Dari Limbah Jadi Energi: Minyak Jelantah Cilacap Kini Mengangkasa Jadi Bioavtur
·waktu baca 4 menit

Minyak jelantah tak lagi sekadar limbah. Di tangan warga, cairan sisa penggorengan ini kini bisa bernilai lebih, bahkan menjadi komponen bahan bakar pesawat atau bioavtur.
Di Kelurahan Tegalreja, Cilacap Selatan, Cilacap Jawa Tengah, para ibu-ibu sudah memiliki kebiasaan rutin untuk mengumpulkan minyak jelantah agar dapat dijual kembali melalui Bank Sampah Beo Asri. Nantinya, minyak-minyak tersebut juga akan diserap oleh Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui kilang RU IV Cilacap untuk diolah menjadi bioavtur.
Sebelumnya, Pertamina memang sudah mulai memproduksi bioavtur alias Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku campuran Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah. Penggunaan SAF juga sudah diterapkan pada penerbangan komersial yang dioperasikan Pelita Air dengan rute Jakarta–Bali pada Rabu (20/8) dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Sri Widowati (75), seorang Local Hero Pertamina yang mengelola Bank Sampah Beo Asri menyambut baik inovasi Pertamina yang kini memproduksi SAF. Menurutnya, dampak limbah akibat minyak jelantah juga dapat diatasi dan bisa menghasilkan rupiah. Terkait hal tersebut, Sri juga menuturkan edukasi terus dilakukan kepada masyarakat di sekitar bank sampah.
“Karena kalau biasanya seperti tadi misalkan biasanya dibuang, itu kan juga buat limbah juga buat lingkungan, pencemaran. Tapi kalau ini sedikit-sedikit dikumpulkan bisa jadi uang,” ujarnya ditemui di Bank Sampah Beo Asri, Cilacap, Jawa Tengah pada Kamis (28/8).
Selain itu, dengan dimulainya produksi SAF di kilang RU IV Cilacap, semangat mengumpulkan minyak jelantah oleh warga ke bank sampah yang dikelolanya tersebut menjadi meningkat.
“Dengan pengumpulan minyak di jelantah ini yang tadinya hanya kita jual begitu saja ternyata di wilayah lokal ada bahan apa yang dibutuhkan langsung oleh Pertamina. Ini menambah semangat kita dan keuntungan kita untuk wilayah di sekitar Pertamina ini,” kata Sri.
Dalam pantauan kumparan, di Bank Sampah Beo Asri para masyarakat sekitar utamanya ibu rumah tangga secara rutin menyetorkan atau menjual minyak jelantah bekas pakai mereka dalam jangka seminggu sekali. Besarannya pun beragam, biasanya para ibu membawa minyak dengan botol air mineral bekas ukuran satu liter.
Dari situ, minyak ditimbang untuk kemudian dimasukkan ke wadah yang lebih besar. Setelah itu, penimbangan kembali dilakukan pada botol bekas yang sudah kosong, barulah besaran riil minyak yang dibawa para ibu dapat terlihat dalam ukuran kilogram (kg). Setelah itu, besaran akan dicatat untuk kemudian bisa ditukar menjadi uang tunai.
Jika minyak jelantah sudah terkumpul, maka minyak tersebut diteruskan untuk dijual ke Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa) sebelum nantinya diserap oleh Pertamina guna menjadi bahan SAF.
“Belinya Rp 5.000 (per kg dari masyarakat), kita jual ke Perbanusa, kadang-kadang Rp 7.200-Rp 7.300 (per kg). Mudah-mudahan nanti kalau memang Pertamina (SAF) itu sudah berjalan, sudah baik, otomatis harga stabil dan bisa lebih tinggi dari harga yang kemarin,” ujarnya.
Di Bank Sampah Beo Asri, Sri bercerita sudah ada 2.000 nasabah yang rutin menyetorkan minyak setiap pekannya. Meski begitu, setoran dilakukan secara bergantian selama sepekan.
Sebelum kilang RU IV membutuhkan minyak jelantah untuk SAF, Bank Sampah Beo Asri hanya menyalurkan minyak jelantah ke luar Cilacap sebagai bahan baku biodiesel. Dengan adanya permintaan dari kilang RU IV, kini Sri menarget Bank Sampah Beo Asri bisa mengumpulkan hingga 175 kg minyak jelantah dalam sebulan.
Saat ini, SAF memang baru diproduksi di kilang RU IV Cilacap. Meski demikian, Direktur Operasional Kilang Pertamina Internasional (KPI) Didik Bahagia menuturkan nantinya produksi juga akan dilakukan di kilang RU VI Balongan dan kilang RU II Dumai.
“Di Balongan, di Dumai dan juga di Balikpapan harapannya di tahun 2026 semester II, kita bisa memproduksi itu,” kata Didik di Refinery Unit IV Pertamina, Cilacap, Jawa Tengah pada Rabu (27/8).
Dengan replikasi yang dilakukan, Didik berharap jumlah SAF yang diproduksi juga dapat memenuhi kebutuhan penerbangan domestik.
“Dengan begitu, kita akan bisa menyerap UCO atau minyak jelantah kurang lebih 38 ribu kiloliter per tahun, dan produksi SAF tiga persen sekitar 1.236.000 kiloliter per tahun. Insyaallah ini bisa mencukupi kebutuhan seluruh penerbangan domestik,” ujarnya.
