Curhatan Kurir Logistik saat Belanja Online Tumbuh Pesat
·waktu baca 2 menit

Kurir menjadi pekerjaan yang bisa membantu banyak masyarakat. Apalagi saat pandemi COVID-19 ini banyak masyarakat belanja online yang berdampak ke ramainya pengiriman barang.
Namun di tengah sibuknya lalu lintas mengantar barang, nasib para kurir ternyata tidak bisa dibilang bagus. Ada kurir yang ongkos atau tarifnya malah diturunkan.
Perwakilan Driver Lalamove, Ade Putra, mengungkapkan di aplikator tempatnya bekerja mulanya pada 2018 tarifnya Rp 16.000 per tarif dasar. Ia menjelaskan, hitungan tarif dasar Rp 16.000 itu sekitar 5 kilometer.
“Sedangkan sekarang tarif dasar Rp 8.000 per 4 kilometer. Jadi jatuhnya itu Rp 2.000 per kilo belum dipotong 20 persen dari pihak aplikator,” kata Ade saat acara yang disiarkan di Instagram change.org Indonesia, Rabu (25/8).
Selain persoalan tersebut, Ade mengungkapkan banyak kendala yang harus dihadapi para kurir. Ia mencontohkan ada toko tutup dan barang yang harus diantar ukurannya terlalu besar atau sulit dikirim kalau menggunakan motor.
“Barang yang gede kami dipaksa mem-pickup atau membawa sampai tujuan. Itu kendala bagi kami karena di lapangan kendaraan kami atau tokonya tutup. Itu hal-hal yang kayak gitu yang enggak bisa ditolelir oleh aplikator khususnya di Lalamove karena kami langsung di-suspend kalau tidak bisa menyelesaikan orderan tersebut,” ungkap Ade.
Ade merasa perusahaan menganggap kurir sebagai karyawan. Padahal, kata Ade, status antara kurir dan aplikator adalah mitra yang artinya harus saling menguntungkan.
“Yang namanya mitra saling menguntungkan. Sedangkan kita tahu mereka hadir di Indonesia dari 2018 sampai sekarang sudah berkembang di berbagai kota besar di Bandung, Surabaya. Apakah mereka memikirkan nasib mitranya? Itulah yang menjadi PR buat kita,” tutur Ade.
