Kumparan Logo

Dari Penerima Jadi Pemberi: Estafet Beasiswa untuk Anak-anak di Lereng Merapi dan Merbabu

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 11 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Willy Okta Fianus, siswa SMK Pius Magelang penerima beasiswa. Foto: kumparan Video
zoom-in-whitePerbesar
Willy Okta Fianus, siswa SMK Pius Magelang penerima beasiswa. Foto: kumparan Video

Willy Okta Fianus terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu ketika ibunya, Ruth, berjuang melawan kanker payudara. Pada saat yang sama, ia sendiri sedang dirawat karena infeksi saraf gigi.

Cobaan bertubi-tubi itu datang tepat ketika Willy bersiap menghadapi ujian kelulusan di SMP Pendowo Ngablak, Magelang.

“Agak buyar motivasi saya sekolah waktu itu… saya bertanya-tanya, ini mau gimana lagi,” kenang Willy kepada kumparan di Magelang, Selasa (20/10) lalu.

Willy pasrah. Ia merasa tak lagi sanggup mengejar nilai bagus untuk mengikuti seleksi beasiswa masuk SMK Pius X Magelang. Padahal, ia sangat membutuhkan beasiswa itu karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Ekonomi keluarga Willy memang menurun sejak ayahnya meninggal saat ia duduk di kelas 6 SD. Ketika Ruth terserang kanker payudara, ia bahkan sempat berhenti bekerja sebagai tukang masak di sebuah restoran. Penghasilan terhenti, sementara Willy akan melanjutkan ke jenjang berikutnya.

“Saya waktu itu frustrasi banget,” kata Ruth di rumahnya, di sebuah gang kecil di Ngablak, kaki Gunung Merbabu.

Kediaman Willy Okta Fianus, siswa SMK Pius Magelang, di sebuah gang kecil di Ngablak, kaki Gunung Merbabu. Foto: kumparan Video

Dengan kondisi itu, Willy sempat berpikir untuk langsung bekerja setelah lulus SMP. Ia tak ingin menjadi beban. Kebetulan, setiap akhir pekan ia sudah bekerja paruh waktu di sebuah kafe di kawasan Cuntel.

Penghasilan dari kerja paruh waktu itu ia gunakan untuk membantu ekonomi keluarga dan memenuhi kebutuhan sekolah. Namun, Ruth menolak rencana Willy.

“Pokoknya kamu harus sekolah… Kalau nggak sekolah, mau jadi apa? Saya tiap hari berdoa, mukjizat pasti nyata. ‘Tolong Tuhan, sembuhkan saya’, saya harus membiayai dia,” ucapnya.

Setelah sembuh dari infeksi gigi, Willy menggeber belajarnya. Hasilnya di luar dugaan: ia lulus dengan nilai rata-rata 87. Kegigihan itu mengantarkannya meraih beasiswa penuh di SMK Pius X Magelang jurusan tata boga. Seiring kabar baik tersebut, kondisi sang ibu pun berangsur pulih.

Willy Okta Fianus, siswa SMK Pius Magelang dan ibunya, Ruth. Foto: kumparan Video

Beasiswa yang Menghidupkan Kembali Mimpi

Beasiswa yang kembali menghidupkan mimpi Willy datang dari Aryata Giripati, pengusaha distribusi daging di Pamulang, Tangerang Selatan.

Pria yang akrab disapa Stanley itu mendanai pendidikan Willy dan lebih dari 60 anak kurang mampu lainnya di SMK Pius sejak 2013. Langkah itu ia lakukan sebagai wujud syukur atas beasiswa S2 yang ia terima lebih dari dua dekade lalu.

“Dulu cita-cita saya, kalau nanti setelah lulus dan berhasil, saya ingin melanjutkan program [beasiswa] ini, membantu mereka yang secara akademis baik, namun secara ekonomi patut dibantu,” jelas Stanley di kantornya di Pamulang, beberapa waktu lalu.

Stanley (Aryata Giripati), pengusaha yang menerima beasiswa S2 PSF pada 2003. Foto: kumparan Video

Stanley paham betul rasanya berada di posisi Willy. Ayahnya hanya PNS biasa, sementara ibunya mengurus rumah. Tumbuh di keluarga sederhana di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Stanley kecil sudah diajarkan mandiri oleh kedua orang tuanya.

