CIMB Niaga Raup Laba Bersih Rp 1,7 Triliun Pada Kuartal I 2024

PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) berhasil membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 1,7 triliun. Nilai tersebut tumbuh 5,94 persen secara tahunan atau year on year (YoY).
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, mengatakan perolehan laba bersih ini diiringi dengan jumlah penyaluran kredit yang naik sebesar 6,6 persen YoY menjadi Rp211,6 triliun.
"Terutama berasal dari pertumbuhan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang naik 9,4 persen YoY dan perbankan konsumer yang tumbuh 6,9 persen YoY," kata Lani dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (1/5).
Adapun kenaikan tertinggi di kredit atau pembiayaan retail terutama dikontribusikan dari pertumbuhan Kredit Pemilikan Mobil (KPM) yang meningkat sebesar 15,8 persen YoY.
Namun perseroan mampu menjaga kualitas kreditnya. Hal ini terlihat dari rasio non performing loan (NPL) CIMB Niaga yang membaik, dengan rasio NPL gross yang turun dari 4,71 persen menjadi 4,20 persen hingga kuartal I 2024.
CIMB Niaga juga berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 248 triliun, tumbuh 3,3 persen YoY. Sementara perolehan dana murah atau rasio current account and savings account (CASA) tumbuh 8,9 persen YoY.
Lebih lanjut, total aset konsolidasian adalah sebesar Rp 333 triliun per 31 Maret 2024. Sedangkan posisi permodalan dan likuiditas yang solid dengan capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) masing-masing sebesar 24,5 persen dan 84,2 persen.
Dari sisi pendapatan bunga bersih, CIMB Niaga mencatat telah mencapai Rp 3,28 triliun, turun 3,8 persen YoY dari Rp 3,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan pendapatan bunga bersih ini disebabkan membengkaknya beban bunga sebesar 31,28 persen YoY dari Rp 1,95 triliun menjadi Rp 2,56 triliun pada Kuartal I 2024.
Alhasil rasio margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) terlihat menyusut dari 73,95 persen menjadi 72,80 persen per Maret 2024.
Meski demikian, CIMB Niaga semakin efisien dalam menjalankan operasionalnya. Hal ini tercermin dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang menurun dari 73,95 persen menjadi 72,80 persen di kuartal I 2024.
"Pencapaian ini mencerminkan komitmen kami untuk terus memberikan profitabilitas yang berkelanjutan dan memperkuat keyakinan kami terhadap prospek positif untuk sisa tahun ini," kata Lani.
