Kumparan Logo

Danantara Pastikan Belum Ada Rencana Investasi di Merger GOTO-Grab

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kantor Danatara. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Danatara. Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia membantah rencana mengakuisisi mayoritas saham PT Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan ikut andil dalam proses merger GOTO dengan perusahaan transportasi daring asal Singapura, Grab Holdings Ltd.

Wacana tersebut awalnya dilaporkan Bloomberg pada 6 Juni 2025. Menurut sumber yang mengetahui hal tersebut, Danantara telah memulai diskusi awal dengan GOTO untuk mengakuisisi saham minoritas di entitas gabungan.

Danantara disebut sedang mempertimbangkan peran dalam rencana akuisisi GoTo Group senilai USD 7 miliar oleh Grab Holdings Ltd, yang berpotensi memungkinkan pemerintah Indonesia memiliki sebagian besar porsi perusahaan transportasi daring di Asia.

Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, mengatakan belum ada perbincangan apa pun terkait investasi Danantara di perusahaan ride hailing nasional tersebut.

"Saat ini belum ada pembicaraan terkait hal tersebut. Pada prinsipnya, Danantara Indonesia selalu terbuka terhadap peluang investasi yang sejalan dengan mandat kami untuk memperkuat sektor strategis dan meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional," jelasnya dalam keterangan tertulis kepada kumparan, Selasa (10/6).

instagram embed

Meski begitu, Stefanus menyebutkan setiap keputusan investasi Danantara Indonesia dilakukan secara selektif dan dikaji secara komprehensif agar menguntungkan bagi negara.

"Setiap keputusan investasi dilakukan secara selektif, melalui kajian yang menyeluruh, dengan menerapkan prinsip manajemen risiko yang baik, serta mempertimbangkan potensi imbal hasil yang berkelanjutan bagi negara," lanjut Stefanus.

Dikutip dari Bloomberg, Grab dan GoTo telah membuat kemajuan dalam kesepakatan potensial, namun laju pembicaraan melambat baru-baru ini karena kekhawatiran potensi tuntutan regulasi. Sebab, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tengah menyelidiki potensi risiko dan mendesak perusahaan untuk memastikan setiap kesepakatan tidak akan menciptakan monopoli.

Pengemudi ojek online (ojol) menunggu datangnya penumpang di Halte LRT Pancoran, Jakarta, Rabu (12/3/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Keikutsertaan Danantara dinilai akan meningkatkan peluang perusahaan untuk memperoleh izin dari pemerintah Indonesia, yang mungkin menjadi hambatan regulasi terbesar untuk sebuah kesepakatan. Namun, diskusi dengan Danantara masih dalam tahap awal dan mungkin tidak akan menghasilkan transaksi apa pun.

Grab, yang didukung oleh Uber Technologies Inc, telah mengadakan pembicaraan dengan GoTo selama bertahun-tahun. Namun, merger tidak pernah terwujud, sebagian karena kekhawatiran antimonopoli yang mungkin timbul dari penggabungan dua perusahaan transportasi daring dan pengiriman makanan yang dominan di Asia Tenggara.

Uber meninggalkan kawasan tersebut pada tahun 2018 dengan imbalan saham di Grab, dan pesaing yang lebih kecil belum menggerogoti pangsa pasar Grab dan GoTo secara signifikan di Indonesia dan Singapura.