“Diajarkan kalau mau punya uang ya kerja, usaha. Jadi saya sejak SMP sudah jualan pin, jualan buku. Untungnya buat jajan,” kenangnya.

Di bangku SMA, ia sudah mengajar les privat untuk anak-anak SD. Ia kemudian masuk Jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia (UI) lewat jalur prestasi dan membiayai kuliahnya sendiri dari hasil mengajar privat.

“Sebulan saya ngajar dua anak dapat Rp 300 ribu, uang kuliah waktu itu satu semester cuma Rp 125 ribu. Selama kuliah saya sudah nggak minta bantuan orang tua,” ucapnya.

Stanley dan keluarga di Universitas Indonesia. Foto: Dok. kumparanVideo

Mencari Jalan Naik Kelas

Stanley lulus S1 pada 1998 dan langsung dihadapkan pada pasar kerja yang sedang tidak baik-baik saja. Saat itu Indonesia dilanda krisis moneter, angka pengangguran tinggi, dan PHK melonjak.

Ia baru mendapat pekerjaan setahun kemudian di sebuah perusahaan beton, lalu pindah ke perusahaan produk konsumen (FMCG). Sekitar dua tahun bekerja, Stanley ingin melanjutkan ke jenjang magister (S2). Ia melihat beberapa temannya yang bergelar S2 mendapat jabatan dan karier yang lebih baik di perusahaan masing-masing.

“Pasca-98, waktu itu jumlah pengangguran banyak sekali. Kalau saya harus bekerja dengan kondisi yang ada tanpa meningkatkan kualitas pendidikan, agak sulit untuk bisa bertahan,” jelas Stanley.

Keinginan itu terbentur biaya. Stanley sadar tak mungkin meminta kepada orang tuanya, apalagi sang ayah sudah beberapa tahun terakhir terkena stroke.

“Jadi secara ekonomi nggak akan mampu [membiayai S2],” kata Stanley.

Stanley (Aryata Giripati) di Fakultas Manajemen UI Salemba, tempatnya dulu menempuh beasiswa S2. Foto: kumparan Video

Kesempatan Beasiswa S2 PSF

Selama dua tahun, Stanley berkali-kali melamar beasiswa ke berbagai kedutaan, tetapi selalu gagal. Hingga akhirnya, di sebuah koran, ia melihat tawaran beasiswa S2 dari Putera Sampoerna Foundation (PSF).

“Waktu itu syarat beasiswa ini adalah harus sekolah di magister manajemen atau ekonomi…karena saya ingin masuk ke lingkup pekerjaan yang lebih luas, tujuan saya dari dulu memang mengambil S2 ekonomi, khususnya manajemen,” jelasnya.

Seleksinya berlangsung bertahap, mulai dari penulisan esai, psikotes, hingga wawancara berlapis. Di tahap akhir, dari ratusan pelamar, terpilih 26 orang dari berbagai wilayah. Stanley termasuk di antaranya dan menempuh magister manajemen di kampus UI Salemba, Jakarta, pada 2003.

Ia dan teman-teman seangkatannya tak hanya mendapat biaya pendidikan penuh, tetapi juga uang saku, bantuan buku, komputer, hingga sepatu.

“Rasanya seperti jawaban atas doa-doa yang terkabul. Itu saya wujudkan dengan betul-betul menempuh pendidikan dengan baik,” ungkapnya.

Selama kuliah, para penerima beasiswa PSF juga dilatih menumbuhkan kepedulian lewat kegiatan sosial setiap empat bulan sekali, mulai dari membantu anak-anak jalanan di rumah singgah hingga merenovasi sekolah dan saluran air di suatu daerah.

PT Berkat Pangan Sejahtera. Foto: kumparan Video

Titik Balik Karier dan Lahirnya Usaha Daging

Stanley menyelesaikan S2 dalam 1,5 tahun. Selepas lulus, ia dengan mudah diterima di sebuah perusahaan FMCG dengan jabatan lebih tinggi.

“Itu titik balik saya, terutama dalam karier dan pekerjaan. Saya melamar sekali langsung diterima…karena ada predikat penerima beasiswa,” kata Stanley.

