Kumparan Logo

Curhat Pengusaha Truk soal Pungli, Ditodong Preman, hingga Ban Serep Dicuri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (14/11/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (14/11/2019). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kepolisian telah menangkap 49 orang yang diduga memeras dan melakukan pungutan liar atau pungli di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Para pemeras dan preman itu kerap memalak sopir kontainer di daerah tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Keamanan dan Keselamatan Indonesia untuk perusahaan truk dan logistik (Kamselindo) Kyatmaja Lookman mengakui bahwa praktik pungli dan premanisme merupakan permasalahan yang sudah lama terjadi di sektor logistik Indonesia.

“Ya kalau itu kan memang masalah lama ya,” ujar Kyatmaja kepada kumparan, Sabtu (12/6).

Menurut Kyatmaja ada dua jenis kejahatan yang mengancam sektor logistik selama ini. Yaitu pungli dan premanisme. Menurutnya dari dua bentuk kejahatan tersebut, pihaknya lebih khawatir soal adanya premanisme. Sebab tidak hanya palak duit, premanisme di pelabuhan bahkan sampai mencuri ban serep.

“Karena biasa mereka bisa minta mulai dari uang jalan sampai mencuri ban serep,” ujarnya.

Pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok. Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Menurut Kyatmaja, para preman ini biasanya mencuri ban serep ketika kondisi jalanan tengah macet total menuju arah pelabuhan. Tidak hanya itu, Kyatmaja membeberkan masih banyak lagi bentuk kejahatan yang selama ini mengintai sopir truk saat mengirimkan logistik.

“Mulai dari minta uang, jualan barang dengan tak wajar, menodong dan mengambil HP, mencuri aki, mencuri ban serep. Itu biasanya terjadi ketika macet atau ketika terjadi antrean,” ujarnya.

Khusus untuk pungli, keluhan yang paling banyak ia terima adalah soal uang pelicin. Modusnya yaitu para preman tersebut meminta sejumlah uang lantas menjanjikan prioritas muat kepada sopir tanpa harus mengantre panjang.

“Tujuannya untuk mendapatkan prioritas muat. Kalau enggak (memberi uang pelicin) ya waktunya jadi di lama-lama kan,” ujarnya.

kumparan post embed

Kondisi ini terkadang membuat sopir menjadi dilema. Alhasil tidak ada pilihan lain selain harus merogoh kocek untuk bayar uang pelicin agar tak terjebak antrean panjang. “Walaupun kejadian itu kadang-kadang inisiatif sopir sendiri yang memberikan sejumlah uang ya,” ujarnya.

Kyatmaja pun tidak menampik bahwa masalah keamanan menjadi salah satu satu hambatan bagi industri logistik. Menurutnya permasalahan tersebut cukup pelik. “Kalau permasalahan keamanan angkutan barang kan memang pelik ya,” tutupnya.