Curhat Dirut Garuda Indonesia: Margin Tipis, Penumpang Turun

Direktur Utama Garuda Indonesia Wamildan Tsani membeberkan tantangan utama yang dihadapi industri penerbangan saat ini.
Tantangan ini berkaitan dengan regulasi Tarif Batas Atas (TBA) harga tiket serta pelemahan nilai tukar rupiah sejak 2019 membuat harga tiket terus naik.
“Sejak perumusan TBA terakhir pada tahun 2019, struktur biaya maskapai telah mengalami perubahan secara signifikan, terutama terkait dengan peningkatan harga avtur dan juga adanya beban maintenance,” kata Wamildan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI, Kamis (22/5).
Wamildan melihat adanya margin atau porsi keuntungan sangat tipis di industri maskapai di tengah tren penurunan jumlah penumpang pesawat.
“Ini tentunya memberikan beban yang sangat berat kepada maskapai penerbangan, karena dengan penurunan plot factor atau jumlah penumpang 3-5 persen, ini sangat mempengaruhi margin dari profit dari maskapai,” jelasnya.
Dia mencontohkan atas ketiga tantangan tadi terdapat evolusi biaya operasional rute CGK-DPS atau Bandara Soekarno Hatta Cengkareng ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.
Pada 2019, biaya per penerbangan sebesar Rp 194 juta saat penerbangan. Kemudian ada peningkatan Maintenance, Repair, and Operations (MRO) sebesar 40 persen atau Rp 31 juta sejak 2019, kenaikan harga bahan bakar 23 persen atau sebesar Rp 25 juta.
Lalu ada pertumbuhan Upah Minimum Regional (UMR) sebesar 35 persen atau Rp 12 juta, peningkatan biaya dari provider sebesar 43 persen atau Rp 8 juta, kemudian kenaikan biaya lain-lain sebesar Rp 13 juta dan interest cost Rp 2 juta.
Selain itu, sebagian besar komponen dibayar dengan menggunakan dolar AS. Sehingga kenaikan nilai tukar rupiah turut menyumbang kenaikan biaya operasional.
“Sehingga total kenaikan biaya menjadi Rp 269 juta atau terdapat kenaikan 38 persen. Jadi dengan adanya kenaikan nilai tukar valas sebesar 14-15 persen sejak 2019, ini memberikan tekanan margin yang lebih tinggi,” jelasnya.