Setelah tiga tahun bekerja, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Berbekal ilmu manajemen semasa S2, Stanley memulai bisnis distribusi dan pemasok daging di bawah bendera PT Berkat Pangan Sejahtera Indonesia.

Stanley dan pegawainya di PT Berkat Pangan Sejahtera Indonesia. Foto: Dok. kumparanVideo

Ia mengawalinya dari sebuah gudang kecil di kawasan Lebak Bulus pada 2007.

Usahanya terus berkembang hingga operasionalnya pindah ke area yang lebih luas di Pamulang, Tangsel. Dari semula dibantu 15 orang, kini Stanley menghidupi hampir 50 karyawan.

“Setelah saya mendapat pendidikan yang lebih baik, jalannya malah makin terbuka lebar untuk kesempatan-kesempatan yang lebih baik,” ujarnya.

SMK Pius Magelang. Foto: kumparan

Melanjutkan Kebaikan di Lereng Merapi dan Merbabu

Tak hanya menghidupi karyawan, Stanley juga menghidupkan mimpi anak-anak kurang mampu di Magelang. Sejak 2013, setiap tahun ia menyisihkan keuntungan usahanya untuk memberikan beasiswa penuh kepada lima anak yang bersekolah di SMK Pius X Magelang.

Pemilihan sekolah itu tidak asal. Lewat seorang kenalan, Stanley memilih SMK Pius karena sekitar 80% lulusannya langsung terserap dunia kerja. Ia juga mendengar banyak anak berprestasi dari lereng Merapi dan Merbabu yang ingin masuk sekolah itu, tetapi terbentur biaya dan akhirnya menjadi buruh tani.

“Model beasiswa yang saya dapat dulu [dari PSF] saya gunakan persis pada beasiswa yang kita berikan kepada anak-anak di Magelang,” kata Stanley.

Kepala SMK Pius Magelang, Suster Antari Naning (paling kiri), dan beberapa guru berdiskusi dengan Stanley mengenai penyaluran beasiswa bagi siswa kurang mampu. Foto: kumparan Video

Kepala SMK Pius, Suster Antari Naning Yulianti, menjelaskan bahwa seleksi beasiswa diawali tes psikologi, lalu dilengkapi syarat rata-rata nilai rapor SMP minimal 85. Selain prestasi akademik, kemampuan nonakademik seperti keterlibatan di OSIS, perlombaan, dan kegiatan sosial juga diperhatikan.

Dari puluhan pendaftar, tim seleksi menyaringnya menjadi sekitar belasan orang. Mereka dan orang tuanya kemudian diwawancarai langsung di rumah masing-masing. Survei ini sekaligus mengukur apakah calon penerima benar-benar membutuhkan beasiswa.

“Kami survei, kemudian terpilih lima anak. Ini memberikan berkat tersendiri dan menolong banyak anak,” ucap Antari.

Seiring waktu, penerima beasiswa tak lagi hanya berasal dari Magelang. Di beberapa angkatan, ada siswa dari Lampung, Sulawesi Tenggara, hingga NTT. Menurut Antari, program ini telah berjalan selama 14 angkatan dengan lebih dari 60 penerima yang tersebar di jurusan kuliner (tata boga) serta desain dan produksi busana.

Clara Indri, siswi SMK Pius Magelang penerima beasiswa. Foto: kumparan

Menurut Antari, program ini menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak kurang mampu untuk mengejar mimpinya. Ia mencontohkan Clara Indri Widyawati, siswi penerima beasiswa yang kini duduk di kelas 12.

Indri yang semula pemalu kini beberapa kali menjadi model di sejumlah acara, termasuk meraih juara 1 lomba fashion show tingkat SMA/SMK di Magelang. Dari balik layar, karya busananya yang berbasis batik kawung pernah dipamerkan di Jogja Fashion Week pada Agustus 2026.

Perubahan positif itu turut dirasakan ibunya, Yuliana Susanti. “Perubahannya jauh. Dulu pemalu… tapi sekarang kok bisa jadi model. Kayak enggak nyangka,” kata Yuliana dengan wajah semringah.

