Dampak Virus Corona, Industri Tekstil dan Farmasi di Jateng Krisis Bahan Baku

Mewabahnya virus corona ditanggapi serius Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah. Sebab, dua sektor utama di wilayah itu akan terdampak.
Ketua Kadin Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono, mengatakan industri tekstil dan farmasi di sana akan terpukul karena distribusi bahan baku tersendat.
"Sektor tekstil hanya sampai April, sektor farmasi juga. Setelah itu penyediaan bahan baku turun. Penyedia jasa internet juga, bahan baku dari China juga tinggal 2 bulan lagi," katanya setelah rapat koordinasi di Semarang, Rabu (4/3).
Kukrit menyebut, dua sektor itu hanya bisa memenuhi kebutuhan pasar hingga akhir April 2020, karena sumber bahan baku mayoritas dari China.
Sebaliknya, sektor pariwisata justru meningkat pendapatannya. Sebab, wisatawan memilih perjalanan lokal dan menginap di hotel, diikuti kebangkitan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
"Ini momen kebangkitan UKM, serbuan barang impor China berkurang dan serapan produk unggulan banyak dipakai," jelasnya.
Kukrit mengatakan hasil rapat koordinasi Kadin tersebut akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah. Sehingga bisa diambil langkah-langkah selanjutnya untuk mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dan farmasi di Jateng.
"Kami tadi sudah berkumpul dan berkoordinasi dengan 48 asosiasi pengusaha di Jawa Tengah. Hasilnya akan kami rangkum dan kami serahkan rekomendasi kepada Pak Gubernur. Tadi intinya ada banyak potensi lokal yang bisa kita gali bersama dan kita kembangkan," kata Kukrit.
Selain itu Kukrit menjelaskan pengusaha juga berharap perbankan lebih ramah di tengah dampak dari virus corona. Hal itu karena pengusaha harus memenuhi kewajiban membayar berbagai tagihan serta memenuhi kesejahteraan karyawan.
"Kita harap sektor perbankan lebih friendly. Kita lihat trennya apakah jadi buruk atau baik. Kami harap perbankan juga lihat ini sebagai bencana alam. Ini faktor yang tidak diperhitungkan sejak awal. Semoga ada treatment dari perbankan," jelasnya.
Sekretaris GP Farmasi Jawa Tengah, Sukadi, mengatakan bahan farmasi saat ini 90 persen masih impor. Dari total impor itu 60 persennya dari China. Dengan wabah corona, pengiriman sangat terpengaruh.
"Wabah corona ini berpengaruh di industri farmasi. Obat itu 90 persen bahan diimpor, 60-62 persen dari China. Dengan wabah ini berpengaruh terhadap produksi dari obat, bahan baku terhambat," jelas Sukadi.
