Kumparan Logo

Defisit Rp 319 T hingga September 2026, Menkeu Tegaskan APBN Tak Tekor

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan pendapat akhir mewakili Presiden pada Rapat Paripurna DPR RI ke-7 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan pendapat akhir mewakili Presiden pada Rapat Paripurna DPR RI ke-7 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak tekor meski defisit mencapai Rp 319 triliun hingga September 2026.

Suahasil menyebutkan bahwa defisit tersebut setara 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan ditargetkan pada akhir tahun 2026 defisit APBN mencapai 2,85 persen. Dia menegaskan bahwa angka tersebut sudah diperhitungkan.

Adapun defisit anggaran negara terjadi karena realisasi belanja negara hingga September lebih besar dibandingkan pendapatan yang telah terkumpul.

“Saya tahu media paling suka pakai kata tekor. Ini bukan sekedar tekor, ini on track, karena memang APBN kita desain defisit, kenapa? Karena kita ingin belanja saat ini supaya manfaat bagi masyarakat itu benar-benar maksimal dari hari ke hari,” tegasnya saat konferensi pers APBN KiTA September 2026, Jumat (9/10).

Hingga September 2026, pendapatan negara secara total tumbuh 25,5 persen dan mencapai 74,2 persen dari target APBN, sementara belanja negara naik 19 persen.

“Ini adalah kondisi yang sehat. Kita tahu kalau akhir September itu berarti 3/4 tahun, itu sekitar 75 persen. Jadi kalau pendapatan negara sudah terkumpul 74 persen, ini on track,” kata Suahasil.

Adapun realisasi penerimaan pajak mencapai 68 persen sebesar Rp 1.607 triliun, dan mengalami kenaikan 24,1 persen. Hal ini didukung oleh percepatan proses restitusi pajak industri padat karya dan UMKM.

Kemudian penerimaan bea dan cukai sudah terkumpul Rp 240,1 triliun, tumbuh 8,5 persen, sedangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 492,3 bahkan sudah melebihi target APBN.

Suahasil menyebutkan bahwa belanja negara akan terus meningkat terutama pada November dan Desember 2026. Sehingga pemerintah perlu mengantisipasi dengan kenaikan penerimaan negara.

“Belanja negara meningkat 19 persen, telah keluar Rp 2,660,5 triliun, sekitar 69 persen dari target APBN. Ini sehat, on track, karena kita lihat biasanya kita lihat tahun lalu saja per 30 September belanja 61 persen. Tahun ini per 30 September kita sudah belanja 69 persen,” tuturnya.

Adapun keseimbangan primer APBN hingga September 2026 mengalami surplus Rp 125,5 triliun, kendati APBN telah didesain dengan keseimbangan primer negatif Rp 89,7 triliun.