Cuma 2 Kapal Melintas di Selat Hormuz, Lalu Lintas Anjlok Drastis

Lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz anjlok menjadi hanya 2 kapal pada Senin (21/9) dari 10 kapal sehari sebelumnya.
Mengutip Reuters pada Rabu (23/9), data tidak mencakup kapal yang kemungkinan melintasi selat dengan mematikan transponder Automatic Identification System (AIS) untuk menghindari deteksi.
Berdasarkan data Kpler, sebuah kapal Supramax berbendera Panama yang mengangkut mineral dan sebuah kapal pengangkut curah (bulk carrier) berbendera Liberia memasuki jalur perairan Hormuz melalui rute yang tidak diketahui.
Sebelum konflik Iran dimulai pada 28 Februari, Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar 125 kapal komersial berukuran besar setiap hari.
Kapal-kapal tersebut mencakup tanker minyak, kapal pengangkut gas, kapal curah, hingga kapal kontainer. Selat strategis itu biasanya menjadi jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan liquefied natural gas (LNG) dunia setiap hari.
Penurunan lalu lintas kapal hingga hanya 2 kapal menunjukkan besarnya gangguan terhadap jalur perdagangan energi dan komoditas global.
Dua Kapal Diserang
Di tengah anjloknya lalu lintas pelayaran, sebuah kapal tanker minyak mentah dan kapal pengangkut liquefied petroleum gas (LPG) juga diserang ketika melintasi Selat Hormuz dalam dua insiden terpisah.
Informasi tersebut disampaikan perusahaan intelijen dan pelacakan pelayaran Marisks Intelligence pada Selasa (22/9).
Kapal tanker minyak mentah LR Stephanie berbendera Isle of Man terkena proyektil yang belum teridentifikasi ketika memasuki jalur perairan tersebut pada Senin (21/9). Menurut laporan Marisks, insiden ini menyebabkan 2 awak kapal mengalami luka ringan.
Data LSEG menunjukkan kapal berbendera Isle of Man itu dikelola oleh Universal Tanker Corp. Sehari sebelumnya, pada Minggu (20/9) lalu, kapal tanker LPG Al Maryah berbendera Liberia juga terkena serangan ketika sedang keluar dari Selat Hormuz.
Kapal dikelola oleh Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC). “Kami tidak mengomentari masalah operasional tertentu, termasuk perencanaan perjalanan atau pergerakan kapal,” kata kantor media ADNOC Logistics and Services.
Kedua kapal untungnya masih dapat melanjutkan perjalanan tanpa bantuan kapal tunda.
