Kumparan Logo

Dear Fahri Hamzah, Ini Alasan Tiang LRT Harus Tinggi-tinggi

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembangunan LRT Jabodebek di Jalan HR Rasuna Said (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pembangunan LRT Jabodebek di Jalan HR Rasuna Said (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah curiga proyek Light Rail Transit (LRT) dibangun elevated atau melayang di atas tiang tinggi agar anggarannya bisa digelembungkan. Kata Fahri, mestinya LRT dibangun di bawah tanah.

Menanggapi hal itu, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menegaskan, sebelum pembangunan LRT di Jakarta maupun Palembang dimulai, terdapat studi yang dilakukan konsultan independen.

“Sebelumnya jelas ada studi. Tidak mungkin kita mengerjakan sesuatu tanpa dasar,” ujarnya saat ditemui di Harris Hotel Tebet, Jakarta, Selasa (26/6).

Bambang menjelaskan, pembangunan LRT dilakukan melayang di atas tiang pancang yang tinggi karena terdapat infrastruktur yang dibangun terlebih dulu, misalnya jembatan penyeberangan orang. Hal itu sesuai dengan rekomendasi studi.

“Kalau di bawah kan sudah ada proyek MRT (Mass Rapid Transit) kalau Jakarta. Belum tentu juga lebih murah kalau di bawah tanah. Kita membangun tinggi itu bukan mengada-ada,” paparnya.

Terkait tudingan biaya pembangunan LRT di Indonesia lebih mahal dibandingkan negara lain, dia juga membantah. Sebab berdasarkan evaluasi Kemenhub, biaya pembangunan LRT di Indonesia lebih murah dibandingkan Malaysia dan Thailand.

“Di Ditjen KA Kemenhub sudah mengevaluasi, ternyata itu lebih murah dibandingkan Malaysia sama Thailand. Angkanya saya lupa, sekitar 5-10% lebih murah,” tegas Bambang.

Secara terpisah, Deputi III Bidang Koordinasi Infrastruktur Kemenko Kemaritiman Ridwan Djamaluddin mengatakan, pembangunan LRT yang melayang bertujuan untuk menghindari infrastruktur transportasi yang lain di tanah. Sebab, jika LRT dibangun di bawah akan menambah perlintasan sebidang yang membuat macet.

“Terlalu banyak perlintasan, nanti jadi enggak efisien juga. Tujuannya (LRT) mengurangi kepadatan lalu lintas, kalau banyak perlintasan sebidang nanti salah satu LRT terhambat atau lalu lintas jalannya terhambat. Itu soal perhitungan teknis sih,” katanya.

Adapun tiang-tiang pancang atau elevated penyangga lintasan LRT dibuat tinggi menurut Ridwan juga merupakan keputusan teknis. Katanya, PT Adhi Karya sudah membuatnya dengan matang mengapa tiap tinggi tiang beda-beda tergantung kemiringan lahan.

“Kalau itu sangat teknis, paling pas menjawab Adhi Karya karena desain mereka yang bikin, tapi yang pasti terkait operasional karena kelerengan harus tertentu, dia kan banyak perlintasan-perlintasan sehingga harus diangkat,” lanjutnya.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Ridwan juga membantah pernyataan Fahri yang sempat menyatakan bahwa LRT dan tiang-tiang penyangganya yang tinggi menguras keuangan negara. Fahri mengklaim dengan pembanguan LRT menempel tanah, bahkan di bawah tanah (underground) bisa lebih menghemat anggaran.

“(Underground) malah lebih mahal. Kan harus digali, ada kabel, saluran air macam-macam. Jadi dari biaya lebih mahal. Selain biaya, sama masalahnya seperti membangun MRT, informasi bawah permukaan kita kurang lengkap, mesti disurvei,” ujarnya.

Ridwan menegaskan bahwa sebelum pembangunan LRT sudah dilakukan feasibility study terlebih dahulu. Sehingga semua aspek sudah dipertimbangkan termasuk tinggi tiang. Dia juga mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk LRT sudah dihitung cermat. Apalagi pembangunan ini menggunakan dana konsorsium swasta, bukan dari APBN.

“Tapi kalau saya bilang sudah dihitung, diaudit, kalau swasta kan banyak pasti mereka juga cermat. Ini kan bukan dari APBN, tapi swasta. Pasti konsorsium pendanaan pasti menghitung,” pungkasnya.