Dampak Perang di Iran, Pertumbuhan Ekonomi Filipina Kuartal I Melambat Jadi 2,8%
ยทwaktu baca 3 menit

Pertumbuhan ekonomi Filipina secara tak terduga melambat di kuartal I 2026. Badan Statistik Filipina merilis perkembangan pertumbuhan ekonomi pada Kamis (7/5).
Dikutip dari Bloomberg, Produk Domestik Bruto (PDB) Filipina meningkat 2,8 persen pada Januari hingga Maret dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini lebih rendah dari perkiraan median 3,3 persen dalam survei Bloomberg News dan di bawah laju 3 persen pada kuartal sebelumnya. Konsumsi rumah tangga yang menjadi pilar ekonomi tumbuh dengan laju paling lamban dalam hampir 16 tahun di luar masa pandemi COVID-19.
Sekretaris Perencanaan Ekonomi, Arsenio Balisacan, mengatakan dampak perang di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi memperparah dampak skandal korupsi yang berkepanjangan dan lambatnya kesepakatan anggaran 2026.
"Tantangan ini nyata dan pemerintahan Marcos menghadapinya secara langsung dengan tegas. Memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat kredibilitas institusi tetap menjadi salah satu prioritas tertinggi pemerintahan Marcos (Presiden Filipina Ferdinand Marcos--red)," kata Arsenio.
Peso Filipina sedikit melemah setelah data menunjukkan investasi turun 3,3 persen pada kuartal I, dan produksi industri sedikit turun 0,1 persen. Belanja konsumen naik 3 persen dibandingkan tahun berikutnya, sementara belanja pemerintah naik 4,8 persen. Saham Filipina tetap naik sekitar 2 persen di tengah reli regional.
Angka yang mengecewakan ini muncul di saat bank sentral, yang bulan lalu menaikkan suku bunga, memiliki sedikit ruang untuk mendukung perekonomian karena pelemahan peso dan meningkatnya harga konsumen. Pertumbuhan dan investasi melambat secara dramatis sejak Marcos mengumumkan penyelidikan atas penyalahgunaan anggaran pengendalian banjir tahun lalu.
"Angka PDB lebih rendah dari perkiraan pada kuartal I menunjukkan stimulus fiskal tidak cukup untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi, sama seperti saat pandemi," kata kepala riset dan ekonom di Philippine National Bank, Alvin Arogo.
"Oleh karena itu, pengetatan moneter, yang tidak mengatasi guncangan pasokan, dapat secara serius membahayakan kemampuan pemulihan pertumbuhan negara dalam beberapa kuartal mendatang," lanjutnya.
Data ini dirilis Badan Statistik Filipina dua hari setelah Indonesia mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I meningkat.
"Kinerja pertumbuhan kita tertinggal dari Vietnam, Indonesia, dan China di antara negara-negara di kawasan," kata Arsenio dalam pernyataannya di Manila.
"Hasil ini mencerminkan dampak gabungan dari tantangan domestik dan global yang signifikan," lanjutnya.
Faktor terbesar dalam penurunan pertumbuhan ekonomi, katanya, adalah perang di Timur Tengah. Perang antara AS dan Iran membuat harga minyak global meroket, tapi Filipina sangat terpengaruh karena mengimpor lebih dari 90 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah.
Bahkan sebelum perang pecah, Filipina telah diguncang oleh pengungkapan bahwa miliaran dolar dana publik yang seharusnya digunakan untuk proyek pengendalian banjir telah disalahgunakan. Ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi pada 2025 merosot jadi 4,4 persen, laju terlemah dalam lebih dari satu dekade di luar masa pandemi.
Kontroversi korupsi terus membebani kepercayaan konsumen, bisnis, dan investor di kuartal I 2026, sementara penundaan pengesahan anggaran memperlambat peluncuran program-program penting.
Kepala ekonom di Union Bank of the Philippines, Ruben Carlo Asuncion, mengatakan laporan pelambatan pertumbuhan ekonomi menekankan dampak ganda dari masalah pengendalian banjir yang berkepanjangan dan konflik geopolitik terbesar tahun ini.
