Kumparan Logo

China-AS Sepakat Turunkan Tarif, RI Tetap Perlu Mitigasi Lonjakan Impor

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (2/1/2021). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (2/1/2021). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Pemerintah China dan Amerika Serikat (AS) sepakat menurunkan tarif impor, sebagai hasil pembicaraan intensif kedua negara yang dilaksanakan di Jenewa, Swiss.

Produk-produk asal AS yang masuk ke China kini dikenakan tarif sebesar 10 persen, turun dari sebelumnya 125 persen. Sementara barang-barang dari China ke AS dikenai tarif 30 persen, turun dari 145 persen.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, mengatakan perlu dilihat lebih lanjut dampak penurunan tarif impor AS kepada China ini tetap menyulitkan perdagangan antar kedua negara.

Jika ekspor barang China ke AS atau sebaliknya tetap dipersulit, maka Indonesia, sebagai salah satu negara importir potensial, tetap harus mewaspadai lonjakan barang impor.

"China tentu akan mencari pasar-pasar yang setidaknya cukup besar untuk menampung produk-produk ekspor mereka. Dalam hal ini, secara geografis dan secara kebijakan regulasi, tidak cukup proteksionis, Indonesia sangat cocok dengan itu," jelas Andry saat dihubungi kumparan, Selasa (13/5).

Dengan demikian, Andry meminta pemerintah mengerahkan langkah mitigasi agar arus impor barang dari China yang sulit menembus pasar AS, tidak membengkak ke Indonesia.

instagram embed

"Jadi tentunya dalam hal ini kita berharap bahwa pemerintah juga memberikan semacam upaya mitigasi jika hal-hal ini terjadi. Salah satunya adalah bagaimana kita bisa memproteksi pasar domestik kita," tuturnya.

Andry melihat tren dalam 2 tahun ke belakang, impor barang dari China cukup besar jika dibandingkan dari AS. Hal ini juga melihat tren neraca perdagangan Indonesia ke China yang umumnya defisit, berbeda dengan AS yang cenderung surplus.

"Selama 2 tahun terakhir kita tahu bahwa pasar domestik kita sudah mulai dikuasai oleh produk-produk impor dari China. Tentunya ini akan menjadi besar peluangnya manakala China kesulitan untuk masuk ke pasar Amerika Serikat," ujarnya.

Sementara itu, Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan keputusan tersebut dapat menandakan bahwa ketegangan perang dagang mulai mereda. Hal ini bisa mengurangi potensi lonjakan impor barang ke Indonesia yang enggan dikenakan tarif jumbo jika diekspor ke AS.

"Pasti Indonesia juga mendapat manfaat dari ketegangan global yang berkurang, dan potensi limpahan barang China ke Indonesia juga berkurang," katanya.

Wijayanto juga meminta agar pemerintah tidak melunak saat negosiasi dengan AS, sehingga kesepakatan penetapan tarif impor tidak lebih buruk dari negara lain termasuk China.

"Tim negosiasi harus hati-hati, jangan terlalu cepat menyepakati deal, jangan sampai deal kita lebih buruk dari negara-negara lain, kita harus ingat bahwa tren AS dan Trump mulai melemah dan melunak," tegasnya.