Kumparan Logo

Cerita Zulhas Dipuji Jokowi karena Surplus Perdagangan RI: Siapa Dulu Mendagnya

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Zulkifli Hasan di Istana Bogor. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Zulkifli Hasan di Istana Bogor. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengaku dirinya disanjung oleh Presiden Jokowi atas capaian surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2022 yang mencapai USD 54,46 miliar. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

"Sampai Pak Presiden mengatakan, siapa dulu dong Mendagnya," kata Zulhas dalam pembukaan Raker Kementerian Perdagangan Tahun 2023, Rabu (1/3).

Mendag mengatakan, negara tujuan ekspor Indonesia saat ini didominasi oleh beberapa negara. Namun Kementerian Perdagangan telah melakukan perluasan pasar dengan membuat perjanjian-perjanjian dagang.

Selain itu, Kementerian Perdagangan juga melakukan upaya penyederhanaan regulasi-regulasi yang menghambat perdagangan, di mana regulasi tersebut mengatur pengenaan tarif.

"Contoh saya baru pulang dari Arab Saudi. Dagang kita dengan Arab Saudi itu kecil padahal hubungan Indonesia dengan Arab Saudi itu sudah 1.000 tahun. Kenapa kecil, karena banyak hambatan, kalau kirim barang ke sana banyak tarifnya. Tarifnya banyak. Pajaknya ini, waduh hambatannya banyak," ujarnya.

Untuk itu, Kementerian Perdagangan membuat perjanjian-perjanjian dagang dengan negara global. Salah satu yang disebut Zulhas berhasil adalah terbentuknya perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Presiden Joko Widodo bersama Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan hadiri Rakornas PAN di Hotel Padma Semarang, Minggu (26/2/2023). Foto: DPP PAN

"Yang sudah kita selesaikan ASEAN, makannya ASEAN naik. Hubungan kita dengan Malaysia tinggi, hampir USD 10 miliar. Filipina tadi surplusnya USD 11 miliar. Hebat kan. USD 11 miliar itu hampir Rp 200 triliun. Dengan Malaysia hampir Rp 160 triliun," ujar Zulhas.

Saat ini pekerjaan rumah Kementerian Perdagangan adalah menyederhanakan regulasi perdagangan di dalam negeri. Menurut Zulhas, regulasi yang terlalu rumit akan menambah biaya perdagangan.

"Jadi pala dari Lampung mau dibawa ke Semarang jangan susah. Durian dari Lampung dibawa ke Jawa jangan sulit. Nanas mau dibawa ke Jawa jangan susah, harus bebas. Eropa saja bebas dagangnya, ASEAN saja bebas, masak sesama Indonesia saja susah, ini yang kita beresin," pungkas dia.