Kumparan Logo

Curhat Petani Sawit Kena Dampak Harga BBM Naik: Kami Makin Tekor!

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas Petani Plasma Kelapa Sawit Asian Agri di Provinsi Riau, Jumat (22/3). Foto: Abdul Latif/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas Petani Plasma Kelapa Sawit Asian Agri di Provinsi Riau, Jumat (22/3). Foto: Abdul Latif/kumparan

Dampak kenaikan harga BBM juga dirasakan oleh petani sawit. Kini Solar dibanderol Rp 13.950 per liter, sementara Pertalite dan Pertamax masing-masing menjadi Rp 10.000 dan Rp 14.500 per liter.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Aspaksindo), Gulat Manurung, mengatakan dengan kenaikan harga BBM maka biaya angkut kendaraan TBS dalam kebun sampai PKS naik menjadi Rp 150-200 per kg, dari sebelumnya hanya Rp 120-150 per kg.

"Kenaikan ini tentu menjadi menambah beban harga pokok produksi (HPP) yang selama ini mencapai Rp 1.850-2.250/kg akan naik menjadi Rp 1.950-2.350," kata Gulat kepada kumparan, Senin (5/9) malam.

Dia menghitung, petani sawit bisa mendapatkan untung apabila harga TBS di atas Rp 3.000. Namun saat ini TBS masih di kisaran Rp 1.800-2.450 per kg.

"Jika harga TBS di atas Rp 3000/kg, baru kami petani bisa membawa rezeki ke rumah. Saat sebelum naik BBM kami sudah tekor, tentu kenaikan ini akan menambah besarnya tekor kami," ujarnya.

Berbagai upaya kini dilakukan petani sawit, mulai dari menekan biaya perawatan kebun seperti pengendalian gulma yang biasanya dilakukan tiga kali setahun, kini menjadi hanya dua kali setahun.

Seorang petani membongkar muatan tandan buah segar (TBS) sawit di Desa Raja Bejamu Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Rabu (19/2). Foto: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

Selain itu juga mengurangi dosis pupuk, bahkan tidak memupuk kebun sama sekali. Gulat mengatakan hal itu jelas mengurangi produktivitas kebun petani.

Lebih lanjut, Gulat mengatakan dampak kenaikan BBM juga dirasakan secara tidak langsung. Seperti kebutuhan sehari-hari akan naik, mulai dari pangan hingga angkutan.

"Saat sebelum naik harga BBM, kami biaya HPP dari yang digariskan good agricultural practices (GAP) Rp 1.850-2.250 menjadi HPP Rp 1.700 per kg, tapi saat ini kami hanya bisa menekan HPP menjadi Rp 1.750 per kg. Memang sangat tipis sekali marginnya dengan harga TBS saat ini, itu pun sudah dengan siasat," kata Gulat.

Gulat berharap pemerintah bisa segera mengatasi persoalan yang membebani petani sawit salah satunya dengan merevisi Permentan nomor 1 tahun 2018 yang mengatur penetapan harga TBS.

"Supaya beban-beban dan pungutan Biaya Operasional Tidak Langsung (BOTL) yang menekan harga TBS selama ini bisa berbagi beban ke PKS. Ini sangat bermanfaat dan menolong kami petani sawit," ujarnya.