Kumparan Logo

DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Capai USD 50 Miliar hingga Akhir 2026

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan bersama Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto dan Anggota DEN Chatib Basri menyampaikan keterangan usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan bersama Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto dan Anggota DEN Chatib Basri menyampaikan keterangan usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai USD 50 miliar hingga akhir 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 45 persen dibandingkan nilai ekspor pada 2024 yang tercatat sebesar USD 34,5 miliar.

Anggota DEN, Septian Hario Seto, mengungkapkan peningkatan ekspor tersebut tidak hanya ditopang oleh hilirisasi nikel, tetapi juga perkembangan industri aluminium dan komponen baterai litium.

Dalam kajian terbaru DEN, ekspor produk aluminium diperkirakan mencapai USD 7,2 miliar pada 2026. Nilai tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan ekspor pada 2024 yang sebesar USD 3,5 miliar.

“Ke depan kita perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar USD 10 miliar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” kata Seto di Istana Merdeka, Selasa (20/10).

Selain aluminium, DEN menyoroti perkembangan industri komponen baterai litium di Indonesia. Saat ini, Indonesia telah memproduksi sejumlah komponen baterai, seperti anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium (lithium refinery).

Padahal, Indonesia tidak memiliki sumber daya litium sebagai bahan baku utama. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan industri hilir memungkinkan Indonesia memproduksi komponen industri meskipun bahan baku mineral tertentu tidak tersedia di dalam negeri.

“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” katanya.

Di luar sektor hilirisasi, DEN juga menyampaikan terkait kajian kebijakan subsidi energi, khususnya upaya pemerintah menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

Seto menyebut telah mendiskusikan strategi-strategi fiskal yang perlu disiapkan pemerintah agar harga BBM bersubsidi dapat dipertahankan hingga akhir tahun. Pemerintah juga didorong melakukan perbaikan jangka panjang agar subsidi energi semakin tepat sasaran.