Kumparan Logo

China Ubah Kebijakan Ekonomi dengan Andalkan Teknologi, Apa Dampaknya ke RI?

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang pekerja menggunakan masker menyelesaikan produksi kaus kaki di pabrik daerah Deqing Huzhou, Zhejiang, China. Foto: China Daily / via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pekerja menggunakan masker menyelesaikan produksi kaus kaki di pabrik daerah Deqing Huzhou, Zhejiang, China. Foto: China Daily / via REUTERS

Pemerintah China akan mengubah arah pola pertumbuhan ekonomi dari mengandalkan konsumsi dan infrastruktur ke teknologi canggih atau high tech. Hal ini pun diperkirakan akan berdampak bagi perekonomian domestik.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) Bank Indonesia (BI) Erwindo Kolopaking mengatakan, China nantinya akan bersaing dengan negara-negara maju dengan mengandalkan teknologi, seperti chip. Hal ini dinilai memiliki efek ganda yang kecil bagi negara berkembang, seperti Indonesia.

"Tapi high tech ini multiplier-nya sangat kecil, terutama untuk negara-negara kawasan seperti kita," ujar Erwindo saat media gathering di Raja Ampat, Papua Barat, Sabtu (11/11).

Menurut dia, bahkan sektor teknologi tersebut baru berdampak ke perekonomian Indonesia selama 2-3 tahun berikutnya. Ini justru berbeda dengan pola ekonomi China saat ini yang menguntungkan Indonesia, seperti infrastruktur dan ekspor barang kelas bawah.

"Impact-nya baru akan terasa nanti 2-3 tahun lagi. Itu adalah rencana ke depan Tiongkok terkait dengan Indonesia, sehingga kita melihat memang pada akhirnya inilah dua faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi melambat," jelasnya.

instagram embed

Menurut Erwindo, ada sejumlah alasan China mengubah arah pola ekonomi negaranya yang selama menjadi tumpuan Asia. Salah satunya karena keterbatasan fiskal.

Alasan lainnya adalah China tak lagi bisa mengandalkan ekspor sumber daya alam (SDA) dari negara berkembang. Sejak pandemi, stok impor komoditas China dinilai masih melimpah, sehingga pemerintah China masih menahan impor SDA.

"Ketika stok mereka masih banyak, impor-impor mereka sebelumnya, mereka enggak akan beli, kecuali aktivitas ekonominya naik lagi, dipergunakan lagi oleh mereka, baru kemudian pasti demand-nya akan naik," tambahnya.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan tingkat pertumbuhan ekonomi China pada 2023 sebesar 5,2 persen dan 4,5 persen pada 2024. Namun, angka ini bisa lebih rendah mengingat adanya kontraksi di sektor real estate.

IMF meminta China untuk mengatasi kepercayaan konsumen pada sektor real estate, dengan membiayai penyelesaian apartemen yang telah dibayar oleh pembeli daripada menalangi para pengembang yang bermasalah.

Ekonomi China menghasilkan sekitar sepertiga dari pertumbuhan global tahun ini. Menurut IMF, tingkat pertumbuhan China penting bagi Asia dan global.