Danantara Mulai Bangun 4 Proyek Waste to Energy Juni 2026 di Bekasi-Denpasar
ยทwaktu baca 3 menit

Danantara Indonesia menargetkan pembangunan 4 proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pada Juni atau Juli 2026. Pembangunan akan memakan waktu hingga 2 tahun.
Director of Investments Danantara Investment Management, Fadli Rahman, mengatakan untuk tahap (batch) pertama, proyek WtE akan dibangun di Bekasi, Denpasar, Yogyakarta, dan Bogor. Pemenang lelang mitra operator proyek dilakukan dalam dua gelombang.
Pada gelombang pertama, Danantara telah menetapkan Wangneng Environment Co., Ltd. sebagai operator untuk pembangkit di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. sebagai operator untuk pembangkit di Denpasar.
Setelah penetapan operator, Danantara akan melaksanakan seremoni groundbreaking pada kisaran April-Juni 2026. Sementara pelaksanaan pembangunan diharapkan dapat dimulai pada Juni atau awal Juli 2026.
"Groundbreaking itu bisa dilakukan kapan saja dari April sampai bulan Juni. Cuma yang lebih penting adalah kapan ini mulai dibangun. Target kita ini mulai dibangun di akhir Juni, awal Juli paling telat," ungkap Fadli saat ditemui di Wisma Danantara, Jumat (6/3).
Fadli menjelaskan, berdasarkan desain awal yang diajukan mitra operator melalui Request for Proposal (RFP), pembangunan WtE akan berlangsung selama 24 bulan atau ditargetkan mencapai tahap commercial operating date (COD) pada Juni 2028.
Namun khusus untuk proyek WtE di Bekasi dan Denpasar, kata dia, operator berkomitmen menyelesaikan proyek tersebut lebih cepat, yakni akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028. Kesanggupan komitmen ini menjadi salah satu penilaian proposal calon mitra operator.
"Kebetulan keduanya memang komitmennya lebih cepat. Janjinya by 2027 akhir itu kita terbangun, sudah COD. Untuk di Bekasi di awal 2028," ungkap Fadli.
Adapun pengumuman operator WtE batch pertama di Bogor dan Yogyakarta akan dilakukan pada gelombang selanjutnya. Saat ini, kata Fadli, masih dalam proses negosiasi yang diharapkan dapat selesai dalam waktu dekat.
"Kita akan kejar dalam waktu dekat. Masih dalam proses negosiasi. Jadi proses evaluasi, setelahnya proses negosiasi, dan ini proses negosiasi sudah di tahap-tahap akhir," ujar Fadli.
Fadli memastikan proses pemilihan mitra operator proyek WtE sangat ketat dan disiplin dari sisi prosedur. Proses pemilihan ini sudah dimulai pada November 2025, dan para calon mitra mengirimkan proposal dari sisi teknis maupun finansial pada Januari lalu.
"Evaluasi yang menyeluruh ini terdiri dari evaluasi teknis, evaluasi finansial, dan komersial, dan juga evaluasi secara risiko. Evaluasi teknis ini termasuk di dalamnya adalah teknologi apa yang ditawarkan, harus teknologi yang termutakhir, dapat mengelola sampah dalam volume yang signifikan, dan dalam waktu yang signifikan juga," tuturnya.
Evaluasi teknis lainnya yakni dari sisi komitmen calon mitra menggandeng mitra lokal dan seberapa jauh keterlibatan dari mitra lokal tersebut. Kemudian dari sisi finansial, mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025, proyek WtE harus ekonomis.
Selanjutnya yakni analisis risiko-risiko sekaligus mengidentifikasi mitigasi risikonya. Seluruh aspek penilaian dari sisi teknis, finansial, dan operasional tersebut akan dinegosiasikan kembali dengan Danantara Indonesia.
"Proses penilaian ini dilakukan secara independen, di mana ada sekitar 60 lebih orang yang terlibat dalam proses penilaian ini, yang kita datangkan tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri yang memiliki pengalaman secara khusus," ujar Fadli.
