Daya Beli Tertekan, Warga Jepang Beralih dari Minimarket ke Supermarket Diskon

Kenaikan inflasi inti di Jepang memicu lonjakan harga kebutuhan hidup hingga menggeser pola konsumsi masyarakat.
Sejumlah konsumen yang sebelumnya terbiasa berbelanja di minimarket (konbini) kini beralih ke supermarket diskon demi menekan pengeluaran rumah tangga.
Berdasarkan laporan The Japan Times, Sabtu, (31/10), Kana Sekiya (43), seorang warga Tokyo, mengaku telah memangkas rutinitas belanja harian di minimarket dekat stasiun kereta.
Ia kini memilih berkendara lebih dari 30 menit pada akhir pekan untuk membeli pasokan kebutuhan pokok dalam jumlah besar di supermarket diskon seperti Lopia dan OK.
"Saya benar-benar sudah berhenti pergi ke minimarket karena kenaikan biaya hidup," kata Sekiya.
Data Bank of Japan (BOJ) mencatat inflasi inti pada September 2026 mencapai 2,1 persen secara tahunan, melampaui target bank sentral sebesar 2 persen.
Pada saat yang sama, produsen makanan dan minuman di Jepang telah menaikkan harga pada lebih dari 20.000 produk sepanjang 2026 akibat pelemahan yen dan tingginya harga minyak dunia.
Asosiasi Waralaba Jepang (Japan Franchise Association) mencatat penurunan jumlah pengunjung minimarket selama 15 bulan berturut-turut.
Per September 2026, jumlah pelanggan merosot 3,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, penurunan terdalam sejak pandemi COVID-19 pada September 2021.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi perekonomian Jepang, mengingat konsumsi swasta menyumbang sekitar separuh dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Merespons pergeseran ini, pemilik jaringan 7-Eleven, Seven & I Holdings, meluncurkan lini merek mandiri Seven The Price dengan harga 20 persen lebih murah. Sementara itu, FamilyMart memberikan paket diskon sarapan dan mulai memasang mesin mainan capit boneka di 5.000 gerainya untuk memicu pendapatan tambahan.
Sebaliknya, ritel diskon seperti Seiyu, yang diakuisisi Trial Holdings, mencatat kenaikan jumlah pelanggan sebesar 6,9 persen secara tahunan pada September 2026 lewat penawaran produk pangan murah, seperti paket nasi babi goreng seharga 299 yen.
Sensitivitas harga juga berdampak ke sektor ritel pakaian. Induk usaha Uniqlo, Fast Retailing, bahkan membatalkan rencana kenaikan harga produk kaus kaki harian yang semula dijadwalkan berlaku pada November.
Peneliti NLI Research Institute Taro Saito memproyeksikan inflasi Jepang dapat menembus 3 persen pada awal 2027 seiring lonjakan harga energi global, yang diperkirakan akan memperpanjang tren pertumbuhan negatif pada upah riil pekerja.
