kumparan
24 September 2018 7:57

Cerita Sukses Goa Pindul yang Dulu Hanya Dipakai untuk Mandikan Sapi

Obyek wisata Goa Pindul, Gunungkidul yang dibina BCA
Obyek wisata Goa Pindul, Gunungkidul yang dibina BCA (Foto: Resya Firmansyah/kumparan)
Mulai tahun 2013, salah satu obyek wisata di Kabupaten Gunung Kidul, Goa Pindul, naik daun. Adapun popularitas Goa Pindul tak lepas dari keunikan wisatanya, yakni menyusuri aliran sungai pada gua dengan menggunakan ban pelampung.
ADVERTISEMENT
Namun siapa sangka, aliran sungai obyek wisata yang dikelola oleh Karang Taruna Desa Bejiharjo itu, ternyata dahulu hanya dipakai untuk memandikan ternak seperti sapi. Selain itu, terkadang goa tersebut digunakan pula mencuci piring.
“Ya dulu cuma dipakai untuk memandikan sapi, kadang-kadang dipakai buat cuci piring juga,” kata Ketua Karang Taruna Desa Bejiharjo Gunungkidul, Yudan Hermawan, kepada kumparan, Senin (24/9).
Dia membeberkan, ide pemanfaatan Goa Pindul muncul pada tahun 2011 saat pemuda setempat bertemu dengan warga sekitar Goa Pindul. Ketika itu pemuda setempat memandang, Goa Pindul memiliki potensi diminati wisatawan.
Adapun ide itu digulirkan untuk menambah kesejahteraan masyarakat sekitar Goa Pindul. Menurut Yudan sebelum Goa Pindul menjadi obyek wisata, masyarakat hanya mengandalkan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
“Mayoritas penduduk desa sini petani, tapi petani di sini susah, Gunungkidul terkenal kekeringannya. Pemudanya pengangguran, susah cari kerja. Banyak pemuda yang merantau karena ini. Akhirnya setuju ini (pemanfaatan Goa Pindul),” ucapnya.
Atas dasar hal tersebut, Karang Taruna Desa Bejiharjo mulai menjadi pengelola Goa Pindul Gunungkidul sejak 26 September 2011. Menurut dia pada tahun 2011-2012, omzet yang berhasil dicatatkan pengurus mencapai Rp 75 juta per tahun.
Obyek wisata Goa Pindul, Gunungkidul yang dibina BCA
Obyek wisata Goa Pindul, Gunungkidul yang dibina BCA (Foto: Resya Firmansyah/kumparan)
Dia bercerita di tahun 2012, Bank Central Asia (BCA) menjadikan Karang Taruna Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunung Kidul menjadi salah satu desa binaan sektor pariwisata. Yudan menjelaskan, setelah BCA hadir, pengelolaan Goa Pindul menjadi semakin baik.
Adapun bantuan yang diberikan berupa pemasangan mesin Electronic Data Capture (EDC), beragam pelatihan dan soft skill mengenai manajemen pariwisata,serta bantuan pengembangan sarana wisata seperti pendopo, joglo pengunjung, hingga toilet.
ADVERTISEMENT
“Infrastruktur dan pelatihan yang dikasih agar wisatawan mau berkunjung, kami juga mulai melakukan pengembangan wisata. BCA masih membina kami sampai sekarang,” ujar Yudan.
Dia pun mengungkapkan mulai 2013, pelayanan di Goa Pindul tak hanya susur sungai saja, melainkan merambah pada bisnis kuliner, homestay, hingga penyewaan jeep. Hal itu dilakukan agar wisatawan terus mau berkunjung, meski sudah pernah.
“Kalau di awal 2011-2012 yang terlibat pemuda, setelahnya ibu-ibu juga kami berdayakan untuk mengurus pengembangan itu tadi. Jadi masyarakat desa bisa menikmati,” bebernya.
Yudan menambahkan setelah layanan itu dikembangkan, omzet yang diperoleh pada 2012-2013 mencapai Rp 350 juta. Pun kemudian mulai 2013-2015, omzet yang didapatkan pengelola mencapai Rp 1,5 miliar. 2016-2017, omzet dari Goa Pindul capai di atas Rp 2 miliar.
ADVERTISEMENT
“Sekarang itu ada 200 pemuda yang terlibat, dan 40 ibu-ibu PKK. Mereka dapat penghasilan di atas UMR. Karena itu, sekarang banyak pemuda asli sini yang dulu merantau, sekarang mau pulang ke Gunungkidul,” ujar Yudan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan