Citibank Indonesia Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5 Persen pada 2025
·waktu baca 4 menit

Citibank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahun penuh 2025 akan tumbuh mencapai 5 persen. Sementara untuk tahun 2026, proyeksi pertumbuhan ekonomi bisa meningkat menjadi 5,2 persen.
Chief Economist Citibank Indonesia, Helmi Arman menjelaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 4,9 persen.
“Dari sekitar 5 persen tahun ini menjadi 5,2 persen atau sedikit lebih tinggi pada 2026,” kata Helmi dalam acara Citi Data Centre Day 2025 di The Langham, Jakarta Pusat pada Senin (26/10).
Untuk kuartal III tahun ini, Helmi memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dibanding kuartal II yang tercatat sebesar 5,12 persen.
Dia mencatat sejumlah pelemahan konsumsi domestik pada bulan Agustus dan September membuat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III menyusut dibanding kuartal sebelumnya.
“Jadi kelihatannya karena lebih sedikit dana nganggur sekarang seharusnya kuartal IV ada perbaikan,” ujar Helmi usai acara.
Untuk tahun ini, Helmi melihat masih ada tantangan utamanya dari serapan tenaga kerja dan arus investasi yang masuk di Indonesia.
Ia menuturkan sepuluh tahun lalu setiap setiap investasi sebesar Rp 1 triliun bisa menciptakan sekitar 4.000 lapangan kerja. Sementara sekarang, jumlahnya hanya sekitar 1.000–1.500 lapangan kerja per Rp1 triliun investasi.
“Namun, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia yang setiap tahun menambah sekitar 2–3 juta tenaga kerja baru,” ujarnya.
Terkait tantangan investasi, Helmi menuturkan arus investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia memang melambat dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum pandemi, FDI ke Indonesia biasanya setara dengan 2,5 persen dari PDB. Namun pada kuartal terakhir tahun 2025, nilainya turun menjadi sekitar 1,2 persen dari PDB.
“Jadi, ada penurunan signifikan dari 2,5 persen menjadi 1,2 persen. Memang, secara global, arus FDI sedang bergeser, dan situasinya cukup menantang,” kata Helmi.
Sementara tantangan jangka pendek tahun ini, Helmi melihat politik anggaran menjadi salah satu tantangan utamanya dalam masa transisi politik. Hal ini juga menyebabkan penyerapan anggaran pemerintah belum berjalan optimal.
Optimisme Peningkatan Pertumbuhan di 2026
Untuk proyeksi peningkatan pertumbuhan ekonomi di 2026 menjadi 5,2 persen, Helmi menjelaskan terdapat beberapa faktor yang mendukung.
Dari sisi fiskal, Helmi melihat Menteri Keuangan baru yakni Purbaya Yudhi Sadewa memiliki kecenderungan untuk lebih agresif dalam menggunakan dana yang belum terserap di berbagai kementerian/lembaga untuk kegiatan stimulus spending. Selain itu, keberadaan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai terealisasi juga menjadi faktor.
Dari sisi moneter, Helmi melihat dorongan yang lebih kuat karena The Fed telah menghentikan kenaikan suku bunga dan mulai menurunkannya. Hal ini mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga.
Ia juga memproyeksi BI masih akan melakukan penurunan suku bunga hingga akhir tahun 2025.
“Kami memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga hingga ke level 4,25 persen atau sekitar dua kali pemangkasan lagi sampai akhir tahun,” kata Helmi.
Selain itu, Helmi juga menyebut dorongan lain adalah adanya peningkatan likuiditas perbankan akibat pergerakan dana pemerintah dari rekening di BI ke sistem perbankan. Hal ini menciptakan suntikan likuiditas yang besar sehingga mendorong penurunan suku bunga deposito maupun kredit.
Rupiah Masih Akan Melemah Tahun Depan
Selanjutnya, mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Helmi melihat masih ada sedikit risiko pelemahan rupiah tahun depan.
“Meskipun dari sisi valuasi rupiah saat ini sudah terlihat murah, dalam beberapa bulan terakhir, ketika mata uang lain seperti euro menguat terhadap dolar, rupiah justru melemah,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan alasan mengapa potensi pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih ada. Hal ini karena pada kuartal kedua tahun depan data ekonomi AS diproyeksi akan kembali positif sehingga The Fed akan menghentikan penurunan suku bunga. Hal inilah yang bisa memperkuat dolar secara global.
“Citi memperkirakan dolar index akan naik ke sekitar 102 dari posisi saat ini di 98–99. Kedua, perbedaan suku bunga antara Indonesia dan AS kini sangat sempit. Selisih imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia dan obligasi pemerintah AS turun ke sekitar 200 basis poin, level terendah sepanjang masa yang membuat obligasi rupiah kurang menarik bagi investor,” kata Helmi.
Meski demikian, menurutnya pelemahan rupiah masih akan berlangsung secara teratur dan bukan mendadak. Hal ini karena karena ekspor Indonesia masih tumbuh kuat yang didukung oleh kenaikan harga komoditas seperti minyak sawit, emas, dan logam seperti aluminium.
