Kumparan Logo

Derita Petani Cabai hingga Anggur di Palestina: Hasil Panen Didikte Israel

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Palestina memiliki lahan subur sehingga pertanian menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Antara lain dengan bertanam capai yang hasil panennya melimpah. Foto: Dok. Suara Palestina
zoom-in-whitePerbesar
Palestina memiliki lahan subur sehingga pertanian menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Antara lain dengan bertanam capai yang hasil panennya melimpah. Foto: Dok. Suara Palestina

Mungkin tak pernah terbayangkan jika cabai besar-besar berwarna merah terang seperti foto di atas itu, merupakan salah satu hasil pertanian Palestina. Negara jajahan Israel yang tengah jadi bulan-bulanan serangan militer Israel itu, sejatinya punya lahan subur yang bisa jadi penopang ekonomi.

Di Khan Younis misalnya, wilayah yang berada di tengah jalur Gaza di antara pesisir laut tengah dengan tembok perbatasan Israel, terhampar berhektare-hektare ladang jeruk. Demikian juga di wilayah Jabaliya, yang pernah porak-poranda akibat agresi militer Israel pada 2012 silam, banyak terdapat kebun zaitun yang merupakan produk utama pertanian Palestina.

Aneka buah-buahan serta hasil panen lain dari ladang petani Gaza, bisa didapati di pasar Jabaliya. Ini menjadi tempat para petani menjual langsung hasil usaha mereka, selain menjual ke agen-agen dari Israel, untuk kemudian diekspor atau diolah.

“Saya tak mungkin mengolah sendiri anggur hasil panen sebanyak itu. Israel hanya memasok listrik 6 jam dalam sehari, bahkan kadang cuma 4 jam. Susah mengembangkan usaha pengolahan,” kata Mansour Mahmoud Shamallakh, petani di Gaza kepada Suara Palestina yang meliput untuk kumparan.

Anggur produksi petani Palestina dijual di pasar atau diekspor melalui agen Israel. Foto: Dok. Abdillah Onim/Suara Palestina

Di pasar Jabaliya, juga dijual aneka kebutuhan harian masyarakat. Seperti kain dan pakaian, bahan pangan, dan tentu termasuk buah-buahan dan sayuran produk pertanian warga. Sebagian besar transaksi menggunakan shekel, mata uang Israel. Sebagai negara terjajah, Palestina belum punya mata uang sendiri.

Beberapa mata uang lain yang diterima di sini adalah dinar Yordania atau pound Mesir.

Untuk mempertahankan hidup, masyarakat Palestina melakukan berbagai kegiatan ekonomi dengan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utamanya. Namun mulai dari kegiatan on farm di lahan hingga off farm menyangkut pengolahan dan penjualan hasil kegiatan pertanian, sangat bergantung dan didikte oleh Israel.

Padahal pertanian Palestina menghasilkan sejumlah produk unggulan seperti zaitun, anggur, kurma, jeruk, dan almond. Kalaupun ada kegiatan perdagangan internasional berupa ekspor impor, sebagian besar dilakukan melalui Israel. Alhasil, neraca perdagangan Palestina dengan semua negara mitra utamanya mencatatkan defisit.

Demikian pula dengan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, dalam lima tahun terakhir (2014-2018) perdagangan Indonesia-Palestina mencatat posisi surplus bagi Indonesia.

Profil ekonomi Palestina. (Foto: Sabryna Putri Muviola/kumparan)