Kumparan Logo

Di Depan Kepala Daerah, Jokowi Akui Kemudahan Berbisnis di RI Rendah

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo memberikan Keterangan Pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/2).
 Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo memberikan Keterangan Pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/2). Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan sambutan dalam acara Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Investasi Tahun 2020 yang digelar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis ( 20/2).

Acara yang dihadiri para kepala daerah dan instansi se-Indonesia itu dimanfaatkan Jokowi untuk memaparkan perekonomian di Indonesia. Salah satu yang disoroti berkaitan dengan rendahnya kemudahan berbisnis atau berinvestasi di Indonesia.

Hingga saat ini, kata Jokowi, Indonesia masih berada di urutan ke-73 dalam ease of doing business atau kemudahan berbisnis. Dia pun tak mau Indonesia berada di urutan tersebut.

"Saya ingin berbicara mengenai posisi kita. Kemudahan berusaha EODB di Indonesia, ranking kita di posisi berapa? Sekarang di angka 73. Dulu 2014 di angka 120. Ini sudah meloncat," kata Jokowi.

"Bukan sesuatu yang mudah, biasanya naiknya hanya 2 atau 5. Ini bisa meloncat. Tapi saya enggak mau angka itu," imbuhnya.

Suasanan pelayanan OSS di Kantor BKPM. Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan

Selama ini, Jokowi menyebut, Indonesia masih kalah dengan negara-negara lainnya di ASEAN seperti Malaysia, Singapura hingga Vietnam.

"Posisi kita di ASEAN saja masih di ranking 6. Kita kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Brunei. Kalah semua kita. Kita menangnya hanya dengan Laos, dengan Kamboja, menang," jelasnya.

Untuk itu, dia ingin ada perubahan. Dari perubahan nanti, tak tanggung-tanggung Jokowi memberi target bahwa Indonesia harus berada di urutan ke-40.

Sebelumnya, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menargetkan kemudahan berbisnis di Indonesia berada di urutan ke-50.

"Saya minta di bawah 40. Tadi Pak Bahlil ngomong 50. Enak aja, 50. Di bawah 40 itu baru," jelasnya.