Deretan Konglomerat yang Makin Kaya Berkat Naiknya Harga Minyak Goreng
ยทwaktu baca 3 menit

Minyak goreng menjadi salah satu bahan pokok yang harganya terus merangkak naik di akhir tahun ini. Pada 29 Oktober lalu, harga minyak goreng sudah mencapai Rp 15.800 per liter. Kini harganya di kisaran Rp 20.000 per liter. Padahal normalnya hanya Rp 12.500 per liter.
Kenaikan ini dipicu oleh meroketnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional. Harga CPO pada Oktober lalu mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.
Dikutip dari Trading Economics, harga CPO sempat menembus 5.000 RM (Ringgit Malaysia) per ton pada 20 Oktober 2021. Sebagai pembanding, rekor sebelumnya adalah RM 4.000 per ton pada 2008 alias 13 tahun lalu. Per 27 Desember 2021, harga CPO masih bertengger di RM 4.643 per ton.
Hal ini tentu sangat menguntungkan para konglomerat yang memiliki usaha di bidang perkebunan kelapa sawit dan industri minyak goreng. Melesatnya harga CPO dan minyak goreng dari sawit berbanding lurus dengan kekayaan mereka.
Berdasarkan penelusuran kumparan dari data RTI dan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), berikut daftar beberapa konglomerat yang makin kaya berkat kenaikan harga minyak goreng:
Salim Group (PT Salim Ivomas Pratama Tbk)
PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) adalah produsen minyak goreng merek Bimoli. Berdasarkan data RTI, pemegang saham pengendali SIMP adalah Indofood Agri Resources (72 persen). Salah satu anggota keluarga Salim, yakni Axton Salim, duduk sebagai Komisaris SIMP.
Laba periode berjalan SIMP pada Kuartal III 2021 mencapai Rp 563,23 miliar, berbanding terbalik dengan Kuartal III 2020 yang rugi Rp 172,57 miliar.
Harga saham SIMP pada Senin (27/12) ditutup di posisi Rp 458. Sedangkan pada Desember 2020, harga saham SIMP masih di bawah Rp 400.
Pemimpin Salim Group, yakni Anthoni Salim, adalah salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Dalam Indonesia's 50 Richest yang diterbitkan Forbes baru-baru ini, Anthoni berada di peringkat 3 dengan kekayaan USD 8,5 miliar atau setara dengan Rp 121,55 triliun.
Sinar Mas Group (PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk)
Minyak goreng merek Filma adalah salah satu produk PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk (SMAR) yang terafiliasi dengan Sinar Mas Group. SMAR meraup laba bersih Rp 1,79 triliun hingga Kuartal III 2021, meroket 735,76 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yakni Rp 214,71 miliar.
Dua anak Eka Tjipta Widjaja, yakni Franky Oesman Widjaja dan Muktar Widjaja, duduk sebagai Komisaris Utama dan Wakil Komisaris Utama di perusahaan ini.
Berdasarkan data RTI, harga saham SMAR per Senin (27/12) berada di posisi Rp 4.400, jauh dibanding pada Desember 2020 yang masih di kisaran Rp 3.300.
Dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia pada 2021 yang diterbitkan Forbes, keluarga Widjaja berada di peringkat 2 dengan kekayaan USD 9,7 miliar atau setara dengan Rp 138,71 triliun.
Wilmar Group (PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk)
PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) yang terafiliasi dengan Wilmar Group adalah produsen minyak goreng merek Sania dan Fortune. CEKA meraup meraup laba bersih Rp 129,57 miliar di Kuartal III 2021. Pada periode yang sama di 2020, laba bersih CEKA sebesar Rp 115,37 miliar.
Berdasarkan data RTI, harga saham CEKA pada Senin (27/12) ditutup di Rp 1.885, menguat dibanding Desember 2020 yang masih di bawah Rp 1.800.
Darwin Indigo, keponakan Martua Sitorus, adalah Komisaris Utama CEKA. Dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, Martua Sitorus berada di peringkat 14 dengan kekayaan sebesar USD 2,85 miliar atau Rp 40,75 triliun.
