Kumparan Logo

DEN: Nilai Cadangan Nikel-Kobalt RI Capai USD 800 M

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Acara CERAH Expert Panel: Reformasi Pengelolaan Nikel demi Mendorong Pertumbuhan Industri Hijau di Jakarta pada Kamis (27/8/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Acara CERAH Expert Panel: Reformasi Pengelolaan Nikel demi Mendorong Pertumbuhan Industri Hijau di Jakarta pada Kamis (27/8/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkap besaran cadangan nikel dan kobalt Indonesia. Jika divaluasikan, nilainya mencapai USD 800 miliar jika dihitung dengan harga kedua komoditas tersebut di London Metal Exchange (LME) saat ini.

Tim Ahli Pertambangan dan Mineral Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Nataneil Adhynegara menjelaskan angka tersebut berasal dari cadangan nikel sebesar 52 juta ton dan kobalt sebesar 1,2 juta ton.

"Ini kalau kita estimasi nilainya dengan nilai pasar LME saat ini, itu valuasinya untuk cadangan, itu untuk nikel sekitar 700 miliar US dolar, kalau kobalt sekitar 50-an miliar US dollar. Jadi disini bisa dilihat untuk total nikel dan kbalt itu sekitar 800 miliar US dollar," kata Nataneil dalam acara CERAH Expert Panel di Jakarta pada Kamis (27/8).

Adapun angka tersebut merupakan angka cadangan yang artinya adalah jumlah nikel dan kobalt yang ‘mineable’ atau sudah dipastikan dapat ditambang. Maka dari itu, menurutnya penting untuk ada pembahasan mengenai optimalisasi pemanfaatan kekayaan alam Indonesia tersebut.

“Kalau kita convert ke rupiah mungkin sekitar banyak, ya, Rp 15.000 triliun kalau nggak salah, ya. 15.000 triliun itu APBN kita 5 tahun ya. Jadi cukup sangat besar. Makanya ini topik ini sangat penting kita bahas sama-sama agar kita bisa mengoptimasi manfaat dari kekayaan kita,” ujarnya.

Terkait produk turunan nikel, ia juga menjelaskan saat ini Indonesia juga sudah mulai bisa menghasilkan produk seperti nickel pig iron (NPI), baja, serta bahan baku baterai seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) dan mixed sulphide precipitate (MSP). Meski demikian, ke depan ia menarget Indonesia bisa memproduksi barang yang sifatnya lebih hilir lagi.

Ilustrasi Nikel. Foto: EVGEIIA/Shutterstock

“Dan in the future kita berharap bisa lebih hilir lagi yaitu dalam produk baterai, lithium, dan juga kendaraan listrik,” kata Nataneil.

Terkait produksi, ia juga menjelaskan pasca kebijakan hiliriasi, jumlah smelter nikel berkembang pesat di Indonesia. Hal itu utamanya terjadi di Sulawesi. Saat ini, kapasitas smelter nikel Indonesia sendiri sudah mencapai 1,8 juta ton Ni.

Di samping itu, nilai ekspor produk nikel Indonesia juga terus meningkat, bahkan hingga 12 kali lipat sejak 2014 sebesar USD 3 miliar per tahun menjadi USD 37 miliar per tahun pada 2025.

“Bayangkan peningkatannya 12 kali, itu dari sisi nilai. Kalau dari sisi volumenya itu meningkat lebih besar lagi, sampai 19 juta ton di tahun 2025,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan terkait besaran royalti tambang dan smelter. Adapun royalti tambang memang lebih besar. Hal itu menurutnya memang dilakukan agar investasi lebih banyak masuk ke sektor hilirisasi.

"Kalau kita tujuannya untuk mendapatkan nilai royalti yang maksimal, maka kita harusnya pungut royaltinya di tambang agar revenue-nya maksimal. Tapi kita, kan, juga ingin hilirisasi, jadi itulah makanya pemerintah menerapkan tarif royalti itu lebih rendah untuk di smelter karena untuk me-trigger investasi ke hilirisasi. Artinya royalti yang dibayarkan oleh penambang itu lebih besar daripada royalti yang dibayarkan oleh smelter. Jadi kita jangan keliru menganggap bahwa harusnya royalti itu dibayarkan di smelter saja, bukan di tambang," kata Nataneil.