Kumparan Logo

Dapat Kompensasi dari Negara, PLN Lunasi Utang Rp 30 Triliun Sebelum Jatuh Tempo

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas PLN menyiapkan UPS 100 KVA di Katedral. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Petugas PLN menyiapkan UPS 100 KVA di Katedral. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Manajemen PT Perusahaan Listrik Negara Tbk (Persero) atau PLN mengumumkan telah melunasi utang Rp 30 triliun sebelum jatuh tempo. Utang tersebut dibayar setelah perusahaan mendapatkan kompensasi dari negara sebesar Rp 45,4 triliun.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PLN, Sinthya Roesly, mengatakan pelunasan utang Rp 30 triliun sebelum jatuh tempo ini berdampak pada turunnya jumlah interest bearing debt (rasio utang kena bunga) menjadi sebesar Rp 452,4 triliun pada tahun buku 2020 dibandingkan tahun buku 2019.

Dia mengungkapkan kompensasi yang diterima PLN dari negara merupakan piutang untuk periode 2018 dan 2019. Selain itu, perusahaan juga berhasil menerbitkan Global Medium Term Notes (GMTN) senilai USD 1,5 miliar pada Juni 2020 dengan tingkat bunga lebih rendah dan tenor lebih panjang dibanding pinjaman sebelumnya.

Penerbitan GMTN tahun lalu meraup sukses besar dengan tingkat bunga jauh lebih murah dan kompresi harga dari indikatif awal sekitar 0,7 persen, dan memperoleh penawaran oversub dari para investor global.

"Ini merupakan rangkaian upaya liability management untuk menurunkan beban cash flow pinjaman dalam jangka panjang, serta upaya perbaikan cashflow terutama 5 tahun ke depan, penurunan beban bunga pinjaman, dan untuk mengendalikan Biaya Pokok Penyediaan Listrik dan subsidi seiring dengan turunnya beban bunga pinjaman," tutur Sinthya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/5).

Selain itu, langkah ini juga dilakukan untuk menurunkan kewajiban pinjaman melalui pelunasan atas pinjaman-pinjaman dengan tingkat bunga tinggi, sehingga beban keuangan perseroan menjadi lebih efisien. Dengan pelunasan pinjaman di luar jadwal pembayaran sekitar Rp 30 triliun tersebut, juga akan memperbaiki Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) bagi PLN.

Dengan adanya upaya-upaya tersebut, maka rasio leverage perseroan menjadi lebih baik dibanding tahun lalu. Tak hanya itu, kemampuan arus kas operasi untuk memenuhi kewajiban pinjaman baik pokok dan bunga pinjaman juga naik secara signifikan di tahun 2020.

PLN secara berkelanjutan juga senantiasa melakukan perbaikan dan pembenahan internal dengan potensi efisiensi dengan strategi oportunistik yaitu perolehan pinjaman baru dengan tingkat biaya pinjaman yang jauh lebih murah dan tenor lebih panjang dengan memanfaatkan kondisi pasar lokal dan global secara berkelanjutan.

"Di masa pandemi dan krisis global saat ini, kami memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan berbagai efisiensi biaya, perbaikan proses bisnis, dibarengi upaya untuk melakukan berbagai langkah untuk mencari dana murah serta menurunkan cost of fund," tambah Sinthya.

Ilustrasi penerapan protokol pencegahan COVID-19 di Kantor Pusat PLN. Foto: PLN

Di samping melakukan voluntary prepayment, sepanjang 2020 PLN juga melakukan diversifikasi pinjaman untuk mendapatkan cost of fund yang paling optimal, serta melakukan pengelolaan risiko keuangan melalui aktivitas lindung nilai (hedging) sesuai panduan yang diterbitkan Bank Indonesia.

Di sisi pengelolaan keuangan, pada 2020 melalui Program Transformasi, PLN juga membangun “Cash War Room” yang dikelola secara prudent dan dimonitor on daily basis, berfokus pada pengendalian likuiditas melalui berbagai inisiatif yang dijalankan di perusahaan.

Perusahaan juga mencetak laba bersih senilai Rp 5,99 triliun pada tahun 2020, atau naik Rp 1,6 triliun dari laba bersih tahun 2019 sekitar Rp 4,3 triliun.

“Kesuksesan ini kami tindak lanjuti dengan pengembangan Cash War Room 2.0. Implementasi Cash War Room 2.0 ini merupakan salah satu komitmen tinggi bagi manajemen PLN untuk melakukan transformasi, agar PLN lebih agile, adaptif, antisipatif, inovatif dan kolaboratif dalam rangka menjadikan PLN sebagai Perusahaan yang siap bertransformasi menjadi Perusahaan yang menang dalam persaingan dan sustainable dalam bisnis dan finansialnya,” pungkas Sinthya.