Di Depan Milenial, Bank Indonesia Kisahkan Kembali Krismon 98

Krisis moneter yang sempat mendera Indonesia sudah 20 tahun berlalu. Bank Indonesia (BI) menilai hal tersebut sebagai sebuah pelajaran yang berharga untuk Indonesia dalam mengelola perekonomian ke depan.
Bahkan kejadian pada 1998 tersebut juga harus dipahami oleh generasi milenial. Untuk itu, BI pun menggelar sebuah acara diskusi yang salah satu materinya mengangkat soal krisis moneter (krismon) 98.
Pada acara diskusi yang dihadiri oleh ratusan milenial tersebut, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung menjelaskan, krismon pada rentang 1997-1998 merupakan krisis yang paling buruk sepanjang sejarah Indonesia.
Juda mengisahkan, kondisi yang terjadi saat itu adalah krisis multidimensi. Yaitu krisis yang berasal dari krisis keuangan dan kemudian merambat ke krisis sosial politik.
"Pada akhirnya tahun 98 itu terjadi perubahan yang sangat dramatis," ungkap Juda dalam diskusi dengan milenial, di Audio 8 CGV Mall Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (26/6).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu minus 13 persen. Banyak orang yang jadi pengangguran imbas dari bangkrutnya berbagai perusahaan. Bahkan saat itu, dalam sehari, sebanyak 16 bank terpaksa tutup. Semua karyawannya pun dirumahkan.
Juda mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat itu sangat tidak kondusif karena inflasi yang mencapai 70 persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga anjlok dari kisaran Rp 2.000 menjadi Rp 17.000. Perubahan yang sangat cepat tersebut menyebabkan perekonomian Indonesia terguncang.
Meski demikian, Indonesia berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Agar krisis ekonomi tidak terulang kembali, maka sistem keuangan harus terus dijaga agar tetap stabil. Hal itulah yang selalu diupayakan oleh BI, pemerintah beserta OJK. Hasilnya, saat ini kondisi stabilitas sistem keuangan Indonesia sangat baik dan memiliki daya tahan yang tinggi.
“Jadi berangkat dari situ, intinya gini, menjaga sistem keuangan itu dalam kondisi aman seperti sekarang itu enggak ada orang yang aware karena situasi aman. Kami ingin mengajak semua masyarakat pentingnya menjaga stabilitas keuangan,” tandasnya.
