Kumparan Logo

China Krisis Pasokan Batu Bara Kokas hingga 2027, Impor Tetap Tinggi

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Geliat tambang batu bara tertua di China. Foto: REUTERS/Aly Song
zoom-in-whitePerbesar
Geliat tambang batu bara tertua di China. Foto: REUTERS/Aly Song

Pasokan batu bara kokas (coking coal) di China diperkirakan masih terbatas hingga 2027. Kondisi ini dipicu oleh pemulihan produksi domestik yang berjalan lambat setelah kecelakaan tambang mematikan di Provinsi Shanxi pada Mei 2026.

Kondisi tersebut membuat China diperkirakan tetap bergantung pada impor batu bara kokas untuk memenuhi kebutuhan industri baja. Pasokan dari Mongolia, Australia, dan Rusia memang membantu menutup kekurangan, tetapi belum mampu sepenuhnya menggantikan penurunan produksi domestik.

Bloomberg Intelligence (BI) memperkirakan normalisasi pasokan batu bara kokas di Shanxi baru akan terjadi pada paruh pertama 2027.

"Pasokan batu bara kokas Shanxi diperkirakan akan pulih secara bertahap pada kuartal IV setelah adanya perubahan regulasi, tetapi normalisasi penuh kemungkinan baru terjadi pada paruh pertama 2027," kata analis BI, termasuk Ortis Fan, dikutip dari Bloomberg, Rabu (23/9).

Impor China Masih Tinggi

Data bea cukai China menunjukkan impor batu bara kokas pada Agustus 2026 mencapai 13,1 juta ton. Angka tersebut memang turun 4% dibandingkan puncak impor pada Juli, tetapi masih 29% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Volume impor Agustus juga masih mendekati rekor yang tercatat pada Desember 2025. Berdasarkan Customs General Administration, tren impor batu bara kokas China yang secara umum meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah berada di kisaran 4-8 juta ton per bulan pada 2022, impor meningkat dan beberapa kali menembus 10 juta ton per bulan sejak 2024.

Seorang pria mengendarai sepeda roda tiganya melewati menara pendingin dan cerobong asap dari pembangkit listrik tenaga batu bara di Beijing, China. Foto: David Gray/REUTERS

Pada 2025 hingga 2026, volume impor bahkan beberapa kali berada di atas 10 juta ton per bulan. Posisi Agustus 2026 yang mencapai 13,1 juta ton menunjukkan permintaan impor masih relatif kuat meski telah turun dari level tertinggi pada Juli.

Pemerintah China melalui National Development and Reform Commission (NDRC) telah meminta percepatan pembukaan kembali tambang-tambang yang sebelumnya dihentikan setelah kecelakaan di Shanxi. Tambang dengan tingkat risiko lebih rendah juga didorong untuk kembali beroperasi demi menjaga pasokan batu bara.

Namun, pemulihan produksi belum berjalan cepat. Survei Mysteel pada 16 September menunjukkan masih ada 75 tambang batu bara kokas yang tutup di Shanxi, dengan total kapasitas produksi tahunan hampir 73 juta ton.

Shanxi merupakan salah satu pusat produksi batu bara terbesar di China, termasuk batu bara kokas yang menjadi bahan baku penting industri baja.

Harga Mulai Turun

Prospek meningkatnya produksi domestik China, ditambah kondisi margin industri baja yang melemah, mulai memberikan tekanan terhadap harga batu bara kokas.

"Pada September, hanya sekitar 7% pabrik baja yang masih mencatat keuntungan. Kemampuan mereka untuk menyerap harga batu bara kokas yang terus tinggi sudah mencapai titik kritis," kata Simon Wu, konsultan senior Wood Mackenzie.

Tambang Ulan Coal dekat kota pedesaan Mudgee di New South Wales tengah di Australia, 8 Maret 2018. Foto: David Gray/REUTERS

Harga batu bara kokas berjangka di Dalian sempat ditutup pada 1.729 yuan atau sekitar Rp 4 juta per ton pada 31 Agustus, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Namun, setelah itu harga telah turun sekitar 12% menjadi 1.523,5 yuan per ton.

Meski harga mulai terkoreksi, ketatnya pasokan domestik diperkirakan membuat kebutuhan impor China tetap tinggi hingga tahun depan.

Sementara itu, harga kontrak berjangka bijih besi di Singapura, bahan baku utama produksi baja, terakhir diperdagangkan sedikit menguat di sekitar USD 96,55 per ton.

instagram embed