Kumparan Logo

Data dan Fakta Capaian Program Kartu Prakerja 2021

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kartu Prakerja. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kartu Prakerja. Foto: Shutterstock

Pemerintah secara resmi menutup penyelenggaraan program Kartu Prakerja tahun 2021 pada Rabu (15/12). Dibuka pertama kali pada 11 April 2020, program Kartu Prakerja menjadi peluang bagi pencari kerja dan orang-orang yang terdampak pandemi untuk memperbaiki perekonomiannya.

Melalui Perpres Nomor 76 Tahun 2020 tentang Program Pelaksanaan Kartu Prakerja, pemerintah memang menargetkan kelahiran wirausaha baru sekaligus peningkatan kompetensi, produktivitas, dan daya saing dalam bekerja lewat program ini.

Sejak awal dibuka, program Kartu Prakerja pun tak pernah sepi peminat. Bahkan dalam dua tahun pelaksanaannya, tercatat sebanyak lebih dari 83 juta orang mendaftar dan 11,4 juta menjadi penerima yang berhak mengikuti program pelatihan dan mendapatkan insentif.

Lebih lanjut, pada 2021, sebanyak 5,9 juta orang menjadi penerima Kartu Prakerja. Lalu sebanyak 5,7 juta atau 98 persen peserta berhasil menerima insentif dengan total dan yang telah disalurkan mencapai Rp 13,62 triliun. Seiring perjalanan program semi bansos tersebut, tata kelola pelaksanaannya pun semakin baik.

Masyarakat juga makin memahami cara mendaftar dan bagaimana memanfaatkan program Kartu Prakerja untuk meningkatkan keterampilan dirinya. Hal ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya penerima program yang dicabut kepesertaannya karena tidak kunjung mengambil pelatihan pertama dalam waktu 30 hari setelah diterima. Yakni sebanyak 478 ribu atau 7,9 persen di 2020, menjadi 88 ribu atau 1,4 persen di 2021.

Berdasarkan hasil survei Cyrus Network pada Mei 2021, 66,4 persen responden setuju dan 32,5 persen sangat setuju bahwa program Kartu Prakerja memberi manfaat, baik dari sisi pelatihan maupun penyaluran insentif. Selain itu, survei yang diikuti 2.000 responden dari peserta maupun alumni Kartu Prakerja juga memaparkan, 96,8 persennya menyatakan bahwa mereka memerlukan program Kartu Prakerja dan setuju jika pemerintah melanjutkan program ini.

Sedangkan dari sisi ekosistem, kualitas pelatihan Kartu Prakerja dinilai baik dengan rata-rata rating 4,9 dari skala 5. Apalagi setiap pelatihan dalam ekosistem Kartu Prakerja harus melewati proses asesmen dan pemantauan ketat oleh 8 institusi pendidikan mitra asesmen, serta pemantau independen.

Inklusi keuangan juga ikut mengalami dampak positif, dibuktikan dari hasil Studi Evaluasi Dampak Program Kartu Prakerja yang dikeluarkan The Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) Southeast Asia (SEA). Dari sisi layanan keuangan, penerima Kartu Prakerja lebih berpeluang memiliki e-wallet 53 persen lebih tinggi daripada non-penerima, serta memiliki probabilitas 40 persen lebih tinggi untuk belanja daring menggunakan e-wallet-nya.

Selain berdampak pada inklusi keuangan, studi J-PAL SEA juga menunjukkan adanya dampak positif dari Program Kartu Prakerja terhadap ketahanan pangan, kewirausahaan, pendapatan, serta ketahanan finansial para penerima Kartu Prakerja.

Program Kartu Prakerja terbukti secara ilmiah memberikan dampak positif kepada penerimanya. Hal ini ditunjukkan dengan 18 persen 18 persen lebih tinggi peluangnya untuk memulai pekerjaan baru, dan 6 persen peningkatan ketahanan pangan dibandingkan non-penerima.

Media briefing Sherpa Meeting G20 oleh Menlu RI Retno Marsudi dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa (7/12). Foto: YouTube/PerekonomianRI

Apresiasi pun diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam Konferensi Pers Penutupan Seri Program Kartu Prakerja Tahun 2021. Ia menyebutkan bahwa keberhasilan program Kartu Prakerja menjadi contoh bagi Presidensi Indonesia di Group of Twenty (G20).

“Secara khusus, terkait dengan inklusivitas keuangan yang dilakukan, program Kartu Prakerja dapat menjadi contoh bagi Presidensi Indonesia di Group of Twenty (G20). Program ini dapat direplikasi untuk emerging countries atau negara berkembang lainnya,” ungkapnya.

Bahkan Airlangga mengatakan, program Kartu Prakerja juga mendapat pujian dari Bank Dunia sebagai program yang mampu meningkatkan daya beli dan memberikan pelatihan bagi masyarakat.

"Kartu Prakerja juga dinilai World Bank sebagai program pemerintah yang memberikan akses modal kepada masyarakat, meningkatkan daya beli, dan memberikan pelatihan yang sesuai situasi masyarakat saat ini," ujar Airlangga.

Karenanya, Airlangga Hartarto memastikan Program Kartu Prakerja akan berlanjut pada 2022 sebagai menjadi wadah masyarakat meningkatkan kemampuan sekaligus jaring pengaman sosial di masa pandemi. Di tahun depan, Program Kartu Prakerja akan mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp 11 triliun.

Artikel ini merupakan bentuk kerja sama dengan Kartu Prakerja