Kumparan Logo

Citibank Indonesia Catat Laba Bersih Rp 1,1 Triliun di Kuartal III 2022

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Citibank. Foto: REUTERS / Lucy Nicholson
zoom-in-whitePerbesar
Citibank. Foto: REUTERS / Lucy Nicholson

Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) atau Citibank Indonesia melaporkan perolehan laba bersih senilai Rp 1,1 triliun pada kuartal III tahun 2022, meningkat 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi, mengatakan peningkatan ini terutama disebabkan oleh lebih rendahnya biaya cadangan kerugian penurunan nilai kredit di lini Institutional Banking.

"Kami terus membukukan kinerja keuangan yang sehat dan kuat sampai dengan Kuartal III di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Di saat yang bersamaan, kami juga melihat perkembangan yang positif terhadap momentum bisnis dan kualitas aset," tutur Batara pada konferensi pers ‘Pemaparan Ekonomi dan Kinerja Keuangan Citi Indonesia Kuartal III 2022’ di Alila Hotel, Kamis (10/11).

Portofolio kredit Citi Indonesia mengalami penurunan sebesar 4,6 persen, terutama berasal dari lini bisnis Institutional Banking. Total aset Citi Indonesia pada kuartal tiga tahun 2022 meningkat sebesar 8,3 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp 95,2 triliun.

Ilustrasi Citibank Foto: Flickr

Pertumbuhan ini didukung kualitas dana pihak ketiga yang berkelanjutan, di mana pertumbuhannya sebesar 10,2 persen. Sementara Gross Non-Performing Loan (NPL) Citi Indonesia berada pada posisi yang stabil yaitu sebesar 3,30 persen.

Pangsa pasar Citi Indonesia tumbuh double-digit di kuartal ketiga 2022, terutama pada segmen pasar Asia-ke-Asia yang meningkat 12 persen sampai akhir kuartal III yoy.

"Pangsa pasar naik dari Asian Market 12 persen terutama dari China, Taiwan, dan Jepang sampai Q3," ujarnya.

Batara juga menyebutkan performa consumer banking sudah beroperasi seperti biasa. Sebelumnya, akibat pandemi, servis perbankan terbatas pada servis online saja karena pembatasan sosial, namun sekarang dengan melandainya jumlah kasus COVID-19, aktivitas sudah kembali seperti sebelum COVID.