Deretan Bandara Sepi yang Dibangun di Era Jokowi, Habiskan Rp 14 Triliun

7 Desember 2021 6:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
Presiden RI Joko Widodo (tengah) meninjau Bandara Internasional Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden RI Joko Widodo (tengah) meninjau Bandara Internasional Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Yogyakarta International Airport atau Bandara YIA, bandara internasional yang sempat disebut Presiden Jokowi sebagai salah satu bandara terbaik di Indonesia, masih sepi. Bandara ini mulai dibangun pada 2018 dan diresmikan langsung oleh Jokowi pada 28 Agustus 2020.
ADVERTISEMENT
Traffic penumpang Bandara Baru Yogyakarta (YIA) sepanjang Januari-November 2021 (11 bulan) tercatat hanya 1,2 juta penumpang. Untuk ukuran bandara baru dengan kapasitas 20 juta penumpang per tahun, traffic penumpang yang tercatat hingga November tersebut memang masih sangat jauh dari kapasitas.
Bandara baru Yogyakarta di Kulon Progo ini disebut-sebut sebagai penyebab membengkaknya utang PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I yang kini mencapai Rp 35 triliun. Beban utang AP I meningkat karena sejumlah bandara baru yang dikelolanya sepi penumpang.
Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan HB X meninjau Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo, DI Yogyakarta, Jumat (28/8). Foto: Biro Pers Kepresidenan
"Memang beban mereka berat sekali, karena banyak bandara baru. Seperti bandara baru Yogyakarta itu di Kulon Progo, itu (biaya pembangunannya) sampai Rp 12 triliun. Dan begitu dibuka langsung kena pandemi," kata Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat dengan DPR, seperti dikutip dari akun Facebook Komisi VI DPR, Minggu (5/12).
ADVERTISEMENT
Tapi YIA bukan satu-satunya bandara baru yang sepi penumpang. Bandara Kertajati dan Jenderal Soedirman yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) juga bernasib serupa.

Bandara Purbalingga

Pada Oktober hingga November lalu, sempat tak ada penerbangan yang singgah di Bandara Jenderal Besar Soedirman, Purbalingga. Dari pengecekan di travel online, tak ada penjualan tiket penerbangan dari atau ke bandara tersebut.
Bandara-nya sendiri memang tetap beroperasi, seperti kata VP Corporate Communication PT Angkasa Pura II (Persero), Yado Yarismano.
"Untuk bandara kami masih beroperasi mas. Untuk maskapai mungkin bisa dikonfirmasi ke teman-teman maskapainya ya," kata Yado kepada kumparan, 24 Oktober 2021 lalu.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (kiri), menyambut pilot maskapai penerbangan Citilink yang mendarat dari Surabaya di Bandara Jenderal Besar Soedirman (JBS), Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (3/6). Foto: Idhad Zakaria/ANTARA FOTO
Sementara merespons tidak dijualnya tiket penerbangan Bandara Purbalingga, Dirut Citilink Indonesia menjawab diplomatis. "Citilink tidak melakukan penyetopan penerbangan ke Purbalingga, izin rute dan jadwal masih berlaku, yaitu setiap Kamis dan Sabtu dari Halim Perdanakusuma maupun Surabaya," ujar Juliandra Nurtjahjo menjawab kumparan.
ADVERTISEMENT
Informasi terbaru, pada 25 November 2021 Citilink baru membuka kembali rute penerbangan Jakarta-Purbalingga dan Surabaya-Purbalingga dengan jadwal 2 kali dalam seminggu.

Bandara Kertajati

Sejak awal pandemi pada Maret 2020, sudah tak ada penerbangan komersial di Bandara Kertajati, Majalengka. Di awal 2021 ini, bandara tersebut mulai melayani penerbangan kargo.
Menurut Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB), Salahudin Rafi, potensi penumpang di Bandara Kertajati sebenarnya cukup besar.
Bandara Kertajati di Majalengka Foto: Shutter Stock
Hanya saja, akses khususnya dari Kota Bandung masih belum terjangkau. Ia merasa permasalahan itu bisa selesai kalau Tol Cisumdawu sudah beroperasi.
"Jadi sambil menunggu Tol Cisumdawu beroperasi yang hari ini sedang dikejar sampai akhir tahun, nanti awal tahun 2022 beroperasi. Itu mempercepat akses dari Kota Bandung ke Kertajati hanya 45 menit lewat tol," tutur Salahudin kepada kumparan, 31 Januari 2021 lalu.
ADVERTISEMENT

Total Anggaran Pembangunan Bandara Purbalingga, Kertajati, dan YIA

Bandara Jenderal Besar Soedirman dibangun dalam beberapa tahap. Pada tahap awal, investasi yang disiapkan Rp 500 miliar untuk membangun terminal penumpang dan runway.
Sedangkan Bandara Kertajati menelan biaya hingga Rp 2,6 triliun. Meskipun telah dibangun dengan dana triliunan, namun tingkat okupansi penerbangannya di bawah 30 persen.
Adapun pembangunan Bandara YIA menelan biaya hampir Rp 12 triliun, tepatnya Rp 11,3 triliun dengan rincian Rp 4,2 triliun untuk pembebasan lahan dan pembangunan fisik sekitar Rp 7,1 triliun.
Jika ditotal, biaya yang dihabiskan untuk pembangunan ketiga bandara ini mencapai sekitar Rp 14,4 triliun.