Clara Indri, siswi SMK Pius Magelang (kiri), dan ibunya, Yuliana, di rumahnya di Desa Sumber, Magelang. Foto: kumparan Video

Tiga tahun lalu, Yuliana tak mengira anaknya bisa sampai di titik ini. Ditinggal suami berpulang saat Indri baru kelas 1 SD, ia melanjutkan hidup dengan bekerja di sebuah gereja. Dengan pemasukan yang tak seberapa, Yuliana enggan bermimpi terlalu tinggi. Ia bahkan mengira pendidikan Indri mungkin hanya sampai SMP.

“Mau kerja di toko atau ikut siapa di sawah. Enggak kepikiran kalau [Indri] bisa lanjut sekolah, karena memang saya enggak punya uang sama sekali,” kenang Yuliana kepada kumparan di rumahnya di Desa Sumber, kaki Gunung Merapi.

Sampai akhirnya informasi beasiswa datang dari tetangga desa. Indri, yang sejak SMP bercita-cita menjadi desainer ternama, seakan menemukan semangatnya kembali.

Clara Indri, siswi SMK Pius Magelang, dan baju rancangannya yang dipamerkan di Jogja Fashion Week 2026. Foto: kumparan Video

“Awalnya ragu-ragu karena yang dipertaruhkan nilai… tapi karena saya ingin tetap lanjut sekolah, saya mantap saja, siapa tahu rezeki,” ucap Indri.

Benar saja, Indri menjadi salah satu penerima beasiswa di angkatannya. Tahun depan ia lulus dan berharap bisa melanjutkan kuliah di jurusan Tata Busana, lalu suatu saat memiliki butik.

Jika diberi rezeki lebih, ia juga ingin membantu anak-anak di lingkungannya yang ingin bersekolah tetapi terkendala biaya.

Mimpi Willy yang Berapi-api

Mimpi serupa tengah diusahakan Willy, yang kini baru menjalani tahun pertamanya di SMK Pius. Sejak mendapat beasiswa, semangatnya menjadi chef profesional kembali berapi-api.

Ia bahkan sudah menata jalan hidupnya. Setelah lulus, Willy ingin bekerja di hotel selama beberapa tahun, lalu menjadi chef di kapal pesiar. Dari modal itu, ia ingin suatu saat membuka restoran.

“Saya mau bikin ibu bangga, sekaligus menepati janji saya ke ayah kalau saya bakal sukses,” janji Willy.

Kelak, Willy juga ingin membantu anak-anak yang tak bisa bersekolah. “Saya juga mau ngasih beasiswa,” tegasnya.

“Saya mendukung… karena kita merasakan betapa bersyukurnya saat kita nggak punya apa-apa tapi ada yang menolong,” timpal Ruth.

Willy Okta Fianus, siswa SMK Pius Magelang, pemerima beasiswa Foto: kumparan

Mimpi Willy membuka restoran bukan sesuatu yang mustahil. Kakak tingkatnya, alumnus penerima beasiswa Stanley bernama Kezia Lois Zefania, mulai membuktikannya. Lulusan tata boga SMK Pius 2019 itu kini mengelola Kedai Moody di dekat tempat tinggalnya.

Seperti Willy dan Indri, Lois juga bermula dari keterbatasan ekonomi. Kini ia sudah berdiri di atas kakinya sendiri. Padahal dulu hidupnya terasa lurus dan sempit: bangun, sekolah, pulang. Ia bahkan mengira pendidikan berhenti di bangku SMP.

“Oh, emang habis SMP masih sekolah lagi ya?” kenangnya sambil tertawa.

Kezia Lois Zefania, alumni SMK Pius Magelang penerima beasiswa. Foto: kumparan Video

Di SMK Pius, Lois menemukan banyak hal baru. Kesempatan kerja kasual dari sekolah membuatnya mengenal dunia kerja. Beasiswa penuh juga membuatnya tak perlu meminta uang jajan, sehingga orang tuanya bisa fokus mengurus nenek dan kedua adiknya.

Selepas lulus, Lois sempat bekerja di sebuah kafe hingga pabrik rokok, sebelum akhirnya memberanikan diri membuka kedai pada 2022. Ilmu dari sekolah terpakai dalam menjalankan bisnis itu, mulai dari menghitung harga pokok penjualan hingga melayani pelanggan.

“Enggak mungkin berdiri di sini kalau waktu itu enggak dapat beasiswa. Pasti jalannya udah beda… terus senang, soalnya enggak ngerepotin orang tua,” ujar Lois, yang bercita-cita membuka panti asuhan.

