Dari Sabang, UMKM Daerah Ini Buktikan Bisa Bersaing di Tingkat Global
·waktu baca 7 menit

Peran UMKM telah lama menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dengan jumlah yang mencapai 99 persen dari total unit usaha, keberadaannya tidak hanya mendominasi struktur ekonomi nasional, tapi juga menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, serta pertumbuhan masyarakat lokal.
Tak terkecuali di daerah ujung barat Indonesia, Sabang. Ya, salah satu kota kepulauan yang masuk ke dalam Provinsi Aceh ini ternyata tidak hanya dikenal dengan keindahan lautnya yang memikat. Sabang juga menjadi rumah bagi UMKM tangguh yang punya mimpi besar memperkenalkan hasil alamnya ke kancah yang lebih luas.
Beberapa di antaranya telah mampu membawa produk lokalnya naik kelas, bahkan siap bersaing di tingkat internasional. Seperti dua UMKM asal Sabang yang perlahan mulai berkembang lewat produk-produk unggulannya.
Cokbang Sabang Angkat Cita Rasa Kakao Lokal ke Panggung Nasional
Belum banyak yang tahu kalau Sabang merupakan salah satu daerah penghasil kakao berkualitas yang memiliki cita rasa unik. Kakao dari Pulau Weh atau Sabang memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya rasa khas nutty nan kompleks yang membuatnya cocok sebagai bahan baku cokelat premium.
Selain itu, kakao dari Sabang juga tumbuh di lingkungan subur dan bebas polusi, sehingga turut memengaruhi kualitas rasa dan tekstur bijinya. Terlebih, proses penanaman dan fermentasi juga masih dilakukan secara tradisional oleh petani lokal, sehingga menghasilkan biji yang lebih sehat.
Potensi inilah yang menjadi cikal-bakal lahirnya Cokbang atau singkatan dari Cokelat Sabang. Pemilik usaha Cokbang, Melan, pun mengungkapkan bahwa motivasi awalnya mengembangkan brand ini sederhana, yakni ingin memperkenalkan produk asli Sabang yang mungkin belum dikenal banyak orang, terutama dari luar Sabang dan Aceh.
“Usaha ini awal mulanya kami dirikan pada 2023, motivasi awal kami ingin membangun usaha ini sebenarnya cukup sederhana, kita ingin meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkenalkan kakao khas Sabang yang berbeda dari kakao di luar sana,” terang Melan.
Melan mengaku, meski menjadi salah satu produk pertanian utama di Sabang, dulu harga jual biji kakao mentah dipatok sangat rendah, bahkan pernah mencapai Rp 4.000 per kilogram. Padahal, dengan rasa khas dan berbeda dari biji cokelat biasanya, Melan yakin produk pertanian asli Sabang ini memiliki kualitas yang terjamin.
Oleh karena itu, langkah awal yang dilakukan Cokbang adalah memotong rantai penjualan ke tengkulak, sehingga petani kakao di Sabang bisa mendapatkan harga yang lebih adil. Biji cokelat yang dibeli langsung dari petani lokal pun kemudian diolah secara tradisional, mulai dari proses pengeringan, penggilingan, hingga pengemasan.
Dari biji kakao yang dulu dijual murah, kini lahirlah produk olahan cokelat dengan nilai tambah tinggi. Cokbang pun kini telah memiliki beberapa produk cokelat, mulai dari cokelat batang aneka rasa, bubuk kakao, hingga yang paling unik ada choco nibs atau biji cokelat kering yang bisa disantap langsung maupun disajikan sebagai topping makanan.
Dukungan dari Rumah BUMN Sabang yang berada di bawah naungan Telkom Indonesia pun semakin memudahkan Cokbang dalam meningkatkan kualitas, memperbaiki kemasan, dan memanfaatkan strategi pemasaran digital.
“Alhamdulillah Rumah BUMN Sabang bisa memfasilitasi, memberi banyak masukan, pelatihan, dan bantuan akses, termasuk NIB, sertifikasi halal, PIRT, dan lainnya. Begitu juga akun media sosial, akun marketplace, kami banyak dibantu oleh Rumah BUMN Telkom,” jelas Melan.
Bersama Rumah BUMN Sabang, tambahnya, Cokbang pun semakin percaya diri membawa produknya ke event nasional dan internasional.
“Rumah BUMN Sabang banyak menghubungkan kami dengan pameran-pameran, seperti IKRA hingga pameran di luar negeri. Kami juga berkesempatan mengikuti pameran di Malaysia hingga akhirnya kini memiliki peralatan yang lebih mumpuni untuk skala produksi rumah tangga,” pungkas Melan.
Keresahan Akan Kesehatan Keluarga Jadi Jalan JamoeAja! Makin Dikenal
Berawal dari keresahan pribadi melihat orang-orang di sekitarnya terus-terusan mengonsumsi obat berbahan kimia saat sakit, Afni, pemilik brand JamoeAja! pun bertekad menghadirkan alternatif minuman sehat yang lebih alami. Ia pun teringat warisan tradisi jamu Nusantara yang kaya akan manfaat, namun kerap dipandang kuno dan kurang praktis.
Keprihatinan itu pun berubah menjadi motivasi untuk berinovasi. Berbekal ilmu yang Ia dapatkan sebagai lulusan Ilmu Kimia, Afni meracik jamu berbahan rempah lokal Sabang dengan tampilan modern, rasa yang lebih enak, serta kemasan yang lebih praktis.
