Curhat Pengusaha Bus: Ban Langka dan Mahal, Ditambah Harga BBM Naik

5 September 2022 10:14 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Jelang mudik Lebaran, Dishub sidak PO bus AKAP di Kota Denpasar. Foto: Humas Pemkot Denpasar
zoom-in-whitePerbesar
Jelang mudik Lebaran, Dishub sidak PO bus AKAP di Kota Denpasar. Foto: Humas Pemkot Denpasar
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa bulan terakhir pengusaha bus dibayangi kelangkaan ban. Tak hanya itu, selain sulit ditemukan, harga ban juga kini merangkak naik.
ADVERTISEMENT
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan atau yang akrab disapa Sani, mengungkapkan pengusaha bus sedang dalam posisi yang serba sulit. Kesulitan ini dibayangi naiknya harga BBM dan spare part kendaraan.
"Kami ini sekarang dalam posisi serba sulit. Pemerintah menaikkan harga BBM, di sisi lain spare part naik di atas 15 persen, padahal kami mulai melihat harapan selepas Covid, tapi ternyata seperti ini,” ungkap Sani dalam keterangan resminya seperti dikutip Senin (5/9).
Sani mengatakan bahwa kenaikan harga ban ini sudah dimulai sejak 2 tahun belakangan. Dengan kenaikan tersebut, pengusaha juga belum bisa mendapatkan jaminan ketersediaan barang.
"Sejak 2 tahun belakangan harga ban terutama jenis radial terus naik dan stok sering kosong. Pengusaha angkutan tidak bisa mendapatkan jaminan apakah barang akan ada dan kapan akan tersedia. Hal ini tentu saja merugikan banyak pelaku usaha angkutan terutama bagi pengusaha yang modalnya atau cash flow-nya tidak besar,” katanya.
ADVERTISEMENT
Kelangkaan ban ini menurut Sani tidak bisa dibiarkan begitu saja. Menurutnya jika kondisi ban sudah tidak baik lagi maka harus segera diganti demi keselamatan perjalanan.
Apalagi, menurutnya ban juga menjadi kelengkapan yang paling sering disoroti pada Uji KIR atau pemeriksaan di terminal-terminal oleh instansi perhubungan baik Kementerian Perhubungan maupun Dinas Perhubungan.
Sani melanjutkan, sebelum adanya kelangkaan pengusaha hanya membeli ban sesuai kebutuhan saja. Namun, menurutnya saat ini pengusaha akan membeli semua stok yang tersedia selagi masih ada.
“Jika pengusaha dulu butuh 30 ban, maka yang dibeli 30 ban saja. Sekarang, saat penjual punya 100 ban, pengusaha angkutan akan beli semua karena belum tentu 2-3 bulan lagi stok masih ada,” jelasnya.
ADVERTISEMENT
“Kalau pengusaha skala besar yang punya simpanan modal tinggi dia bisa beli langsung banyak. Tapi kalau pengusaha kecil menengah tidak akan bisa, sehingga yang terjadi mereka tidak dapat barang dan bisnisnya terganggu,” sambung sani.
Harga ban sejak akhir 2020 disebut sani telah mengalami kenaikan akibat terganggunya suplai chain global yang memicu kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik. Adapun menurutnya kenaikan harga telah mencapai 15 persen di seluruh jenis produk yang berbeda.
Sani juga mengatakan kelangkaan pasokan ban ini disebabkan oleh larangan terbatas impor ban dan pembatasan kuota. “Terutama untuk ban-ban truk dan bus jenis radial yang tidak banyak diproduksi di dalam negeri,” tambahnya.
Adapun, menurut Sani kebutuhan ban truk dan bus di Indonesia diperkirakan lebih dari 6 juta unit pada tahun 2021 lalu. Kemudian, 77 persennya merupakan ban bias dan 23 persen merupakan ban radial.
ADVERTISEMENT
Saat ini suplai ban truk dan bus jenis radial dari produsen dalam negeri tidak lebih dari 500.000 unit setiap tahunnya. Sehingga kebutuhan ban yang harus disuplai melalui impor masih cukup besar.
Ramai-ramai Menaikkan Harga Tiket
Bus Baru PO ANS. Foto: dok. Fans ANS
Menyikapi kenaikan harga BBM jenis Pertalite dan Solar, perusahaan bus ramai-ramai menaikkan harga tiketnya. Kebijakan menaikkan harga tak bisa dihindari.
Sejak mulai kembali bergeliat paska pandemi Covid-19, pengusaha bus mengungkapkan banyak kesulitan yang dihadapi. Rantai pasok suku cadang seperti chassis bus tak tersedia. Begitupun ban yang sulit ditemukan. Ujungnya harga onderdil naik yang secara kumulatif berkisar 10-15 persen selama 2021-2022.
"Harga ban yang saya beli sudah Rp 5,1 juta. Tanya supplier barang gak ada, kalo pun ada harganya ya segitu. Kalo gak ada ban, bus saya gak jalan," ujar Angga Virchansa Chairul dari PO. NPM.
ADVERTISEMENT
Angga mengungkapkan, diperlukan tujuh ban untuk satu bus berserta ban cadangannya. Artinya dengan harga Rp 5,1 juta, diperlukan Rp 35,7 juta. Salah satu Ketua DPP Organda ini menyatakan, komponen ban ini tak bisa diabaikan karena menyangkut keselamatan.
"Bus saya satu kali keluar garasi Padang Panjang ke Jabodetabek atau Bandung hingga kembali lagi butuh waktu 48 jam dikalikan dua. Terbayang dong penggunaan bannya? Sekarang dengan kenaikan ini lengkaplah. Ban dan BBM sangat vital dalam operasional bus," katanya.
Pernyataan Angga diamini Ketua DPC Organda Jepara, M. Iqbal Tosin. Menurut dia, sekarang pengusaha bus dalam posisi mempertahankan usahanya di fase kedua paska pandemi Covid-19. Lolos dari pandemi, masih harus putar otak dengan segala kenaikan dan kelangkaan suku cadang.
ADVERTISEMENT
"Kami mau tak mau menaikkan harga Rp 30 ribu untuk keberangkatan Sabtu (3 September) sore dan malam, sementara keberangkatan hari Minggu tanggal 4 September ini kami berharap pelanggan bisa memaklumi kenaikan Rp 50 ribu," katanya.
Iqbal berharap pemerintah mengurai masalah yang mereka hadapi dalam operasional sehari-hari. Kenaikan harga BBM, kata dia, mungkin tak bisa dihindari, tetapi kelangkaan dan naiknya harga suku cadang perlu diperhatikan pemerintah.
Dia menegaskan, sebelum ada kebijakan kenaikan BBM pun, koleganya sesama pengusaha bus sudah mengeluhkan kelangkaan solar di sejumlah daerah.
"Yang saya khawatir, ini setelah BBM naik, ada kenaikan-kenaikan lainnya yang menyusul. Biasanya kan begitu. Ini sparepart dah naik kemarin, apa naik lagi atau gak, kita gak tau," kata Iqbal.
ADVERTISEMENT