya pun harus ikut terjun langsung agar isu keberagaman tak menimbulkan ketegangan antar-ASN.
Salah satu cara jitu yang diterapkan Sri Mulyani adalah dengan membuka wadah-wadah percakapan antar-ASN di lingkungan Kementerian Keuangan.
“Perlu membuka percakapan. Memahami perbedaan di antara kita sendiri. Membuat ruang percakapan itu perlu dilakukan,” ujar Sri Mulyani di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Kamis (19/12).
Sri Mulyani mengakui, di lingkungan Kementerian Keuangan, terdapat ASN-ASN berpenampilan identik dengan agama tertentu. Menurutnya, meski secara pribadi dirinya tak melarang cara penampilan tersebut, namun tak dipungkiri bahwa penampilan itu menimbulkan persepsi berbeda bagi ASN lain.
“Indentitas yang beragama Islam, misalnya berjenggot dan celana cingkrang. Kemudian interaksinya menjadi eksklusif, terkotak. Tapi juga ada ketegangan. Implementasi religisitas di dalam birokrasi menimbulkan ketenangan dan ketegangan,” ujarnya.
Untuk itulah, menurut Sri Mulyani, perlu adanya wadah komunikasi agar antarpihak bisa saling menyuarakan pendapatnya. Sri Mulyani menceritakan, pertemuan dan diskusi soal keberagaman tersebut pernah benar-benar terjadi di kalangan eselon I dan II. Bahkan Sri Mulyani sendiri yang memimpin dialog tersebut.
Saat itu, masing-masing pihak diberi ruang untuk berpendapat dan menyuarakan persepsi mereka.
“Its just amazing dengan reaksi mereka. Mulanya dia tidak mau bicara, tapi saya sodorin mic. That kind conservation itu muncul, saya tanyakan ke yang celana cingkrang. Saya juga tanyakan ke yang nonmuslim soal persepsi mereka. Meski painful dan energi saya habis terkuras, lebih capek daripada ngurusin keuangan negara tapi saya puas dengan dialog tersebut,” cerita Sri Mulyani.
Bahkan demi menjaga toleransi, Sri Mulyani juga mengeluarkan beberapa aturan misalnya tentang etika toleransi dan menjaga sikap.
“Toleransi itu harus dengan sosialisasi enggak hanya ceramah, namun melakukan percakapan bagaimana perbedaan dialami dan disikapi,” tandasnya.