“Motivasi saya usaha ini ada dua. Pertama adalah keresahan pribadi saat melihat kondisi keluarga dan masyarakat yang ketergantungan obat-obat kimia ketika sakit, bahkan untuk sakit yang ringan. Kedua adalah menciptakan lapangan kerja, jadi misi saya adalah memberi manfaat kepada masyarakat di sekitar saya,” jelas Afni.
Pada awalnya, Afni hanya memproduksi jamu kunyit rempah yang dipasarkan secara manual sesuai dengan pesanan melalui pesan singkat. Lama-kelamaan, produknya semakin dikenal karena manfaatnya yang terasa.
Seiring produknya yang kian dikenal, brand JamoeAja! pun mulai memproduksi produk lain, mulai dari jamu sereh lemon, hingga produk best seller-nya, Jamu Jahe Rempah Celup yang praktis dibuat di mana saja.
Namun, perjalanan membangun JamoeAja! tak lantas menjadi mudah. Afni sempat menghadapi banyak tantangan, mulai dari keterbatasan modal, peralatan produksi yang sederhana, hingga sulitnya memperluas pemasaran di luar lingkaran kenalan.
Kesulitan memperkenalkan jamu dalam bentuk baru juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang masih menganggap jamu kuno, pahit, dan kurang praktis, sehingga butuh waktu bagi Afni untuk meyakinkan pasar bahwa jamu bisa hadir dengan rasa enak dan kemasan modern.
Perjalanan JamoeAja! kemudian mendapat dorongan besar melalui kehadiran Rumah BUMN Sabang. Melalui pelatihan pengembangan produk, pemasaran digital, hingga pendampingan perizinan, Afni semakin percaya diri mengembangkan brand-nya.
“Pertama kali saya bertemu Rumah BUMN ketika saya diundang suatu pelatihan. Rumah BUMN menjadi pemateri yang mengajarkan tentang label produk. Setelah acara, saya dibantu untuk mengurus NIB, sertifikasi halal, PIRT, dan akhirnya mereka semakin merangkul brand JamoeAja!,” terang Afni.
“Setelah re-branding, masyarakat semakin tertarik dengan jamu kami. Apalagi Rumah BUMN mengajak kami mengikuti beberapa bazar hingga ke Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam, yang membuat kami bertemu pelanggan baru,” tambahnya.
Berkat dukungan ini, produk jamu lokal Sabang bukan hanya lebih diterima masyarakat, tetapi juga mulai dikenal oleh wisatawan lokal hingga mancanegara sebagai pilihan sehat yang membanggakan Tanah Sabang.
Rumah BUMN Sabang jadi Harapan UMKM Lokal
Tidak hanya mengutamakan kualitas dan inovasi produk, berkembangnya dua UMKM ini tidak lepas dari kemauan untuk beradaptasi mengikuti perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi.
Dengan begitu, mereka bisa tetap relevan serta mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang kini banyak bergeser ke arah digital.
Peringatan Hari Bhakti Postel ke-80 yang jatuh pada 27 September 2025 pun menjadi momen bagi Telkom untuk menegaskan kembali komitmen mereka terhadap konektivitas yang merata, pemberdayaan UMKM, dan penguatan kedaulatan digital Indonesia.
Ya, Telkom Indonesia melalui program Rumah BUMN Sabang pun turut memperkuat langkah Cokbang, JamoeAja!, dan lebih dari 800 pelaku UMKM lainnya dengan membangun konektivitas yang merata dari segala sektor.
Rumah BUMN Sabang menjadi wadah bagi pelaku bisnis UMKM untuk mendapatkan berbagai program pelatihan, Rumah BUMN Sabang membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk, mulai dari standar pengolahan, pengemasan, hingga sertifikasi yang dibutuhkan agar produk bisa menembus pasar lebih luas.
Di bidang pemasaran, Rumah BUMN memberikan bimbingan digital marketing, pembuatan konten kreatif, serta akses ke marketplace agar produk UMKM Sabang tidak hanya dikenal di lingkup lokal, tetapi juga di pasar nasional bahkan global.
“Sebagian besar UMKM yang kami bina dimiliki oleh ibu-ibu yang mungkin masih gagap teknologi. Jadi, di sini peran kita membantu mereka ‘connect’ dengan (konsumen) luar dengan berbagai cara, mulai dari membuatkan email, WhatsApp Business, media sosial, dan marketplace,” terang Nadia, salah satu fasilitator Rumah BUMN Sabang.
Selain itu, Rumah BUMN Sabang juga berperan dalam memfasilitasi pengurusan legalitas dan perizinan, seperti NIB, PIRT, sertifikasi halal, hingga HAKI, yang sering menjadi kendala utama bagi UMKM.
Adanya program inkubasi bisnis dan akses permodalan dari Rumah BUMN Sabang juga turut memperkuat pondasi usaha pelaku UMKM.
Dengan peran strategis tersebut, Rumah BUMN Sabang berhasil menjadi jembatan antara potensi lokal Sabang dengan peluang yang lebih besar. Pelaku UMKM binaannya pun lebih siap bersaing sekaligus memberi inspirasi meskipun berada di wilayah terluar Indonesia.
