Dari Perjuangan Kuliah hingga Dapat Beasiswa SPX, Kisah 3 Anak Kurir

Tiga anak kurir ini punya jalan berbeda untuk bisa melanjutkan pendidikan. Kesempatan mendapatkan beasiswa membantu mereka mengejar kampus impian sekaligus membawa harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Bagi sebagian keluarga, masuk perguruan tinggi bukan hanya soal lolos seleksi. Ada pertanyaan lain yang ikut muncul setelahnya: bagaimana membayar biaya pendidikan hingga lulus? Pertanyaan itu juga sempat terlintas di benak Raka Naufal Zulian, mahasiswa asal Bandung yang diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Oseanografi.
Raka bahkan sempat berpikir untuk mundur dari ITB karena tidak ingin menambah beban keluarganya. Adiknya masih bersekolah dan membutuhkan biaya pendidikan. Namun, kesempatan itu akhirnya tetap bisa ia jalani setelah mendapat beasiswa dari Ekspedisi SPX, tempat ayahnya, Endang Budiman, bekerja sebagai kurir dengan performa kerja yang baik.
Bagi keluarga Raka, kuliah di ITB juga punya arti tersendiri. Ayah dan ibunya hanya tamatan SMA, sehingga Raka diharapkan menjadi sarjana pertama di keluarga. Sejak SMP, Raka dikenal aktif dalam olimpiade sains nasional, sementara sang ayah bekerja sebagai kurir untuk menopang kebutuhan keluarga.
Dalam rekaman pengumuman beasiswa, Endang mengaku sangat bahagia karena kuliah di perguruan tinggi menjadi impian keluarganya. Raka sendiri menyadari bahwa beasiswa yang diterimanya bukan hanya bergantung pada capaian akademik atau motivasinya, tetapi juga performa sang ayah sebagai kurir.
“Aku sempat kepikiran kayak, apa mungkin aku mundur aja ya dari ITB... Karena aku juga nggak terlalu pengen ngebebanin keluarga aku, karena kan adik aku juga masih sekolah, dia masih perlu pembiayaan ke depannya,” kata Raka dalam sebuah wawancaran dengan kumparan.
Beasiswa itu membuat Raka dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus mengorbankan kebutuhan keluarga. Ia kini ingin memanfaatkan ilmu Oseanografi untuk ikut berkontribusi pada Indonesia, terutama karena masih banyak potensi dasar laut Indonesia yang menurutnya belum dimanfaatkan sepenuhnya.
Cerita serupa datang dari Mathew Francesco Lumban Batu. Ia diterima di Teknik Elektro Universitas Indonesia (UI), jurusan dan kampus yang sudah menjadi impiannya sejak duduk di bangku SMP. Mathew masuk tiga besar penerima beasiswa tersebut.
Jalan Mathew menuju kampus impian tidak selalu mulus. Ia pernah gagal masuk sekolah unggulan yang diinginkannya. Sang ayah bercerita bahwa sejak SMP hingga SMA, Mathew memang terus berusaha mengejar sekolah unggulan, tetapi baru bisa mewujudkannya ketika masuk perguruan tinggi negeri.
Dalam skema beasiswa yang diterima Mathew, performa sang ayah sebagai kurir menyumbang 40% penilaian pengajuan, sedangkan 60% lainnya berasal dari nilai akademik Mathew. Bagi Mathew, pencapaian itu terasa emosional karena akhirnya ia diterima di jurusan, fakultas, dan universitas yang sudah lama diimpikannya.
“Sampai terharulah, masuk urutan ketiga. Karena memang merupakan jurusan, fakultas, dan juga universitas impian sejak saya waktu di SMP,” ujar Mathew.
Ia juga menyebut perjuangan ayahnya sebagai bagian penting dari kesempatan tersebut. Selama melihat sang ayah bekerja sebagai kurir dan driver, Mathew menyadari bahwa performa ayahnya ikut menentukan apakah ia bisa mendaftar beasiswa.
“Saya sangat berterima kasih ke Bapak, karena Bapak sudah berusaha begitu keras. Terutama selama saya melihat Bapak jadi kurir, jadi driver. Ya, karena kan kalau misalkan Bapak juga performanya jelek, pasti saya tidak bisa daftar beasiswa,” kata Mathew.
Bukan Sekadar Beasiswa, Ada Harapan untuk Keluarga
Sementara itu, perjalanan Bilqis Yukiko S dari Sukabumi menuju bangku kuliah memiliki cerita yang berbeda. Ia sempat masuk pesantren, tetapi hanya bertahan sekitar dua bulan karena merasa tidak cocok. Karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan sekolah ke SMA, Bilqis kemudian memilih mengejar Paket C.
Di tengah perjalanan pendidikannya, Bilqis juga berusaha mencari penghasilan. Ia pernah berjualan makanan dan kopi sejak SMP, kemudian menjalankan penjualan pakaian secara online melalui live streaming. Ia bahkan pernah menjalankan bisnis thrifting selama sekitar satu tahun sebelum akhirnya bekerja sebagai daily worker di sebuah konveksi pakaian anak di Sukabumi.
Saat ini Bilqis diterima untuk melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Nusa Putra Sukabumi. Ayahnya yang juga bekerja sebagai kurir menjadi pihak yang memberi tahu adanya program beasiswa tersebut dan mendorong Bilqis untuk mendaftar.
Bagi Bilqis, keterbatasan ekonomi keluarga justru menjadi alasan untuk terus mencari jalan agar bisa melanjutkan pendidikan. Penghasilan ayahnya harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, termasuk biaya sekolah adik-adiknya dan kontrakan rumah. Karena itu, ia mencari berbagai peluang beasiswa untuk membiayai kuliahnya.
“Karena melihat dari keluarga saya yang emang ekonominya menurun, jadi saya bersemangat untuk bisa menaikkan perekonomian keluarga,” ujar Bilqis.
Pengalaman berjualan sejak remaja juga membentuk cita-cita Bilqis. Ia ingin mempelajari manajemen dan suatu hari membangun usaha sendiri di bidang fashion. Untuk mewujudkannya, ia berencana bekerja lebih dulu untuk mengumpulkan pengalaman dan modal, sebelum membangun usaha sendiri.
Bahkan, Bilqis sudah memiliki gambaran awal mengenai bisnis yang ingin dibangun. Ia ingin menjual pakaian yang bisa digunakan untuk bekerja maupun aktivitas santai, lalu mengembangkan usahanya hingga memiliki konveksi sendiri ketika sudah memahami pasar dan memiliki modal yang cukup.
“Saya ingin memakai ilmu tersebut untuk membangun usaha sendiri. Dan untuk usaha yang saya ingin bangun itu di dalam dunia fashion,” kata Bilqis.
Harapan Bilqis tidak berhenti pada keberhasilan pribadi. Ia ingin pendidikan yang ditempuhnya kelak bisa menjadi jalan untuk membantu keluarganya. Salah satu impiannya adalah dapat meringankan beban orang tua dan membantu biaya pendidikan adik-adiknya.
“Untuk kebanggaan orang tua menurut saya itu, saya bisa membantu perekonomian mereka, dan kalau bisa untuk di masa depan nanti, saya bisa membantu untuk membiayai adik-adik saya, terutama untuk pendidikan,” ujar Bilqis.
