Kumparan Logo

Dana Melimpah, BI Minta Perbankan Turunkan Lagi Suku Bunga Kredit

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah

Bank Indonesia terus mengimbau perbankan menurunkan lagi suku bunga kredit karena dana yang terparkir melimpah. Penurunan suku bunga kredit dilakukan agar penyalurannya bisa terus terjadi dan dunia usaha mendapatkan modal di masa pandemi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan dana di perbankan sangat melimpah. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi yakni 32,67 persen dan pertumbuhan DPK sebesar 8,81 persen secara year on year (yoy). Likuiditas perekonomian juga meningkat, tercermin pada uang beredar dalam arti sempit (M1) dan luas (M2) yang tumbuh masing-masing sebesar 9,8 persen (yoy) dan 6,9 persen (yoy).

"Likuiditas melimpah di perbankan tercermin dari alat likuid terhadap DPK sangat besar, terbesar yang pernah terjadi. . Mari, kami ajak perbankan salurkan kredit, " katanya dalam konferensi pers pengumuman suku bunga acuan, Selasa (21/9).

BI sendiri kembali mempertahankan suku bunga acuan di level 3,5 persen, suku bunga deposit facility di level 2,75 persen, dan lending facility 4,25 persen. Ini merupakan penurunan suku bunga terendah sepanjang sejarah Indonesia demi mendukung kondisi keuangan nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Dok. Departemen Komunikasi Bank Indonesia.

Sejak BI terus menurunkan suku bunga hingga ke level terendah, dia mengapresiasi bank yang juga ikut menurunkan suku bunga kredit. Namun, penurunan suku bunga kredit masih perlu dilakukan terutama untuk sektor-sektor prioritas. Sejauh ini, relaksasi kredit murah sudah diberikan ke sektor properti, kendaraan, dan UMKM di masa pademi.

Di pasar uang dan pasar dana, suku bunga PUAB overnight dan suku bunga deposito 1 bulan perbankan telah menurun, masing-masing sebesar 55 basis poin (bps) dan 205 bps sejak Juli 2020 menjadi 2,82 persen dan 3,43 persen pada Juli 2021.

Di pasar kredit, penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SDBK) perbankan terus berlanjut, meski dalam besaran yang lebih terbatas, yaitu menurun dari 8,82 persen pada Juni 2021 menjadi 8,81 persen pada Juli 2021.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Juli 2021 tetap tinggi sebesar 24,57 persen dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap terjaga, yakni 3,35 persen (bruto) dan 1,09 persen (neto).

Ilustrasi uang rupiah. Foto: Aditia Noviansyah

Intermediasi perbankan melanjutkan pertumbuhan positif yaitu sebesar 1,16 persen (yoy) pada Agustus 2021, didorong oleh membaiknya permintaan kredit dari dunia usaha sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, menurunnya suku bunga kredit baru, serta melonggarnya standar penyaluran kredit perbankan.

Kredit Konsumsi dan Kredit Modal Kerja melanjutkan pertumbuhan positif, masing-masing sebesar 2,84 persen (yoy) dan 1,27 persen (yoy), mengindikasikan peningkatan aktivitas konsumsi terutama permintaan pemilikan rumah, serta pemulihan dunia usaha.

Kredit UMKM juga terus mengalami peningkatan dengan tumbuh sebesar 2,70 persen pada Agustus 2021. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit pada tahun 2021 diperkirakan dalam kisaran 4-6 persen.

"Sudah cukup efektif dan ada dampaknya, memang perlu terus didorong. Itulah kenapa bank Indonesia terus mengajak para perbankan untuk negeri ini turunkan suku bunga kredit, dan alhamdulilah turun sesuai dengan kemampuan bank masing-masing," ujar Perry.