Kumparan Logo

Demi Kejar PLTS 100 GW, Bahlil Bakal Pangkas Birokrasi Proses Tender

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan mempermudah pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) dengan memangkas birokrasi dalam proses tender atau lelang.

Bahlil mengungkapkan bahwa dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PT PLN (Persero) berencana menambah kapasitas pembangkit hingga 69,5 GW.

Dari 69,5 GW tersebut, 70 persen merupakan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan PLN juga harus membangun jaringan transmisi hingga 48.000 kilometer dengan nilai investasi hingga Rp 2.700 triliun. Namun, RUPTL tersebut belum mencakup proyek 100 GW PLTS.

"Dan 100 gigawatt PLTS ini dalam hitungan yang dibuat oleh tim saya, itu mencapai kurang lebih sekitar USD 70 sampai dengan 73 miliar. Ini total investasi yang ada. Ini bukan bukan pasar kecil. Ini pasar yang sangat besar," kata Bahlil saat Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9).

Bahlil menuturkan untuk mengakselerasi program PLTS 100 GW tersebut, perlu kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pengusaha, serta memprioritaskan produksi dari dalam negeri.

Petugas merawat panel surya yang terpasang di atap Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) EDSM, Jakarta, Rabu (24/3). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

"Sudah barang tentu kalau dalam negerinya tidak cukup, kita juga akan membuka peluang untuk melakukan impor, tapi betul-betul selektif. Kita tidak ingin pasar dalam negeri diisi oleh produk-produk yang dari luar, kemudian mematikan produk dalam negeri," tutur Bahlil.

Bahlil menekankan program tersebut akan dirampungkan dalam 3 tahun. Pada 2026, sudah ada 5,5 GW yang diluncurkan dan 25-30 GW dalam perencanaan dan proses tendernya sudah berjalan.

Untuk itu, dia meminta PLN segera menginisiasi komunikasi dengan seluruh pemangku kebijakan untuk mewujudkan program tersebut, salah satunya saat proses lelang calon operator.

"Bahkan sekarang saya lagi melakukan penyesuaian aturan bagi perusahaan-perusahaan yang memang kompetitif dan mempunyai kemampuan teknologi yang baik, kita pertimbangkan untuk tendernya tidak perlu terlalu lama-lama," ungkap Bahlil.

"Kita pangkas birokrasinya, kalau memang ekonomis kita tunjuk dia saja. Enggak usah terlalu lama-lama, terputar-putar, terlalu banyak, yang penting bisa saling menguntungkan dan win-win," tambahnya.

Saat ditemui usai acara, Bahlil juga mengungkapkan bahwa akan ada revisi RUPTL untuk mengakomodasi program PLTS 100 GW tersebut, namun masih dalam proses penggodokan.

"Baik, yang pertama, pasti kita akan melakukan penyesuaian revisi RUPTL. Karena tidak mungkin program jalan tanpa ada langkasan aturannya. Jadi RUPTL ini kita sedang akan melakukan penggodokan," jelas Bahlil.