Kumparan Logo

Danantara: Maskapai BUMN Harus Konsolidasi Agar Tak Saling Kanibal

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Maskapai Pelita Air. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Maskapai Pelita Air. Foto: Dok. Istimewa

Danantara Indonesia mengatakan konsolidasi maskapai BUMN diperlukan agar masing-masing perusahaan tidak saling memakan pangsa pasar alias menjadi kanibal.

Managing Director Non-financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, mengatakan penyederhanaan bisnis (streamline) dan konsolidasi dibutuhkan bagi maskapai, salah satunya untuk melepaskan PT Pelita Air Service yang tidak sesuai dengan inti bisnis Pertamina.

"Kalau Pelita yang bagian dari streamline dan konsolidasi ya, jadi bukan cuma Pelita, semuanya sejenis-jenis ya akan masuk ke dalam sektornya. Sama airline, kan enggak lucu juga kalau Pelita ada di sektor sendiri, kan pelita adalah bagian dari airline business," jelasnya saat Coffee Morning, Jumat (14/11).

Febriany mengatakan, konsolidasi itu juga diperlukan untuk menjaga agar seluruh maskapai BUMN, baik itu Pelita Air, Garuda Indonesia, dan Citilink Indonesia, tidak saling berkompetisi.

"Tadi kuncinya adalah dalam rencananya pasti akan dipastikan untuk tidak saling kanibal. Orang Garuda, Citilink saja kita tidak izinkan, apalagi nanti Pelita," tegasnya.

Namun demikian, dia belum bisa membeberkan skema penggabungan hingga rencana segmentasi pasar antara ketiga badan usaha tersebut. Sebab masih menunggu eksekusi aksi korporasi oleh Danantara.

"Yang jelas bagian dari streamline dan konsolidasi adalah menghapus internal competition dan saling kanibal itu. Jadi segmen mesti jelas, target mesti jelas," katanya.

Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia dan pesawat Citilink. Foto: aiyoshi597/Shutterstock

"Justru menurut saya banyak sekali best practice di Pelita yang harus di copy ke yang lain, likewise ada best practice di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita. Jadi di situ kita saling memperkuat diri," pungkas Febriany.

Sebelumnya, Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, mengatakan perusahaan tengah menghitung ulang segala rencana ekspansi bisnis, terutama dengan adanya jabatan baru Direktur Transformasi yang diduduki Neil Raymond Mills.

Termasuk rencana konsolidasi dengan Pelita Air maupun rencana penambahan armada pesawat. Berdasarkan arahan tersebut, Garuda Indonesia pun menunda penambahan 3 pesawat untu sementara ini.

"Rencana kita untuk ekspansi itu sedang kita kaji ulang, karena memang dengan adanya Bapak Neil, kami menghitung ulang keperluan armada kita dan juga menyusun ulang network dan rute planning kami. Jadi bukan kita membatalkan, tapi sebagian kita akan tunda sampai analisa itu sudah difinalisasi," tuturnya saat konferensi pers, Kamis (13/11).

instagram embed