Kedai Moody di kawasan Ngablak Magelang, usaha rintisan Kezia Lois Zefania, alumni SMK Pius Magelang. Foto: kumparan Video

Estafet Kebaikan yang Terus Bergulir

Kisah estafet kebaikan itu, dari Stanley kepada para penerima beasiswa yang kelak meneruskannya, merupakan prinsip yang sejak awal dipegang Putera Sampoerna Foundation (PSF), lembaga yang dulu membiayai S2 Stanley.

Bagi PSF, beasiswa bukan sekadar bantuan biaya. Beasiswa diharapkan berdampak ganda dan berkelanjutan.

“Memberikan beasiswa itu bukan hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi merupakan investasi masa depan bagi individu itu sendiri dan generasi masa depan,” kata Head of Program & GuruBinar PSF, Juliana.

Menurut Juliana, para penerima beasiswa seperti Stanley bisa meneruskan program itu dengan caranya masing-masing karena mereka dibekali “DNA” PSF.

“Para penerima dibekali rasa caring (peduli) terhadap sesama, ownership terhadap program itu, dan pada akhirnya mereka give back to the community,” ujar Juliana.

Head of Program & GuruBinar PSF, Juliana. Foto: kumparan Video

Penerima Beasiswa Capai 43 Ribu

Hingga kini, PSF telah menyalurkan beasiswa kepada sekitar 43.000 penerima di 34 dari 38 provinsi. PSF tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng sekitar 100 mitra, baik swasta maupun pemerintah daerah.

Salah satu mitra sekaligus komunitas yang dijadikan rumah bersama oleh PSF adalah Sampoerna School System, yang terdiri dari Sampoerna Academy, Sampoerna University, dan Sampoerna Foundation.

Sampoerna Academy mengelola pendidikan berkualitas, sedangkan Foundation memberikan akses bantuan kepada guru-guru lain.

Adapun Sampoerna University telah meraih akreditasi NECHE (New England Commission of Higher Education), badan akreditasi pendidikan tinggi di Amerika Serikat yang standarnya disebut setara dengan Ivy League.

“Kami ingin memberikan cakupan kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda di Indonesia,” ujarnya.

Putera Sampoerna Foundation. Foto: Dok. kumparanVideo

Meski jangkauannya luas, pendekatan PSF disesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah. “Kami tidak memiliki program yang one size fits all, tetapi selalu mengawali program dengan analisis kebutuhan,” ujar Juliana.

Hal yang sama berlaku pada penerima beasiswa. Pada jenjang S1, kriteria utamanya adalah anak tidak mampu dari desil 1 hingga 3 yang dinilai lewat kunjungan rumah (home visit). Sementara untuk beasiswa S2, jenjang yang ditempuh Stanley, PSF berfokus pada kemampuan akademik penerima lewat tes tertulis, wawancara, esai, dan portofolio.

Gelontoran puluhan ribu beasiswa itu, kata Juliana, tak lepas dari komitmen pendiri PSF, Putera Sampoerna, yang sejak awal menyumbang Rp 1,5 triliun dalam bentuk beasiswa dan dukungan pendidikan lainnya.

Setelah 25 tahun berkiprah, PSF berharap program ini kelak menjadi warisan. “Harapan kami adalah setiap penerima beasiswa, sekecil apa pun, mampu berkontribusi menjadi solusi bagi masalah di lingkungannya,” kata Juliana.

Sementara itu, Stanley mengaku bahagia menengok perjalanannya, dari penerima beasiswa hingga kini menjadi pemberi. Ia senang melihat para penerima beasiswa berubah dan mulai berkontribusi, minimal bagi keluarga mereka.

Ke depan, ia berharap para alumni yang sudah sukses meneruskan kebaikan itu. Bentuknya tak harus berupa beasiswa; mereka bisa membangun komunitas belajar atau membantu adik-adiknya melanjutkan sekolah.

“Itu suatu kebanggaan tersendiri buat saya. Artinya program ini akhirnya ada yang meneruskan,” tutup Stanley.

Stanley (Aryata Giripati) dan siswa-siswi SMK Pius Magelang penerima beasiswa. Foto: kumparan Video