Curhat Petani Bunga yang Rugi Belasan Juta Rupiah karena COVID-19

Sudah dua bulan ini Burhan hanya bisa menunggu pelanggan yang tak kunjung datang. Burhan merupakan salah satu petani bunga di Batu, Jawa Timur yang terdampak pandemi COVID-19.
Burhan mengaku sejak adanya virus corona pendapatannya menurun drastis. Bahkan selama dua bulan sejak Maret-April, tidak ada pembeli sama sekali.
“Ya Alhamdulillah. Pesanan kosong, sekarang lokal aja enggak ada yang beli. Fatal-fatalnya satu bulan terakhir,” urainya kepada kumparan, Rabu (6/5).
Pria yang telah menekuni profesi sebagai petani bunga sejak lima tahun silam ini mengungkapkan kesedihannya karena kerugian yang mencapai lebih dari Rp 12 juta selama dua bulan ini. Ada 10.000 bunga yang harus dibuang sia-sia di lahannya.
Semenjak adanya wabah corona, suasana kota Batu yang semakin sepi membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih terbatas. Padahal, mayoritas bunga-bunganya biasanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pernikahan, ucapan selamat, hingga hajatan.
“Mungkin 70 persen penjualan ke orang hajatan. Nah kalau hajatan dilarang?” sambungnya.
Burhan menjual berbagai jenis bunga seperti krisan. Krisan merupakan sejenis tumbuhan berbunga yang sering ditanam sebagai tanaman hias pekarangan atau bunga petik.
Belum lagi, pada saat lebaran nanti pekarangannya siap memanen 14.000 bunga. Padahal pada saat lebaran biasanya merupakan momen-momen terjadinya peningkatan penjualan.
“Nah terus yang ini 14.000 batang. Mau panen itu Syawal. Nah kalau corona belum kelar ya rugi lagi,” tuturnya.
Petani yang berdomisili di Desa Sidomulyo ini menjual untuk satu ikat bunga Rp 12.000, isi 10 biji. Menurutnya, seluruh petani bunga di Kota Batu mengalami hal serupa.
Bahkan ia menambahkan, beberapa petani yang sudah memiliki kemitraan dengan perusahaan atau lembaga berpotensi mengalami kerugian yang jauh lebih besar.
Ia sudah mencoba menyiasati dengan mencari orderan dari luar kota. Namun lagi-lagi harus tersendat dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
“Kalau luar kota sulit kemarin ke Madura enggak berani,” ungkapnya.
Biasanya dalam satu bulan, Burhan mampu mengirim paketan sekitar 20 ikat dengan frekuensi pengiriman 20 kali. Ia tak berharap banyak selain wabah corona segera berakhir. Karena salah satu peluang yang saat ini bisa dilakukan adalah pada saat lebaran.
“Yang ini kayak injury time,” tukasnya.
Sementara itu, Petani Anggrek YP Utama Orchid Revian Yoga menambahkan, saat ini para petani bunga memang mengalami perlambatan penjualan. Menurutnya, salah satu faktor yang membuat penjualan melambat yaitu menurunnya daya beli masyarakat.
“Soalnya misal ada yang beli, pedagang ada kelas kolektor, lah kalau ada corona pendapatan dan daya beli (mereka) terganggu, beli mahal, sekarang lebih menahan,” ungkapnya.
Kebetulan seluruh pangsa pasar Revian berasal dari luar kota seperti Jakarta, Bali, Lombok hingga Pulau Kalimantan. Pria yang telah menekuni bisnis bunga anggrek sekitar empat tahun lalu ini mengaku adanya penurunan pesanan.
“Dalam sebulan, biasanya paling enggak, dua hari sekali kirim. Sekarang ini seminggu kirim (hanya) satu dua kali saja,” tuturnya.
Revian membanderol anggrek dari rentang Rp 25.000 per bunga hingga Rp 2,5 juta per bunga. Namun ia bilang, untuk jenis anggrek tidak terlalu berdampak signifikan, karena semakin tua usia bunga semakin mahal harganya.
“Enggak (begitu) mempermasalahkan karena keuntungannya, tambah tua tambah mahal. Kalau bunga potong yang paling berdampak,” tuturnya.
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
*****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
